Berwisata ke Desa Lingga, Menikmati Rumah Adat Batak Usia Ratusan Tahun

Terdapat Rumah Adat Berusia 250 Tahun

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Rumah Adat di Desa Lingga yang ikonik

Sesekali, berwisata merasakan nikmatnya menjelajah lokasi-lokasi bersejarah dengan warisan budaya itu, penting lho! Nah, jika kebetulan Traveler tengah berada di Sumatera Utara, yuk berwisata ke Desa Lingga, desa yang merupakan bagian dari Kabupaten Karo.  Banyak keseruan dan keasyikkan yang bakal dinikmati disini!

Hawa sejuk siap menyapa wisatawan yang datang ke Desa Lingga.  Terletak diatas 1.200 meter diatas permukaan laut, menciptakan udara sekitar selalu dingin.  Dengan pemandangan alam desa yang selalu memanjakan pandangan mata, membuat Traveler yang datang kesini merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama disini.  Suasana yang tercipta pun benar-benar khas Batak Karo.   Masih banyak berdiri beberapa rumah adat yang tetap dirawat dan dijaga kelestariannya.  Hal ini merupakan kerjasama pemerintah dan pengelola kawasan setempat.

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Panorama Alam yang menyejukkan di Desa Lingga

Selain masih menjaga beberapa rumah adat, Desa Lingga juga memiliki benda-benda tradisional peninggalan leluhur lainnya seperti jambur, geriten yaitu tempat penyimpanan kerangka jenazah keluarga atau leluhur sang pemilik, lesung, sapo page (sapo ganjang) dan museum karo.

Desa Lingga yang ditetapkan sebagai Desa Budaya, merupakan perkampungan Karo yang unik dan seru, memiliki rumah-rumah adat yang diperkirakan berumur 250 tahun, namun kondisinya masih tetap kokoh. Hal ini mendapat perhatian dan bantuan dana World Monument Fund, lembaga Internasional yang konsen menjaga pelestarian situs kebudayaan.  Rumah tersebut dihuni oleh 6-8 keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Rumah adat Karo ini tidak memiliki ruangan yang dipisahkan oleh pembatas berupa dinding kayu atau lainnya.

Rumah adat Karo dinamakan siwaluh jabu, waluh artinya delapan, jabu artinya keluarga/ bagian utama rumah/ ruang utama).  Menilik keberadaan rumah adat karo, rumah adat ini mempunyai ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 10 keluarga. Berbentuk rumah panggung dengan tinggi sekitar 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang.  Tiang-tiang ini umumnya berjumlah 16 buah yang terbuat dari kayu ukuran besar. Bawah panggung rumah atau kolong rumah, dimanfaatkan untuk menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak.

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Rumah Adat yang selalu jadi andalan spot berfoto, Photo by @ceb01

Rumah Adat Karo mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur, dimana tiap pintu memiliki serambi yang  dibuat dari bambu-bambu bulat yang disebut ture. Ture ini digunakan sebagai tempat bertenun, mengayam tikar atau melakukan pekerjaan lainnya.  Sementara pada malam hari, ture ini berfungsi sebagai tempat naki-naki, yaitu perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih. Rumah-rumah adat ini tak sekedar menciptakan keindahan semata, namun mengandung makna dan filosofis.  Seperti bentuk pintu yang berukuran kecil.  Hal ini dimaksudkan agar para tamu yang datang ke rumah, wajib menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada si pemilik rumah.

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Tanduk Kerbau yang diletakkan di ujung atap, ciri khas rumah batak

Begitu pula aksen hiasan tanduk atau kepala kerbau di bagian atap rumah, yang sudah menjadi ciri khas rumah adat Karo.  Penempatan hiasan tanduk yang biasanya diletakkan di atas ayo-ayo, yaitu anyaman bambu berbentuk segitiga ini, bukan hanya hiasan begitu saja.  Penempatan tanduk tersebut berfungsi untuk menolak bala.  Sementara itu, keberadaan dapur bagi masyarakat Karo juga mempunyai arti yang mendalam. Terdapat tungku tempat menaruh alat memasak, terdiri atas lima buah batu. Kelima batu ini mengandung makna adanya lima marga dalam suku Karo yang mendiami Lingga, yakni Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Peranginangin.

Selain rumah siwaluh jabu, bangunan-bangunan tradisional Karo yang pernah ada di Desa Lingga adalah kantur-kantur, sapo ganjang, griten, lesung, Museum Lingga. Dahulu kala, keberadaannn   Rumah adat-rumah adat ini menjadi pelengkap dari satu komunitas masyarakat Karo dahulu kala. Seperti juga siwaluh jabu, semua bangunan ini berbentuk rumah panggung.

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Museum Lingga yang menyimpan peninggalan sejarah Tanah Karo

Tidak jauh dari Desa Lingga, tepatnya berjarak sekitar 1,5 kilometer, disana terdapat Uruk, yaitu sebutan untuk makam raja-raja yang pernah berkuasa di wilayah ini lebih dari seabad lalu.   Jika Traveler ingin berkunjung ke sini, perlu disiapkan tenaga ekstra karena akses perjalanan ini cukup melelahkan.  Uruk berada di puncak bukit, sehingga perjalanan ini menempuh jalanan menanjak yang cukup melelahkan.

Dan, begitu sampai di sana, para wisatawan akan disambut sebuah tugu yang dilapisi keramik berwarna putih. Tugu ini merupakan penanda lokasi Uruk. Menurut masyarakat sekitra, di sinilah jasad raja-raja masa lalu disemayamkan, dan salah satunya yaitu Raja Desa Lingga yang bernama Kelelong Sinulingga yang pernah berkuasa antara tahun 1934-1947.

Berwisata ke Desa Lingga, Mengenal Masa Jaya Raja-Raja Batak
Udara dingin menyejukkan, mewarnai Desa Lingga

Desa Lingga berlokasi di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo.  Jaraknya kurang lebih 15 kilometer dari Brastagi dan 5 km dari Kota Kabanjahe ibu kota kabupaten Karo. Selain peninggalan sejarah rumah adat yang berusia ratusan tahun, di desa ini juga terdapat museum Lingga, yang memiliki aneka macam koleksi kerajaan Karo masa lalu.(Adhit)