Ternyata, Bontang punya kampung apung terpencil dengan panorama keindahan pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Namanya Kampung Terapung Tihi-Tihi. Suasananya yang nyaman, damai, tenang dengan surga panorama sunsetnya, membuat destinasi wisata ini menjadi tempat yang tepat untuk melepas segala kepenatan pikiran dan me-refresh lelahnya jiwa…

Unik! Yah, tanah Borneo menyimpan banyak rahasia alam yang unik dan mengagumkan. Salah satunya perkampungan yang unik dan sangat menarik. Letaknya cukup terpencil dan berdiri di atas laut, namun kampung ini menghadirkan banyak keseruan. Pengunjung akan terpesona dengan keindahan bawah lautnya, panorama sunsetnya yang menghipnotis serta suasana malam yang begitu menakjubkan dipenuhi dengan bintang-bintang yang membuat siapapun jatuh cinta pada tempat ini.
Seperti Kampung Apung Tihi – Tihi yang terletak di Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Kalimantan Timur. Salah satu kampung terapung di Bontang ini sangat kecil dengan luas hanya 27 hektar dan jumlah penduduk sekitar 280 jiwa.

Namun, meskipun kampung ini tidak begitu luas, Kampung Apung Tihi-Tihi selalu menghadirkan suasana yang tenang, damai serta jauh dari hiruk pikuk suasanan perkotaan, menjadikan Kampung Apung Tihi – Tihi sebagai desa wisata tersembunyi yang tenang dan damai yang dapat melepaskan penat.
Selain itu, Kampung Tihi-Tihi juga menawarkan panorama bawah lautnya nan asri, khas pesisir Kalimantan. Beragam keindahan terumbu karang dan aneka ikan-ikannya yang cantik serta kejernihan air yang terus dikembangkan, dipadukan dengan aktivitas budidaya rumput laut yang unik, menciptakan destinasi wisata yang sangat mengasyikkan.
Yah, di Kampung Tihi-Tihi wisatawan mendapatkan pengalaman snorkeling, wisata edukasi nelayan, dan kuliner laut langsung di atas rumah apung.
Sejarah Kampung Terapung
Berjarak kurang lebih tiga jam dari Kota Samarinda, Bontang yang merupakan sebuah kota yang diapit oleh Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara serta berbatasan langsung dengan Selat Makassar di ujung timur, memiliki banyak pulau-pulau kecil.

Di tengah kemajuannya sebagai kota terkaya, Bontang memiliki kisah unik di perbatasannya dengan Selat Makassar. Kisah ini bermula dari para pendatang yang berlayar melintasi Selat Makassar yang kemudian mendirikan sebuah kampung-kampung kecil di perjalanannya menuju Bontang.
Diawali pada tahun 1951, tiga nelayan berasal dari Sulawesi Barat melintasi Selat Makassar. Ketiga nelayan tersebut berhenti di perairan Bontang untuk memancing. Tiba-tiba mereka melihat di bawah laut hewan yang mirip bulu babi. Penemuan ini mereka anggap sebuah keberuntungan. Sejak itulah muncul nama Tihi – Tihi yang dalam Bahasa Mamuju berarti keberuntungan.

Semula kawasan ini hanya dihuni beberapa rumah panggung di atas laut, namun lama kelamaan kawasan ini semakin berkembang dan semakin banyak warga yang tinggal disini hingga menjadi sebuah kampung apung. Dan pada tahun 2000, Kampung Tihi-Tihi diresmikan menjadi sebuah kampung apung dengan dibentuknya RT oleh Walikota Bontang Andi Sofyan.
Selain Kampung Tihi-Tihi yang mengapung di Selat Makassar, saat ini Bontang memiliki tiga kampung terapung lainnya yaitu Kampung Malahing, Kampung Selambai dan Kampung Selangan. Dari ke-empat kampung terapung yang menjadi wisata unik dan mengesankan Kota Bontang, hanya Kampung Tihi-Tihi yang memiliki satu jalan utama yang terbuat dari kayu dengan panjang satu kilometer.
Warga lokal Kampung Tihi-Tihi rata-rata memiliki mata pencaharian nelayan. Namun, disini bukan hanya nelayan yang menangkap ikan saja, selain ada tambak ikan, mereka juga mengembangbiakan rumput laut. Tak heran kampung ini juga juga dijuluki Kampung Rumput Laut. Wisatawan yang datang ke Kampung Tihi-Tihi dapat menyaksikan langsung proses penanaman hingga pemanenan rumput laut yang dilakukan oleh para nelayan.

Untuk mencapai lokasi Kampung Tihi-Tihi, dari Kota Bontang wisatawan harus menyewa kapal di Pelabuhan Tanjung Laut. Perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Laut menuju Kampung Tihi-Tihi akan memakan waktu sekitar 40 menit.
Bontang dapat ditempuh melalui beberapa jalur darat. Jika dari Balikpapan akan memakan waktu sekitar 5 jam dan jika dari Samarinda memakan waktu sekitar 3 jam. Sementara, jika berangkat dari Ibukota Nusantara (IKN), akan memakan waktu sekitar 6 jam.
Di Kampung Tihi-Tihi telah tersedia guest house, penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam di sini. Juga banyak tersedia warung yang menjual aneka makanan, termasuk makanan khas dari hasil laut Kampung Tihi-Tihi.(*)

