Pesona Waduk Riam Kanan

Kondisi alam Banjarmasin yang sebagian besar berupa tanah gambut memang sulit untuk menemukan obyek wisata alam yang representatif untuk ditonjolkan. Paling mentok hanya sungai Barito beserta pasar terapungnya yang menjadi andalan wisata alam. Obyek wisata lainnya lebih banyak merupakan bangunan buatan seperti Waduk Riam Kanan yang merupakan salah satu ikon wisata di Kalimantan Selatan.

Perencanaan pembangunan waduk Riam Kanan mulai dirancang sekitar tahun 1958-1959 oleh gubernur Kalsel kala itu, Gusti Pangeran Mohammad Noor, untuk memenuhi kebutuhan listrik yang selama itu dipasok oleh PLTD. Karena kebutuhan semakin meningkat, maka diperlukan pembangkit yang lebih besar dan hanya dapat dipenuhi dengan membangun waduk.

Waduk tersebut membendung 8 sungai yang mengalir dari pegunungan Meratus. Pembangunan fisiknya baru dimulai tahun 1963 dan butuh waktu sekitar 10 tahun untuk menyelesaikannya, sebelum diresmikan oleh presiden Soeharto tahun 1973. Lokasinya berada di Desa Aranio, sekitar 25 kilometer dari Banjarbaru atau 60 kilometer dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai tepian waduk di Pelabuhan Tiwingan, yang merupakan titik kumpul perahu untuk menuju pulau-pulau kecil di tengah waduk, atau menyeberang menuju daratan di sebelah timur dan utaranya. Sebelum tiba di Tiwingan tak jauh dari pelabuhan, terdapat kantor pembangkit listrik PLTA Riam Kanan yang sekarang dinamai PLTA Gusti Muhammad Noor.

Kita bisa mengeliling waduk dan singgah di pulau-pulau kecil yang ada di dalamnya seperti pulau Pinus, pulau Bekantan, dan pulau Rusa, dengan menyewa perahu. Jadi lebih baik pergi secara rombongan sekitar 15-20 orang untuk menyewa kapal seharga 400-500 Ribu Rupiah per hari. Kita juga bisa menginap dengan memasang tenda di pulau tersebut.

Kalau malas menyeberang pulau, bisa juga sekedar memancing ikan seharian di atas perahu atau di tepian danau di dekat pelabuhan Tiwingan. Namun tidak ada penginapan di sekitar pelabuhan Tiwingan kecuali membuka tenda di pulau-pulau kecil tersebut. Jadi sebaiknya bagi yang sekedar ingin menikmati indahnya danau bisa berangkat pagi hari dan pulang siang atau sore hari.

Kalau sekedar jalan-jalan dan nangkring di sekitar pelabuhan tak butuh waktu lama, cukup 1-2 jam saja. Namun bagi yang ingin berkeliling waduk bisa memakan waktu seharian kecuali menginap. Sebaiknya membawa kendaraan sendiri, atau menyewa kendaraan karena sulitnya angkutan umum menuju ke Desa Aranio.

Cuacanya sendiri tidak seperti daerah lain sejenis yang rata-rata dingin, di sini cukup panas karena memang posisinya berada di dataran rendah. Jadi tidak perlu membawa jaket atau pakaian tebal karena hawanya seperti di pantai. Lebih baik memakai sun block untuk menghindari sengatan matahari di siang hari bolong apalagi di musim kemarau.

Banjarmasin sendiri bukanlah daerah wisata, tapi lebih banyak orang bepergian karena urusan bisnis. Oleh karena itu buat yang sedang bertugas atau ada urusan bisnis di Banjarmasin, bila ada waktu luang dan bosan melihat-lihat batu permata di Martapura, mampirlah sejenak ke tepian waduk untuk sekedar hangout melepas stress. Lokasinya tidak terlalu ramai dan masih tradisional, belum banyak bangunan modern di sekitar waduk.(Diaz/Kuniel)