MISTERI GUA JEPANG di BIAK

Menyimpan sejarah panjang Perang Dunia Kedua.

Walau hanya sebuah kota kecil di pulau kecil bernama sama, namun Biak menyimpan sejarah panjang Perang Dunia Kedua yang tidak bisa dianggap kecil. Di sinilah dulu tentara Jepang dan Amerikan membangun pangkalan terbesar mereka di laut pasifik dengan membangun bandara yang memiliki runway terpanjang keempat di Indonesia.

Mengapa Jepang dan Amerika sekaligus menguasai Biak? Karena kedua negara yang berperang tersebut sama-sama membangun pangkalan lautnya di pulau tersebut. Berawal dari Jepang yang ingin memperkuat pertahanannya di Samudera Pasifik sekaligus sebagai batu loncatan untuk masuk ke Papua Nugini sekaligus menyerbu Australia pada tahun 1942 saat dimulainya Perang Pasifik.

Namun sejak tahun 1944 Amerika mulai masuk ke Biak sebagai bagian dari strategi lompat katak Douglas MacArthur untuk membalikkan keadaan. Jepang mulai terdesak dan sebagian tentaranya bersembunyi di gua-gua yang terletak di sekitar bandara Frans Kaisiepo sekarang ini. Amerika kesulitan untuk menembus gua-gua tersebut sehingga dikirimlah mata-mata yang menyamar sebagai petugas kesehatan untuk menentukan lokasi yang tepat gua-gua tersebut.

Akhirnya dengan bantuan pesawat pembom gua-gua tersebut dihamtam bom yang meluluhlantakkan sebagian gua dan bekasnya masih ada berupa lubang besar membentuk lembah di sekitar gua yang masih utuh. Pemboman tersebut selain menyisakan lubang juga mayat-mayat tentara Jepang yang terkurung di dalam gua dan baru berhasil dipindahkan sekitar tahun 1970-an dan tulang belulangnya dikembalikan ke Jepang untuk dikremasi.

Gua Jepang ini letaknya tak jauh dari pusat kota Biak, sekitar lima kilometer saja, bahkan lebih dekat jaraknya dari Bandara Frans Kaisiepo, tepatnya berada di belakang landasan atau di sebelah utaranya. Letaknya yang strategis di puncak bukit membuat tentara Jepang lebih mudah mengintai pergerakan tentara Amerika yang menguasai bandara tersebut. Butuh waktu sebulan bagi tentara Amerika untuk benar-benar menguasai wilayah sekitar gua tersebut mengingat sulitnya medan yang dihadapi.

Saat ini gua tersebut sudah diberi jalan setapak berupa beton untuk memudahkan wisatawan masuk ke dalam gua. Di depan gua terdapat pusat informasi yang menyimpan berbagai amunisi dan senjata baik milik Jepang maupun Amerika yang digunakan dalam pertempuran Biak. Untuk masuk ke gua dikenakan biaya 25.000 Rupiah per orang dan dibayarkan pada penjaga pusat informasi tersebut.

Dari pusat informasi saya berjalan kaki menyusuri jalan beton sekitar 300 meter menuju mulut gua yang masih tampak alami tersebut. Di pertengahan jalan terdapat dua saung untuk berteduh kala hujan serta tugu peringatan tentara Jepang yang terlibat dalam pertempuran di dalam gua. Guanya sendiri berada sekitar 50 meter ke bawah menuruni tangga yang sudah dibuat oleh pemerintah setempat, jadi tak perlu memakai sepatu khusus untuk masuk ke dalam gua.

Di dalamnya sendiri guanya cukup luas dan lebar seperti balairung, bisa menampung ribuan tentara Jepang untuk berlindung dari serangan musuh. Masih terasa gemercik air tanah yang menembus gua yang cukup lembab. Konon dulu masih sering terdengar jeritan hantu tentara Jepang yang terkubur dalam gua tersebut, namun setelah kerangkanya dipindahkan, tidak ada lagi suara-suara asing tersebut di dalam gua.

Karena ukurannya besar, tidak terlalu sulit bernafas seperti ketika memasuki lorong gua yang sempit di Chu Chi, Vietnam atau gua Gudawang di Bogor. Kita juga bisa leluasa menelusuri tiap sudut gua yang bentuknya seperti aula besar dengan stalaktit dan stalakmit yang masih utuh. Hanya bau amis masih terasa sepanjang menyusuri gua. Cahaya matahari juga masih tampak menembus gua karena lubang besar bekas pemboman yang masih menganga lebar.

Sebaiknya memang tidak terlalu lama berada di dalam gua karena bau amisnya yang membuat perut terasa mual. Segera naik ke atas apabila sudah selesai mengeksplorasi gua, karena udaranya jauh lebih segar serta lingkungannya masih terlindungi oleh pepohonan besar penghasil oksigen. Lebih baik berlama-lama di pusat informasi untuk menggali sejarah pertempuran Biak yang cukup seru dengan sang ibu penjaganya.

Untuk mencapai lokasi sebaiknya sewa kendaraan, baik motor atau mobil karena tidak ada angkutan umum dan belum tersedia ojek online di Biak. Agar lebih hemat, kita bisa sewa per jam saja kalau waktunya pendek. Pengalaman saya karena waktu itu transit di Biak, sewa mobil satu jam pertama 200 Ribu Rupiah dan per jam berikutnya dikenakan 100 Ribu Rupiah dari dan ke bandara. Kalau mau sewa seharian sekitar 600 Ribu tapi sebaiknya keliling kota dari pagi sampai sore termasuk mengunjungi pantai-pantai yang indah dan relatif masih perawan.