Perayaan Prambanan Shiva Festival, Siap Jadi Agenda Unggulan Pariwisata Nasional

Maha Shivaratri 2026 merupakan perayaan ‘Malam Agung Siwa’ yang jatuh pada hari Minggu 15 Februari 2026.  Perayaan ini merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa yang melambangkan kebangkitan spiritual, kesadaran diri, dan kemenangan atas kegelapan serta ketidaktahuan. 

Mahashivaratri menjadi puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival yang telah berlangsung sejak 17 Januari 2026 dan dilaksanakan di kawasan Candi Prambanan. Hari suci terpenting bagi umat Hindu ini diperingati melalui berbagai ritual sakral dan kegiatan budaya yang merefleksikan nilai spiritual, harmoni, serta toleransi.

Perayaan Prambanan Shiva Festival, Siap Jadi Agenda Unggulan Pariwisata Nasional
Wamenpar Ni Luh Puspa

Salah satu rangkaian utama adalah Festival Dipa dengan penyalaan ribuan dipa, sekitar 1.008 dipa (pelita) dinyalakan yang diadakan di Lapangan Wisnu, sebagai puncak dari perayaan ini.  Penyalaan ribuan ndipa diiringi bunyi alat musik damaru, sehingga menciptakan suasana magis dan khusyuk di kawasan candi. Momen ini melambangkan persatuan umat dalam doa serta harapan akan kedamaian dan kesejahteraan dunia.

Ada beberapa ritual dalam kegiatan ini, yaitu :

  • Jagarana yang diartikan berjaga atau tidak tidur sepanjang malam untuk bermeditasi dan menjaga kesadaran.
  • Upawasa (Puasa), dimana umat melakukan puasa penuh atau mengonsumsi makanan tertentu tanpa biji-bijian.
  • Puja, yaitu persembahan susu, madu dan air ke Shiva Lingamdi kuil-kuil.
Perayaan Prambanan Shiva Festival, Siap Jadi Agenda Unggulan Pariwisata Nasional
Salah saatu rangkaian Prambanan Shiva Festival

Waktu pelaksanaan Ritual puncak (Nishita Kaal Puja) berlangsung tengah malam menuju tanggal 16 Februari, dengan waktu buka puasa (Parana) antara pukul 06.59 hingga 15.24 pada 16 Februari 2026.

Selain itu, juga ada atraksi video mapping yang membalut Candi Prambanan yang turut menghadirkan pengalaman visual dan memperkuat pesan spiritual serta kebersamaan. Selain upacara Mahashivaratri, rangkaian puncak festival juga diisi kegiatan MICE melalui International Conference – Prambanan Shiva Festival yang berlangsung di Wisnu Mandala, Kompleks Candi Prambanan, dan menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

Sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak 1991 dan mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9 Masehi, Candi Prambanan memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman spiritual tourism dan pilgrimage tourism yang semakin relevan secara global.

Perayaan Prambanan Shiva Festival, Siap Jadi Agenda Unggulan Pariwisata Nasional
Penyalaan 1.008 dipa

Data menunjukkan jumlah umat Hindu dunia meningkat sekitar 12 persen dalam satu dekade terakhir, dengan 99 persen berada di kawasan Asia-Pasifik. Hal ini menegaskan pentingnya pengelolaan situs suci dan warisan budaya seperti Prambanan, bukan hanya sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang dihormati masyarakat dunia.

Untuk itu, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong Prambanan Shiva Festival berkembang sebagai agenda unggulan pariwisata nasional yang memperkuat posisi Candi Prambanan sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual kelas dunia.

Perayaan Prambanan Shiva Festival, Siap Jadi Agenda Unggulan Pariwisata Nasional
Perayaan ‘Malam Agung Siwa’ di kawasan Candi Prambanan

Menurut Wamenpar, festival yang berpuncak pada perayaan Mahashivaratri ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus menggerakkan ekosistem ekonomi masyarakat sekitar.

Event budaya seperti ini, turut menggerakkan pelaku UMKM, pekerja seni, perhotelan, dan sektor jasa pariwisata di kawasan sekitar.  Selain itu, tren pariwisata global kini bergerak menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari hiburan, tetapi pengalaman yang memberi kedekatan dengan lingkungan, budaya, dan masyarakat lokal.

“Kita harapkan agenda seperti Prambanan Shiva Festival ini mampu menghidupkan Candi Prambanan, bukan sekadar sebagai monumen, tetapi sebagai living monument yang kita jaga bersama kesakralannya,” ujar Ni Luh Puspa.(*)

Subscribe

Related articles

Rute Charter Palu–Guangzhou Dibuka, Akses Wisata Sulteng Makin Luas

Penerbangan charter langsung rute Palu–Guangzhou dan Jakarta–Luwuk akan dibuka. ...

Goa Haji Mangku, Epic dan Penuh Sensasi

Goa Haji Mangku merupakan harta tersembunyi di Pulau Maratua,...

Astindo Travel Fair Perkuat Momentum Pertumbuhan Pariwisata 2026

Astindo Travel Fair 2026 hadir sebagai momentum penting untuk...

Kemenpar Perkuat Promosi MICE Indonesia melalui Partisipasi di AIME Melbourne 2026

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI turut andil dalam kegiatan Asia...

Mengulik Abad Pertengahan yang Menakjubkan di Kota Namur

Namur adalah destinasi yang tepat bagi wisatawan yang mencari...
spot_imgspot_img