Menjelajahi Rumah Si Pitung, Jagoan Betawi yang Fenomenal

Rumah Si Pitung ini berdiri kokoh diatas 40 tiang

Menjelajahi Rumah Si Pitung, Jagoan Betawi yang Fenomenal
Rumah SI Pitung setelah beberapa kali direnovasi

Masih ingat jagoan Betawi yang fenomenal dan sangat legend bak Robin Hood?  Yah, dialah Si Pitung, Robin Hood ala Betawi zaman kolonial, yang menjadi kebanggaan masyarakat Betawi.  Saat ini, untuk mengenang keberadaan Si Pitung, Pemerintah DKI Jakarta menjaga dan melestarikan sebuah rumah yang di sebut sebagai Rumah Si Pitung.  Rumah yang terletak di Jalan Marunda Pulo No.1, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara ini, sudah beberapa kali mengalami renovasi.

Di bangun pada tahun 1860, gaya desain Rumah Si Pitung sangat khas, seperti rumah adat Bugis yaitu rumah panggung kayu. Dengan berpelitur merah kecokelatan, Rumah Si Pitung ini berdiri kokoh diatas 40 tiang.

Konon, rumah Si Pitung ini merupakan satu-satunya situs jejak sejarah Si Pitung yang masih terekam dan dilestarikan.  Meskipun rumah ini sebenarnya bukan tempat tinggal Si Pitung, hanya tempat singgahnya beberapa kali saja dan pernah tinggal hanya beberapa saat saja, namun ‘nafas’ rumah ini terasa mencerminkan bagian dari Si Pitung.  Padahal rumah ini sebenarnya miliki H. Safrudin, seorang juragan tambak udang di daerah Marunda.

Menjelajahi Rumah Si Pitung, Jagoan Betawi yang Fenomenal
Model bangunan lama tetap dipertahankan

Rumah Si Pitung ini dipugar pertama kali pada tahun 1972 oleh Pemerintah DKI Jakarta setelah rumah ini dibeli oleh Pemprov DKI Jakarta dari keturunan H. Saipudin.  Lalu bangunan ini dijadikan museum dan masuk dalam cagar budaya berdasarkan SK Gubernur No.475 tahun 1993 dan SK Menteri No.140/M/1998.

Lalu pada tahun 2010, kembali Rumah Si Pitung direnovasi dengan meninggikan bangunan setinggi 4 meter, guna menghindari air laut pasang.  Lantai aslinya yang tadinya terbuat dari bilah-bilah bambu diganti dengan kayu.  Lalu, dua tahun kemudian kembali lagi direnovasi, namun renovasi kali ini hanya dilakukan pada bangunan sekitar museum, seperti halaman serta gerbang dan pagar yang mengelilingi rumah Si Pitung.

Renovasi memang dilakukan beberapa kali, namun model asli bangunan rumah tetap dipertahankan. Di dalam rumah terdapat ruang tamu berukuran sekitar 2 x 2,5 meter, juga ada kamar tidur beserta kasurnya, ruang makan, dan dapur yang mengarah ke beranda belakang.  Di dalam Rumah Si Pitung ini, keberadaan kursi dan beberapa perabot lainnya merupakan replika.  Hanya bangunan rumah yang masih terjaga keasliannya, juga sebuah koper yang memang sengaja ditaruh di salah satu ruangan, yang dahulu digunakan oleh Haji Safrudin.  Jika Traveler ingin masuk ke Rumah Si Pitung ini, terlebih dahulu harus menaiki tangga yang letaknya berada di sisi utara.

Traveler yang singgah ke tempat ini, akan mengagumi desain dan arsitektur Rumah Si Pitung ini, juga jalan sejarahnya serta berbagai kebudayaan Betawi yang juga masih dijaga kelestariannya seperti silat, tarian Betawi dan kuliner khas Betawi.

