Danau Sentarum menawarkan pengalaman unik dengan menyaksikan danau musiman yang berhiaskan pemandangan eksotis, mengamati arwana merah serta menjelajahi budaya masyarakat tradisional. Kawasan ini juga menjadi laboratorium alam untuk penelitian ekosistem lahan basah tropis dan migrasi fauna.
Danau Sentarum berada dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, yaitu kawasan konservasi lahan basah terbesar di Indonesia. Terletak di jantung Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat – dekat dengan perbatasan Malaysia, Danau Sentarum memiliki luas sekitar 127.393 hektar.

Ini bukan danau biasa. Kawasan ini memiliki daya tarik sebuah ‘keajaiban musiman’ yang menawarkan pemandangan surialis yang belum tentu dapat ditemukan dibelahan wilayah lainnya.
Dipenuhi pohon-pohon tua yang hijau dan teduh serta dikelilingi pegunungan, seperti Gunung Panggurdulung, Gunung Meliau, hingga Gunung Peninjauan menjadikan panorama alam sekitar Danau Sentarum semakin mempesona.
Dikelilingi bukit dan dataran tinggi, Danau Sentarum menjadi rumah bagi ekosistem unik danau musiman yang langka di dunia. Bayangkan, dalam setahun danau ini akan digenangi air yang membentuk danau raksasa selama 10 bulan dengan kedalaman mencapai 14 meter.
Namun, begitu musim kemarau tiba, kondisi Danau Sentarum berubah drastis menjadi padang rumput hijau yang luas. Airnya surut total hingga 80% sehingga wilayah danau banyak yang mengering dan hanya membentuk kolam-kolam kecil. Biasanya hal ini berlangsung pada bulan Juli – Agustus. Jika ingin melihat danau yang penuh air, disarankan datang pada bulan Oktober hingga Juni.

Kondisi dua musim ini memang unik. Saat air pasang, Danau Sentarum menjadi labirin air yang eksotis. Pengunjung dapat menyusuri jalur-jalur air di antara pepohonan yang setengah tenggelam dengan menggunakan perahu tradisional kandong. Melukiskan panorama alam nan cantik. Dengan pantulan langit di permukaan air yang tenang, menciptakan efek cermin sempurna yang sangat memukau bagi para fotografer.
Danau Sentarum memiliki keanekaragaman hayati. Kawasan ini menjadi rumah berbagai satwa dan flora. Terdapat sebanyak 675 spesies tumbuhan, 265 jenis ikan air tawar, dan 147 mamalia endemik. Juga ada 154 spesies anggrek langka yang tumbuh di tujuh tipe hutan berbeda.
Dengan kondisi unik ini, kawasan ini pun menciptakan habitat berbeda untuk flora dan fauna endemik yang beradaptasi, seperti Arwana Super Red (Scleropages formosus), serta ekosistem rawa langka lainnya.

Saat musim kemarau, Danau Sentarum beroperasi sebagai sistem hidrologi raksasa yang memasok air ke Sungai Kapuas. Area ini diakui sebagai situs Ramsar (kawasan lahan basah internasional yang penting) dan bagian dari Kapuas Hulu Biosphere Reserve (menjadi habitat Arwana Super Red, lebih dari 300 spesies burung, serta ikan air tawar seperti ikan tapah, jelawat, dan belantau).
Selain itu, Danau Sentarum adalah penghasil madu hutan organik terbaik di Indonesia. Lebah-lebah di sini bersarang di dahan pohon tewayang. Mengunjungi tempat ini, pengunjung mendapat kesempatan untuk melihat langsung proses pemanenan madu secara tradisional, yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang sangat menjaga kelestarian alam.
Selain menikmati alam Danau Sentarum, pengunjung juga akan melihat kehidupan masyarakat suku Dayak Iban yang tinggal di Rumah Betang, atau masyarakat Melayu di rumah rakit terapung (lanting). Keramahtamahan mereka dan cara hidup yang harmonis dengan alam memberikan pengalaman spiritual tersendiri.

Danau Sentarum sangat luas sehingga secara administratif masuk ke 7 kecamatan, yakni Kecamatan Batang Lupar, Kecamatan Jongkong, Kecamatan Selimbau, Kecamatan Nanga Kantuk, Kecamatan Bunut, Kecamatan Suhaid, dan Kecamatan Badau.
Untuk mencapai lokasi Danau Sentarum, pengunjung dapat memilih beberapa titik. Melalui sisi timur laut danau yaitu lewat Desa Lanjak Deras, Kecamatan Batang Lupar, atau dapat juga melalui beberapa desa di Kecamatan Selimbau atau Semitau yang berada di selatan hingga barat daya Danau Sentarum.
Jika dari Pontianak, pengunjung dapat menggunakan jalur darat yang membutuhkan waktu sekitar 11 jam untuk sampai di Desa Lanjak Deras. Jika titik keberangkatan dari Sintang, dapat ke Semitau dengan menggunakan perahu motor dan memakan waktu sekitar 7 jam.

Sementara itu untuk memangkas waktu lebih hemat, dapat menggunakan jalur udara dengan naik pesawat rute Pontianak-Putussibau yang memakan waktu sekitar 1 jam. Perjalanan selanjutnya menggunakan longboat ke Nanga Suhaid sekitar 6 jam, atau perjalanan darat menuju Lanjak Deras sekitar 2 jam.
Danau Sentarum bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah simfoni alam yang mengajarkan tentang adaptasi dan harmoni. Menapakkan kaki di Kapuas Hulu dan membiarkan diri ‘tersesat’ di labirin air Sentarum, merupakan cara terbaik untuk memulihkan jiwa dari kebisingan kota. Jadi, siap untuk menyaksikan sendiri keajaiban danau yang bisa menghilang ini?(*)

