Mengenal Historis Stasiun Tawang Semarang Yang Unik

Stasiun ini punya lokasi yang sangat strategis, di sebelah utara kawasan Kota Lama Semarang yang pada saat itu mejadi pusat perdagangan di Semarang.

photo by kekunaan blogspot
photo by kekunaan blogspot

Hadir dengan arsitektur khas neo Belanda, Stasiun Tawang sendiri merupakan pengganti dari Stasiun Tambak Sari. Dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer, stasiun ini punya lokasi yang sangat strategis, di sebelah utara kawasan Kota Lama Semarang yang pada saat itu mejadi pusat perdagangan di Semarang.

Kehadiran Stasiun Tawang di era penjajahan Belanda memang bukan tanpa alasan. Karena, Jenderal Belanda kala itu, Mr L.A. J Baron menginisiasi pembangunan jalur kereta api lintas Tanggung-Kemijen, yang berhasil dirampungkan pada 10 Agustus 1867. Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang ditunjuk untuk mengerjakan proyek rel maupun Stasiun Tawang.

Pembangunan Stasiun Tawang awalnya untuk memudahkan aktivitas perkebunan gula yang ada wilayah Vorstenlanden. Perkebunan gula ini memberi pemasukan berlebih untuk NISM yang langsung dibawah kendali kolonial Belanda saat itu. Namun, karena permintaan untuk angkutan umum meningkat drastis dan kegiatan administrasi kantor pusat NISM di stasiun makin ramai, Stasiun Tawang pun diubah fungsi menjadi stasiun kota oleh Pemerintah Belanda.

photo by busy.org

Bangunan stasiun didirikan menggunakan konstruksi beton bertulang. Bentuk bangunan stasiun memanjang sekitar 168/175 meter, terdiri atas bagian utama di tengah sebagai vocal point yang dibuat lebih tinggi. Bangunan utama tersebut memiliki kubah besar berbentuk persegi yang atapnya ditutup dengan lapisan tembaga. Di dalam bangunan utama stasiun merupakan hall dengan langit-langit tinggi yang di sangga oleh empat kolom utama, sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo, rumah adat khas Jawa.

Saat masa kemerdekaan, Stasiun Tawang setidaknya pernah menyelenggarakan perjalanan kereta api luar biasa (KLB) sebanyak dua kali. Pertama ialah pada saat para pemuda dan pekerja kereta api di Semarang Tawang, melakukan perjalanan jurusan Bandung untuk pertama kalinya. Perjalanan pada 10 September 1945 itu, untuk membuktikan kepada para pimpinan Indonesia di kantor pusat Bandung bahwa perkeretaapian di seluruh Jawa Tengah sudah berhasil dikuasai Indonesia.

KLB kedua terjadi pada akhir bulan Oktober 1945, yaitu kedatangan Presiden Soekarno disertai Sekneg Gafar Pringgodigdo di Stasiun Tawang untuk perundingan gencatan ‘Pertempuran Lima Hari Semarang’ pada peristiwa pertempuran itu sendiri, awak Stasiun Tawang sigap membantu mengungsikan 15 lokomotif kiriman dari Stasiun Poncol untuk diteruskan menuju Kedungjati.

Banyak keunikan yang bisa traveler temukan di Stasiun Tawang. Selain arsitektur dan dekorasi ala Belanda yang masih khas, Stasiun Semarang Tawang menggunakan melodi bel pertanda datang-perginya KA selalu menggunakan lagu tradisional khas daerah Semarang yang berjudul “Gambang Semarang”.

Jangan lupa eksplor Stasiun Tawang, ya!(DT)