Mengenal Tradisi Upacara Ritual Ma’Nene di Toraja

Ritual unik dan misterius ini merupakan kegiatan membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal dunia ratusan tahun lalu.

photo by wikipedia

Salah satu destinasi yang bisa traveler kunjungi untuk melihat keberagaman budaya Indonesia adalah Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Tana Toraja dikenal memiliki warisan budaya yang kaya dengan keunikan tersendiri. Salah satu tradisi yang paling unik di Tana Toraja adalah Ma’Nene. Ritual unik dan misterius ini merupakan kegiatan membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Walaupun saat ini ritual tersebut sudah jarang dilakukan, beberapa daerah, seperti Desa Pangala dan Baruppu masih rutin melaksanakan ritual tersebut setiap tahunnya.

Upacara ritual yang dilaksanakan setiap bulan Agustus ini diartikan sebagai penguasa kekerabatan di antara mereka. Bahkan, ritual Ma’Nene sudah menjadi aturan standar tak tertulis yang selalu dipatuhi oleh setiap warga negara. Prosesi ritual adat ini diawali dengan berkunjungnya anggota keluarga ke pemakaman leluhur yang dinamakan Patane. Kemudian para anggota keluarga mengambil jasad anggota keluarga yang tersimpan selama ratusan tahun. Selanjutnya, setelah dikeluarkan dari kuburan, jasad tersebut dibersihkan. Lalu, pakaian yang digunakan jasad tersebut digantikan dengan menggunakan kain atau pakaian baru.

photo by kemendikbud

Untuk jasad pria akan dikenakan pakaian yang rapi, lengkap mulai dari jas sampai kacamata. Sedangkan, untuk jasad wanita akan dikenakan gaun pengantin. Setelah pakaian baru terpasang, jasad tersebut dibungkus dan dimasukkan kembali ke Patane. Kemudian prosesi adat ditutup dengan Sisemba. Sisemba merupakan momen silaturahmi antar keluarga di wilayah tersebut, yang dilakukan dengan makan bersama. Makanan yang dihidangkan pun tak boleh sembarangan disajikan, karena harus berasal dari sumbangan setiap keluarga leluhur. Biasanya ritual Ma’Nene dilakukan serentak dengan anggota keluarga atau bahkan satu desa. Dalam penyelenggaraannya, Ma’Nene digelar tiga tahun sekali. Hal tersebut bertujuan agar sanak saudara yang merantau dapat berkunjung dan menjalani ritual adat.

Ritual ini memiliki makna lebih, yakni mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi sanak saudara yang telah terlebih dahulu meninggal dunia. Sejarah ritual Ma’Nene dimulai saat seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek yang hidup di ratusan tahun lalu. Saat itu, ia sedang berburu ke hutan Pegunungan Balla.(DT)