Putihnya Danau Biru Kaolin Nibung yang Menawan Hati

Pesonanya terletak pada pemandangan danau dengan air yang berwarna biru langit cerah berpadu dengan warna putih bukit kapur yang mengitari danau tersebut.

Kepulauan Bangka Belitung selain dikenal sebagai tambang timah terbesar kedua di dunia, juga terdapat tambang kaolin yang dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik. Sayangnya banyak lahan bekas tambang yang dibiarkan tanpa dilakukan pemulihan kembali sehingga tampak lubang-lubang besar tak terurus bila dilihat dari udara.

Namun tak semua bekas tambang dibiarkan begitu saja. Ada beberapa lokasi bekas pertambangan timah maupun kaolin yang diubah fungsinya menjadi obyek wisata. Salah satunya ada di wilayah Kabupaten Bangka Tengah tak jauh dari kota Koba tepatnya di Desa Nibung. Bagi yang pernah berkunjung ke Kawah Putih, bentuknya hampir mirip hanya bedanya kawah putih memang berasal dari kawah yang mengandung belerang sementara Danau Kaolin Nibung airnya merupakan bekas penambangan bercampur air hujan.

Pesonanya terletak pada pemandangan danau dengan air yang berwarna biru langit cerah berpadu dengan warna putih bukit kapur yang mengitari danau tersebut. Perpaduan warna biru dan putih membuat pemandangan menjadi serasi seolah serasa berada di kutub atau danau bersalju. Bagi penggemar selfie pemandangan biru putih danau sangat cocok menjadi latar belakang foto yang ciamik, apalagi bila datang di pagi atau sore hari, pantulan bayangannya seperti cermin dibelah dua.

Uniknya lagi, di samping danau biru juga terdapat danau berwarna hijau yang sedikit lebih kecil ukurannya. Sayangnya danau hijau tersebut belum sepenuhnya ditata seperti danau biru, hanya terdapat perahu kecil untuk berwisata keliling danau. Di sini juga masih terdapat sisa sisa bekas tambang yang masih alami belum dirapikan seperti danau biru.

Lokasinya terletak sekitar 70 kilometer dari ibukota provinsi Bangka Belitung Pangkalpinang ke arah Koba, dengan waktu tempuh sekitar satu setengah hingga dua jam. Dari kota Koba perjalanan berlanjut ke arah Toboali, sekitar 10 kilometer ada pertigaan dan papan petunjuk Danau Kaolin, lalu belok kanan sekitar 1 kilometer saja. Namun karena sulitnya angkutan umum sebaiknya membawa atau menyewa kendaraan untuk menuju ke danau tersebut.

Kepenatan dalam perjalanan terbayar sudah begitu meilhat pemandangan danau yang indah. Di sini terdapat beberapa spot selfie yang disediakan oleh pengelola. Namun sebaiknya tidak berenang di danau tersebut karena dikhawatirkan airnya mengandung mineral bekas tambang yang mungkin berbahaya bagi kulit dan kesehatan tubuh. Lebih baik menyusuri danau tersebut karena tersedia jalan setapak dan jembatan untuk menyeberang ke sisi lain danau untuk mencari spot selfie terbaik. Namun tetap harus hati-hati melangkah karena pasir putihnya cukup rapuh dan mudah longsor.

Waktu yang tepat untuk berkunjung ke danau ini adalah pagi atau sore hari saat mentari terbit atau terbenam karena dapat membentuk siluet yang cantik saat berfoto selfie. Lagipula kalau datang agak siang cuaca cukup panas dan sedikit kurang nyaman, serta terkadang masih ada satu dua pekerja yang masih mengolah tambang di sekitar danau tersebut.

Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, mulai dari toilet hingga warung makan sekaligus tempat nangkring, untuk sekedar bersantai menikmati pemandangan danau. Namun bentuknya masih sederhana dan baru dalam taraf pengembangan oleh Pemkab Bangka Tengah. Tiket masuknya cukup murah hanya 5000 Rupiah saja sekedar pengganti uang kebersihan saja. Parkirannya cukup luas dan dapat menampung kendaraan roda empat hingga bus besar.

Cantiknya pemandangan danau yang sering disebut juga sebagai kulong biru (kulong berarti danau dalam bahasa setempat) membuat obyek wisata tersebut masuk menjadi salah satu nominasi destinasi wisata terpopuler pada Anugrah Pesona Indonesia tahun 2019. Sebuah blessing in disguise dimana kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh bekas tambang, mampu disulap menjadi obyek wisata yang menarik perhatian para traveler Indonesia maupun internasional.(Diaz)