Kisah Klasik Jembatan Ampera

Penerima Penghargaan PVK Award 2020 Kategori Destinasi Wisata Indonesia Terfavorit

Jembatan Ampera
Megah dan Indah Jembatan Ampera di Malam hari, Photo by @kinganddream

Siapa yang tak kenal Jembatan Ampera, salah satu ikonik Kota Palembang yang tersohor sampai ke mancanegara.  Jembatan Ampera yang terletak tepat berada di tengah Kota Palembang ini menghubungkan antara kawasan sungai Musi, daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.  Keindahan serta tersohornya Jembatan Ampera ini, membuat jembatan ini meraih Penghargaan PVK Award 2020 untuk kategori Destinasi Wisata Indonesia Terfavorit.  Terpilihnya jembatan yang sudah tiga kali mengalami perubahan warna ini didapat dari hasil polling jajak pendapat yang disebar PVK Group sejak awal November 2020 sampai tanggal 12 Desember 2020.  Dan secara simbolis melalui tayangan zoom, pemberian penghargaan ini diterima oleh Bapak Ir. Kemas Isnaini Madani, M.sc., selalu Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, pada Minggu 12 Desember 2020 lalu.

Jembatan Ampera
Destinasi Wisata Indonesia Terfavorit, Photo by @IG

Merupakan simbol kota yang menjadi kebanggaan masyarakat Palembang, Jembatan Ampera memiliki banyak cerita klasik yang mungkin kaum milenial saat ini sudah mulai jarang mengetahuinya.  Sejarah cikal bakal jembatan berwarna merah ini berdiri.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat yang tinggal di daerah seberang hulu dan hilir yang dipisahkan Sungai Musi meminta Presiden Soekarno untuk bisa mengatasi solusi transportasi di wilayah Sungai Musi ini.  Keinginan ini pun dikabulkan Soekarno dengan membuat jembatan.  Dan atas prakarsa Soekarno, tahun 1962 jembatan ini dibangun dengan bantuan tenaga ahli dari Jepang.  Biaya pembangunan jembatan ini diambil dari hasil perampasan saat perang Jepang senilai 2,5 Milyar Yen.

Sebelumnya, ide untuk membangun jembatan yang bisa menghubungkan dua daratan di atas Sungai Musi, telah muncul sejak tahun 1906 pada zaman Gemeente Palembang. Pada tahun 1924, ide tersebut muncul lagi ketika Le Cocq de Ville menjabat sebagai Wali Kota Palembang. Namun ternyata masih belum terealisasi hingga masuk masa kemerdekaan, saat DPRD Peralihan Kota Besar Palembang melalui sidang pleno pada tanggal 29 Oktober 1956, kembali mengajukan untuk mendirikan jembatan.

Jembatan Ampera
Warna Merahnya Sangat Mencolok, Terlihat Dari Jauh

Pembangunan jembatan pun akhirnya disetuju dengan modal awal pembangunan berasal dari anggaran Kota Palembang senilai Rp30.000.   Lalu pada tahun 1957 dibentuklah panitia pembangunan jembatan yang beranggotakan Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya Harun Sohar dan Gubernur Sumatera Selatan H.A. Bastari. Lalu M. Ali Amin yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Palembang bersama Wakil Wali Kota, Indra Caya, meminta bantuan Presiden Sukarno. Yang akhirnya kucuran dana dari bantuan pemerintah Jepang memuluskan pembangunan jembatan hingga rampung tuntas.

Jembatan ini pun rampung pada tahun 1965 dan diresmikan pada tanggal 30 September 1965 oleh Letnan Jenderal Ahmad Yani.  Saat itu nama jembatan ini Jembatan Bung Karno.  Peresmian yang dilakukan Ahmad Yani ini menjadi agenda kenegaraan terakhirnya sebelum tragedi pembantaian G30S/PKI pada 1 Oktober dini hari.  Akibat kejadian ini, situasi politik pun menjadi anti Soekarno hingga akhirnya masyarakat Palembang mengganti nama jembatan ini menjadi Jembatan Ampera, singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat.

