Museum Rumah Cut Nyak Dhien, Kenal Lebih Dekat dengan Srikandi Aceh

Replika Namun Tetap Sesuai dengan Aslinya

Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Replika Rumah Tinggal yang dibangun Sesuai Asli

Berkunjung ke museum, tidak semata akan mendapatkan pengalaman berwisata, namun juga pendidikan tentang sejarah.  Ada sensasi tersendiri yang dirasa, saat Traveler menjalani wisata sejarah. Mendapatkan informasi lebih jelas dan detail tentang suatu sejarah, akan memberi kesan mendalam yang sangat berarti.  Seperti mengunjungi museum Rumah Cut Nyak Dhien, salah satu pahwalan wanita Indonesia dari Aceh.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Gambar Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, di salah sudut ruangan

Mengenal sosok seorang Cut Nyak Dhien, Srikandi Aceh ini terkenal dengan kegigihannya melawan Belanda. Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini merupakan tempat tinggal Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Jika Traveler seorang pecinta wisata sejarah, maka museum ini patut menjadi destinasi wisata saat berada di Aceh. Memory akan disegarkan kembali, mengenal lebih dekat salah satu pahlawan wanita terbaik yang dimiliki oleh Indonesia.

Melihat dan menelusuri museum ini juga akan mengingatkan sejenak dengan pahlawan wanita berhati baja ini. Srikandi Indonesia ini memang dikenal memiliki pendirian yang teguh serta gagah berani dalam memimpin pasukannya untuk melawan Belanda. Di museum tersebut, Traveler akan melihat langsung senjata-senjata seperti rencong yang dulu digunakan oleh Cut Nyak Dhien.

Kilas Balik Perjuangan

Wanita kelahiran tahun 1848 yang merupakan keturunan bangsawan dari ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia dan ibunya bernama Uleebalang Lampageu ini, sejak kecil sangat kuat menjalankan agamanya, sehingga beliau tumbuh menjadi perempuan yang patuh akan ajaran agama Islam.  Saat usia 12 tahun, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Namun pernikahan itu hanya sebentar, karena Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal saat berjuang melawan Belanda. Tewasnya sang suami membangkitkan semangat Cut Nyak Dhien untuk terjun langsung melawan Belanda.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Gambar Perjuangan Cut Nyak Dhien terpajang di sepanjang Dinding

Setelah itu, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar yang terkenal sebagai seorang tokoh yang juga berjuang melawan Belanda.  Cut Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar ini dengan syarat bahwa mengizinkan dia untuk tetap bisa terjun langsung dalam perjuangan ini.

Selama masa berjuang, sempat terjadi aksi pembelotan Teuku Umar kepada pihak Belanda. Rakyat marah karena di depan mereka, Teuku Umar dianggap berkhianat, padahal ini merupakan strategi Teuku Umar untuk mendapatkan persenjataan dari Belanda.  Karena Belanda menganggap Teuku Umar berada dipihaknya, maka Belanda menghadiahkan sebuah rumah. Sayangnya, begitu Belanda tahu taktik Teuku Umar, rumah itu pun dibakar habis oleh Belanda.  Hal tersebut terjadi pada tahun 1896.

Untuk mengenang kegigihan Cut Nyak Dhien ini, maka didirikanlah museum yang menampilkan tempat tinggal Cut Nyak Dhien.  Replika dari bangunan yang dibuat ini benar-benar menyerupai aslinya, bahkan interior dalamnya pun juga dibuat sama.  Sajian Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini dibangun pada tahun 1981 yang kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan, pada tahun 1987. Tempat ini menjadi saksi sejarah perjuangan masyarakat Aceh yang pernah dipimpin oleh srikandi gagah perkasa, Cut Nyak Dhien, melawan penjajahan Belanda.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Kamar Cut Nyak Dhien yang bernuansa emas/kuning

Pernikahan Cut Nyak Dhien dengan Teuku Umar ini dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang. Teuku Umar wafat dalam penyerangan di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Sedangkan Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat.

Menelusuri Dalam Museum

Ketika tiba di lokasi Museum Rumah Cut Nyak Dhien, Traveler akan bisa melihat adanya sumur yang sangat tinggi di depan pintu utama. Sumur tersebut memang sengaja dibuat dengan ketinggian mencapai dua meter agar pihak Belanda tak bisa meracuni air yang ada didalam sumur. Ini sumur asli peninggalan zaman Cut Nyak Dhien.

Rumah Cut Nyak Dhien ini berbentuk rumah panggung, dengan ukuran 25 meter x 17 meter serta memiliki 65 tiang kayu penyangga. Pintu utamanya agak rendah, sehingga Traveler harus membungkuk untuk masuk ke rumah ini.  Dinding-dinding ruangan terbuat dari papan kayu dengan atap dihiasi pelepah daun kelapa tua. Ruangan dalam cukup luas, terdapat banyak pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan ruangan yang lainnya.  Silsilah keturunan Cut Nyak Dhien terpampang pada dinding ruangan depan, Traveler juga dapat melihat koleksi yang menggambarkan kondisi saat Perang Aceh.  Penjelasan tiap gambar tertuang dibawah setiap pajangan.

Pada ruangan lain terdapat koleksi kursi-kursi kayu dengan ukiran khas Jepara yang terpajang rapi. Traveler akan melihat sebuah meja yang terletak di tengah deretan kursi-kursi tersebut. Diperkirakan tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para tokoh-tokoh Aceh dalam mengatur strategi perang. Disitu juga ada koleksi senjata yang digunakan Cut Nyak Dhien, yaitu rencong dan parang.

Suasana dan detail kondisi museum ini benar-benar menggambarkan rumah Cut Nyak Dhien yang asli.  Yah, meskipun ini replika, tapi tiap sudut dan ornamen disesuaikan dengan yang asli tanpa mengurangi atau menambah detail lainnya.  Seperti ruang kamar Cut Nyak Dhien yang dihiasi dengan tirai berwarna kuning, warna khasnya kamar raja-raja.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Rumah nan Luas ini Mengandung Sejarah Besar Aceh

Museum Rumah Cut Nyak Dhien dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Secara administratif, museum ini terletak pada Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Untuk mencapai ke lokasi Museum Rumah Cut Nyak Dhien, dari Kota Banda Aceh berjarak sekitar 10 kilometer atau memakan waktu kurang lebih 20 menit.

Museum ini terletak tepat di pinggir jalan raya, sehingga memudahkan Traveler untuk mencapainya. Traveler dapat memilih transportasi mobil atau motor, atau kendaraan umum. Kondisi jalan dari Banda Aceh menuju ke Kecamatan Peukan Bada juga terbilang sangat baik dan teraspal nyaman.(Adhit)