Mengenal Wolotopo, Desa Adat di Flores

Rumah-rumah adat yang dibangun atau disusun dari bebatuan yang berdiri kokoh sampai sekarang.

Photo by de_ova131

Bertemu dan berkenalan dengan banyak orang rasanya hal yang menyenangkan. Kali ini tim redaksi indonesiatraveler akan mengajak traveler untuk mengenal Desa Wolotopo. Wolotopo merupakan desa adat yang berada di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari pusat Ende berjarak 12 km dan memakan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit. Selama perjalanan berlangsung, traveler akan melihat Pantai Nanganesa dengan panoramanya yang indah dan juga megahnya gunung-gunung yang selalu memanjakan pandangan mata dalam perjalanan ini.

Photo by de_ova131

Sesampainya di lokasi, traveler akan disambut anak-anak kecil dan beberapa warga lain dengan senyuman manisnya serta keramahannya. Wolotopo merupakan salah satu kampung megalitikum yang masih tersisa di Ende. Disebut megalitikum karena kampung ini dibangun dari batu-batu besar dan berada di atas bukit.

Di sini traveler akan melihat rumah-rumah adat yang dibangun atau disusun dari bebatuan yang berdiri kokoh sampai sekarang. Masyarakat adat Wolotopo sangat serius dalam hal seni dan kerajinan lainnya. Selain itu, terdapat juga rumah seperti rumah panggung. Rumah panggung tersebut berukuran pendek dan ditopang kayu atau batu yang berbentuk lonjong. Atap rumah panggung tersebut ada yang sudah menggunakan seng, ada pula yang masih menggunakan rumbia. Di halamannya terdapat tumpukan batu atau menhir yang seakan mengelilinginya.

Photo by ntt1958

Beberapa rumah adat di sini ada sanggup kekuatannya bertahan hingga 7 generasi. Walaupun sudah termakan waktu dan mengalami peruhahan jaman, rumah adat tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang. Menurut masyarakat adat Wolotopo, jaman dulu di sini terdapat 4 rumah adat besar atau dalam bahasa adatnya, Ikal Sao Ria. Diantara 4 rumah itu adalah Sao Ata Laki, Sao Tarobo, Sao Taringgi, dan Sao Sue. Namun, sekarang hanya tersisa 2, yaitu Sao Sue dan Sao Ata Laki.

Rumah adat Walotopo bisa disebut sebagai Sao Ria Tenda Bewa. Rumah itu bisa dihuni 6 kepala keluarga. Sangat besar dan luas, di dalamnya terdapat sekitar 6 dapur dan juga tungku-tungku, serta benda-benda tradisional lainnya. Selain itu di Wolotopo juga terdapat sebuah makam megalitikum atau batu. Makam tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir leluhur-leluhur masyarakat adat Wolotopo.

Photo by dgoreinnamah

Menurut tetua adat, jika traveler tersandung ketika keluar atau masuk rumah di bagian pintu masuknya, itu berarti ada teguran dari leluhur. Dan biasanya ketika itu terjadi, maka akan diadakan upacara-upacara kecil sebagai bentuk permintaan maaf kepada leluhur. Di sini traveler akan menikmati semilir angin dan melihat panorama yang cantik, yaitu kemegahan gunung serta pantai-pantai dengan airnya yang memanjakan mata.

Keramahan dan kehangatan yang diberikan masyarakat adat Desa Wolotopo akan membuat traveler merindukan tempat ini dan membuat tidak ingin beranjak pergi dari Wolotopo. (AS/IPG)