Jembatan Ampera memiliki panjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter serta tinggi jembatan 11,5 meter di atas permukaan air, sedangkan tinggi menara mencapai 63 meter dari tanah, sementara menaranya memiliki rentang 75 meter dengan massa mencapai 944 ton.  Jembatan Ampera masuk dalam kategori jembatan terpanjang se-Asia Tenggara di era 1960-an.

Jembatan Ampera
Tiga Kali Penggantian Warna, Photo by iamfernandoreza

Model jembatan ini sangat unik. Pada bagian tengah jembatan dapat terangkat, naik turun, karena adanya bandul pemberat seberat 500 ton di kedua sisinya.  Dengan memiliki kecepatan naik 10 meter permenit, membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mengangkat jembatan secara penuh. Kemampuan mengangkat badan jembatan diperkirakan bertahan hingga sepuluh tahun sejak dibangun. Fungsi tersebut untuk memudahkan transportasi kapal pengangkut barang, dengan ukuran besar yang kerap melewati Sungai Musi.  Namun sejak tahun 1970-an, naik turun jembatan dihentikan. Disebabkan terlalu banyak makan waktu saat proses bagian tengah jembatan naik-turun, hal ini terbilang cukup lama dan mengganggu arus lalu lintas darat.   Dan pada tahun 1990, bandul pemberatnya diturunkan guna menghindari jatuh yang dapat membahayakan pengguna jembatan.

Saat ini, Jembatan Ampera menjadi lambang dan kebanggaan Palembang.  Dengan warna terang merah menyala, keberadaan jembatan ini langsung menyita perhatian.  Warna merah ini merupakan warna ketiga setelah sebelumnya jembatan ini mengalami perubahan warna sebanyak dua kali.  Ketika pertama kali berdiri, jembatan ini berwarna abu-abu, lalu pada tahun 1992 dicat ulang dengan menggunakan warna kuning. Dan tahun 2002 diganti lagi warnanya dengan warna merah.  Sampai saat ini, warna merah menyala ini masih bertahan.

Jembatan Ampera pernah mengalami renovasi pada tahun 1981 akibat sering mengalami benturan dengan kapal pembawa batu bara.  Jika terjadi tabrakan terus-menerus maka dikhawatirkan jembatan bisa ambruk, makanya harus segera di renovasi. Renovasi tersebut menghabiskan dana sekitar 850 juta rupiah.

Jembatan Ampera
Ketika ‘naik turun’ masih dijalankan, Photo by flickr

Dan saat ini, ikonik Kota Palembang ini selain menjadi penghubung kawasan hulu dan hilir, jembatan ini juga membantu kelancaran transportasi. Warga Palembang pun sangat membanggakan keberadaan jembatan ini. Pada masa orde baru dibawah kepemimpinan walikota Eddy Santana Putra, Jembatan Ampera pernah dihias sedemikian rupa. Berbagai ornamen digunakan untuk menghias jembatan, mulai dari lampu, pewarnaan dan lainnya. Hingga akhirnya Jembatan Ampera benar-benar makin terkenal keberadaannya.  Jembatan Ampera pun sering dijadikan tempat diadakannya perhelatan event besar.

Sayangnya, pada tahun 1997, terjadi kericuhan yang menyebabkan berbagai ornamen penghias dan lampu lenyap dicuri. Sejak saat itu, Jembatan Ampera tidak lagi dihiasi dengan ornamen atau pencahayaan yang mahal.   Namun pelestarian tempat ini tetap dijaga dan akhirnya diganti warna dan memperbaiki bagian jalan saja.

Semakin eksis keberadaan Jembatan Ampera saat ini, dan semakin ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru.  Selamat kepada Kota Palembang sebagai penerima PVK Award 2020 atas terpilihnya Jembatan Ampera sebagai Destinasi Wisata Indonesia Terfavorit 2020!(Niel)