Musium Lubang Tambang Mbah Soero di Sawahlunto

Mereka benar-benar bekerja siang malam dengan makanan seadanya dalam keadaan diborgol dan dirantai, sehingga disebut sebagai orang rantai.

Selain musium kereta api Sawahlunto, saksi sejarah pertambangan batubara lainnya adalah Musium Lubang Tambang Mbah Soero yang terletak dekat kantor pusat PT Bukit Asam di kota Sawahlunto. Musium ini terdiri atas bangunan musium yang menyimpan berbagai peralatan tambang dan lubang penambangan yang terletak di samping musium. Tarif masuknya sendiri cukup murah, hanya 10 Ribu per orang di luar sumbangan untuk pemandu yang akan mengantar masuk ke dalam gua.

Bangunan musium terdiri atas dua lantai, lantai pertama berupa selasar luas dengan bagian tengah diisi oleh rantai dan borgol yang digunakan mbah Soero saat bekerja di dalam tambang. Kemudian terdapat juga seragam pekerja dan peralatan yang digunakan untuk menambang seperti linggis, palu, helm, sepatu boot, dan alat-alat lainnya. Di lantai dua terdapat diorama berupa foto-foto dan cerita sejarah para pekerja tambang yang didatangkan dari luar Sumatera untuk menambang batubara di Sawahlunto.

Mbah Soero sendiri sebenarnya merupakan simbol para pekerja tambang yang lebih tepat disebut sebagai pekerja paksa ketimbang buruh tambang. Para pekerja paksa tersebut didatangkan dari Jawa, rata-rata mereka merupakan tahanan kriminal maupun pemberontak yang melawan kekuasaan Belanda pada masa itu. Para tahanan tersebut dibuang ke Sumatera menggunakan kapal dan dikirim ke tambang batubara di Sawahlunto dengan kereta api.

Mereka benar-benar bekerja siang malam dengan makanan seadanya dalam keadaan diborgol dan dirantai, sehingga disebut sebagai orang rantai. Bahkan mereka terus dipaksa bekerja walau kondisi tubuh sedang sakit. Akibatnya banyak pekerja paksa tersebut akhirnya meninggal dan dimakamkan di dekat tambang batubara. Keturunan mereka masih ada dan tetap tinggal di Sawahlunto, salah satunya menjadi pemandu di musium tersebut.

Selain pekerja dari Jawa, Belanda juga mendatangkan para pekerja dari Tiongkok karena upahnya jauh lebih murah ketimbang orang lokal. Perlakuannya juga nyaris sama dengan orang rantai, hanya tidak diborgol dan dirantai seperti para tahanan. Sama seperti orang rantai, para pekerja asal Tiongkok tersebut juga tidak kembali ke negerinya dan memilih menetap di Sawahlunto hingga saat ini.

Di samping musium terdapat lubang penambangan yang cukup dalam dengan ukuran 2×2 meter dan kedalaman hingga 15 meter. Panjang lubang yang masih bisa dilalui sekitar 123 meter dari sekitar 600 meter lubang penambangan. Pengunjung wajib mengenakan helm dan sepatu boot untuk masuk ke dalam tambang serta mengenakan seragam tambang demi keamanan di dalam tambang.

Untuk menuju ke musium cukup dengan berjalan kaki saja dari pusat kota atau dari musium kereta api. Agar lebih nyaman sebaiknya wisatawan menyewa kendaraan agar bisa mengunjungi beberapa musium sekaligus karena Sawahlunto sekarang menjadi salah satu bagian dari World Heritage UNESCO atau situs warisan dunia yang diresmikan tahun 2019 lalu.(Diaz)