Nyepi di Bali, Sepi tanpa Ogoh-Ogoh

Hari Raya Nyepi tahun Saka 1942 yang jatuh pada hari Rabu, 25 Maret 2020 ini

Hari Raya Nyepi tahun ini memang beda dirasakan dari tahun-tahun sebelumnya. Hari Raya Nyepi tahun Saka 1942 yang jatuh pada hari Rabu, 25 Maret 2020 ini, akibat wabah virus corona Covid-19, kegiatan yang biasa dilakukan setiap tahun yang berkaitan dengan Hari Raya Nyepi ini, banyak yang ‘dipangkas’.

Seperti pada Upacara Melasti yang biasanya dihadiri ramai oleh pemeluk agama hindu, bahkan ribuan orang bisa hadir, kali ini dihimbau untuk mengurangi jumlah peserta yang hadir. Upacara Melasti di Denpasar yang diadakan pada hari Minggu, 22 Maret 2020 lalu, dihadiri secara terbatas. Pembatasan tersebut sesuai arahan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) untuk mencegah pandemi korona.

Upacara Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Biasanya upacara dilakukan di area tepi pantai. Penyucian yang dilakukan oleh umat Hindu Bali, bertujuan untuk membersihkan diri dari berbagai tindakan dan perilaku buruk yang pernah dilakukan. Biasanya, mereka akan membuangnya ke laut. Dan di waktu yang sama juga, pembersihan dilakukan pada berbagai perlengkapan persembahyangan yang ada di pura.

Wabah virus corona Covid-19 memang semakin mengkhawatirkan. Hal itu juga yang menyebabkan pengarakan ogoh-ogoh atau patung raksasa yang biasa dilakukan sehari menjelang Nyepi ditiadakan. Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung yang dalam kebudayaan Bali menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala mencerminkan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Proses perayaan ogoh-ogoh dapat diterjemahkan lambang keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat. Sementara kekuatan itu dapat dibagi dua, pertama kekuatan bhuana agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan kedua adalah kekuatan bhuana alit yang berarti kekuatan dalam diri manusia.

Namun, tahun ini perayaan itu ditiadakan. Padahal, tradisi mengarak ogoh-ogoh, seperti yang selalu dilakukan setiap tahun, selalu menjadi peristiwa yang diincar dan dinanti oleh warga, baik umat Hindu maupun pemeluk agama lain.
Setelah Gubernur Bali, I Wayan Koster mengeluarkan instruksi pelarangan pada Jumat lalu, 20 Maret 2020 bahwa pawai ogoh-ogoh tahun ini ditiadakan. Selain melarang pengarakan ogoh-ogoh, gubernur Bali juga meminta agar pelaksanaan upacara Melasti, yaitu proses penyucian menjelang Nyepi, boleh dirayakan namun hanya diikuti maksimal oleh 25 orang.

Agar mencegah penyebaran virus corona ini semakin merebak, Gubernur Bali I Wayan Koster juga mengimbau masyarakat Bali untuk tetap berada di rumah setelah Hari Raya Nyepi.(Nil)