Menjelajahi Rumah Si Pitung, Jagoan Betawi yang Fenomenal
Ruang tamu dengan kuris bangku replika

Saat ini Rumah Si Pitung berada di bawah pegelolaan Museum Kebaharian. Cagar budaya ini beroperasi setiap hari sejak pukul 08.00 – 17.00.   Tidak jauh dari Rumah Si Pitung, berdiri sebuah Masjid Al-Alam, salah satu masjid tertua di Jakarta yang dibangun oleh para wali.  Traveler hanya berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit untuk sampai di masjid ini.  Uniknya, disini ada sumur dengan tiga rasa yaitu manis, asin dan asam.  Tiga rasa ini tidak dapat langsung dirasakan sekaligus, tergantung suasana hati orang yang meminumnya. Namun sejatinya, air sumur itu harusnya asin atau payau karena lokasi kawasan ini dekat dengan laut.

Kisah Si Pitung

Sebelum dikenal sebagai perampok ulung, Si Pitung memiliki nama asli bernama Ahmad Nitikusumah. Menjadi pejuang ala  ‘Robin Hood’ Betawi, konon hal ini akibat rasa sakit hatinya terhadap perlakukan Belanda dan sebagian orang kaya zaman itu. Tepatnya saat ia masih berusia 15 tahun, menyaksikan hewan ternak milik orangtuanya dirampas orang Belanda dan Tionghoa. Akhirnya dia sakit hati dan dendam pada orang-orang kaya dan Belanda.

Si Pitung pun lalu berguru ke sebuah perguruan silat bernama Pituan Pitulung yang di pimpin oleh Haji Naipin di Rawabelong, Jakarta Barat. Disinilah cikal bakal nama Ahmad Nitikusumah berganti menjadi julukan dengan nama Si Pitung.  Meski dikenal sebagai perampok, Si Pitung tidak mengambil semua harta perampokan. Ia membagikan hasil rampokannya kepada rakyat yang ditemuinya. Satu sisi dia dianggap pemberontak dan perampok oleh Belanda, tapi di mata rakyat terutama masyarakat Betawi, Si Pitung dianggap pahlawan.  Sayangnya, meski keberadaanya cukup melegenda, namun kisah Si Pitung tidak tercatat oleh masyarakat Indonesia pada saat itu. Gerakan Si Pitung hanya tertera pada koran-koran Belanda, sementara koran Indonesia tidak pernah menulis berita tentang Si Pitung.

Menjelajahi Rumah Si Pitung, Jagoan Betawi yang Fenomenal
Cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan

Terakhir berita Si Pitung tercatat pada tanggal 7 Juni 1896 pada sebuah koran berbahasa Belanda.  Diberitakan bahwa Si Pitung telah ditangkap Belanda di daerah Sungai Bambu, Jakarta Utara.  Berita desas desus berikutnya mengatakan bahwa Si Pitung telah dimutilasi ke dalam tiga bagian.  Konon, Si Pitung memiliki ilmu kekebalan tubuh, dia tidak bisa mati secara total jika tubuhnya tidak dipotong menjadi tiga bagian.  Masyarakat Betawi mempercayai bahwa makam di Si Pitung berupa badannya ada di daerah Slipi, sementara kepala dan kakinya konon dibawa ke Belanda.

Sedikit penjelasan tentang Si Pitung ini, dapat Traveler temui pada salah satu bagian yang tertera di dalam Rumah Si Pitung.  Dikatakan bahwa Si Pitung merupakan seorang warga Rawa Belong yang bertingkah laku sebagai seorang perampok dermawan.  Yah, Si Pitung merampok orang-orang kaya yang bekerja pada Belanda, lalu menyerahkan hasil rampokannya untuk rakyat.  Beraksi selama 8 tahun yaitu tahun 1886 – 1894, Si Pitung pun dianggak sosok yang meresahkan, sehingga Snouck Hurgonje, penasihat pemerintah Hindia Belanda marah besar ke kepala polisi Batavia dan meminta segera menangkap Si Pitung.  Si Pitung bagaikan belut, beberapa tertangkap Belanda namun selalu mampu meloloskan diri.(Adhit)