Melihat Budaya Pulau Bali Bagian Timur

Tenganan merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki arti bahwa masyarakat desa tersebut memiliki pedoman pada peraturan dan adat istiadat peninggalan leluhur.

photo by balijungletrekking

Tenganan merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki arti bahwa masyarakat desa tersebut memiliki pedoman pada peraturan dan adat istiadat peninggalan leluhur. Bentuk balai pertemuan, rumah dan pura yang dibangun masih terjaga karena desa ini mempertahankan budaya dan adat istiadat secara turun-temurun. Bentuk dari rumah dan bahan yang digunakan, rata-rata sama antar rumah satu dengan yang lainnya.

Selain bentuk rumah dan bangunannya yang masih tradisional, traveler juga dapat melihat aktivitas warga desa sehari-hari serta dapat berbelanja kerajinan tangan dari warga desa yang khas dan unik. Kerajinan tangan itu cukup bervariasi, mulai dari anyaman bambu, lukisan tangan, ukiran dan terdapat Kain Tenun Gringsing yang cukup terkenal dikalangan Mancanegara.

photo by wego.co.id

Keunikan pada Kain Gringsing terletak pada cara pembuatannya yang menggunakan alat tenun atau tidak menggunakan mesin. Tidak hanya itu, teknik yang digunakan juga cukup khas yaitu tenun ikat ganda atau dobel ikat. Teknik ini membutuhkan keahlian dan waktu yang cukup lama untuk membuat satu helai kain tenun atau Kain Gringsing ini. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu helai Kain Tenun ini kurang lebih 2,5 hingga 5 tahun tergantung pada tingkat kesulitan yang dimiliki kain. Teknik yang digunakan di Desa Tenganan ini merupakan satu-satunya teknik di Indonesia. Jadi tidak heran jika Kain Gringsing dibanderol dengan harga yang cukup mahal.

Harga yang ditawarkan bisa mencapai ratusan juta rupiah lho! Bagi warga Desa Tenganan kain ini memiliki arti menjauhkan seseorang dari penyakit atau menangkal pengaruh negatif. Kain ini juga digunakan oleh warga Desa Tenganan untuk berbagai upacara keagamaan dan upacara adat. Traveler dapat menemukan Kain Gringsing di dalam Desa Tenganan dan art shop yang terletak di pintu masuk menuju desa ini.

Untuk membuat hasil kerajinan ini, warga Desa Tenganan masih menggunakan cara tradisional yang diwariskan oleh leluhur mereka. Selain itu, Desa ini juga memiliki tradisi adat yang masih tetap diterapkan dan diyaniki sampai sekarang. Salah satu tradisi adat yang cukup dinantikan wisatawan adalah Perang Pandan.

photo by kintamani.id

Tradisi Perang Pandan atau Mekare-kare (Megeret Pandan) diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Tradisi Perang Pandan dilakukan oleh pemuda warga desa dengan cara saling menyerang menggunakan daun pandan yang berduri dan tameng berupa anyaman dari rotan. Luka pada punggung akibat sayatan dari daun pandan akan diberi obat tradisional dari bahan umbi-umbian.

Tradisi ini dilakukan untuk melatih mental dan fisik warga desa. Mekare-kare sendiri merupakan puncak dari prosesi upacara adat Desa Tenganan Pegringsingan atau biasa disebut Usaba Sambah oleh masyarakat lokal.Tradisi Perang Pandan dilakukan dengan diiringi musik Gamelan Seloding yang merupakan alat musik khusus dimainkan saat acara tertentu saja dan orang yang memainkannya harus disucikan terlebih dahulu.

Desa Tenganan merupakan salah satu desa tradisional yang berada di bagian Timur Pulau Bali, lebih tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Letaknya cukup jauh dari Kota Denpasar yakni sekitar 70 km, dengan waktu perjalanan kurang lebih 2 jam. Harga tiket masuk ke desa ini dikenakan donasi sebesar kurang lebih Rp10.000/orang dan biaya parkir sekitar Rp5.000/mobil.(DT)