Raja Ampat: My Life, My Dreams…

Tak ada kata yang bisa melukiskan keindahan Raja Ampat, selain menikmatinya secara langsung. Ayam jantan belum lagi terdengar berkokok, saat pesawat yang kami tumpangi melesat cepat meninggalkan gelapnya Jakarta. Dalam kabin, hanya deru mesin yang terdengar. Tak ubahnya lagu peneman tidur para penumpang, termasuk kami tentunya, yang mencoba memejamkan mata untuk membunuh rasa kantuk. Harap maklum, para penumpang rata-rata sudah tiba di bandara antara pukul 02.00 atau 03.00 untuk penerbangan jam 04.00.

Raja Ampat adalah akhir dari perjalanan ini. Namun sebelum sampai di sana, pesawat harus terlebih dahulu mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar selama 30 menit dan kembali terbang menuju Sorong, Papua. Setelah menempuh enam jam perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, akhirnya roda pesawat menyentuh aspal Bandara Domne Eduar d Osok, Sorong, dengan mulus.

Berhubung perut lapar karena pesawat berangkat dari Jakarta pukul 04.00 WIB, sebelum menuju pelabuhan untuk menyeberang, kami mampir terlebih dahulu di restoran Pondok Bambu. Menunya siang itu ikan baronang bakar, cah kangkung dan kepiting saos tiram dengan makanan pembuka sup asparagus. Maknyusss.

Setelah perut penuh terisi, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Klalin, yang berlokasi di Desa Klauyuk. Sebuah speedboat telah menanti kedatangan kami. Dari pelabuhan tradisional ini, speedboat bergerak menyelusuri sungai Klalin yang berkelok-kelok. Airnya yang hijau kecoklatan dan hutan mangrove di kanan dan kiri sungai membuat perjalanan jauh dari hal yang menjemukan. Apalagi kecepatan speedboat acap kali diturunkan saat berpapasan dengan perahu-perahu kecil milik rakyat setempat. Karena terjadi berulang-ulang, tentu menimbulkan pertanyaan mengapa kapal berjalan lambat. Ternyata ombak yang diciptakan dari pergerakan speedboat dapat membuat perahu kecil terbalik. “Kalau sampai terbalik, si pemilik perahu bisa tuntut kita satu miliar,” ujar Ruslan, warga Sorong kelahiran Bugis yang menemani kami sepanjang perjalanan.

Setelah hampir 30 menit menyusuri keindahan sungai Klalin dengan hutan mangrove-nya, yang sunyi, speedboat membawa kami masuk dalam keramaian pelabuhan Sorong dengan kapal-kapal besarnya, termasuk jejeran kapal-kapal Pinisi dan perahu-perahu kecil bermesin tempel sebagai moda sarana antar pulau bagi penduduk.

Selepas dari kawasan pelabuhan, speedboat melaju dengan kekuatan penuh menuju Waisai, Kota Kabupaten Raja Ampat. Untuk sampai di Waisai membutuhkan waktu 2 jam atau lebih tergantung cuaca. Beruntung selama perjalanan cuaca begitu cerah, sehingga ombak laut tidak terlalu tinggi untuk dilalui. “Kalau cuaca sedang tidak bagus ombak bisa setinggi 2 sampai 3 meter,” ujar Ose, awak speedboat.

Setelah satu jam perjalanan, gugusan kepulauan Raja Ampat mulai terlihat.  Waisai yang dituju semakin dekat. Tak berapa lama, speedboat menurunkan kecepatannya dan akhirnya bersandar di pelabuhan rakyat yang lokasinya tak seberapa jauh dari Pantai Waisai Tercinta.

Seakan tak ingin membuang-buang waktu, check in di Hotel Maras Risen dan menaruh barang bawaan. Kami pun bergegas kembali ke speedboat untuk mulai menjelajahi keindahan Raja Ampat yang mendunia itu. Apalagi hari masih siang, sekitar jam 14.00 waktu setempat, ditambah matahari yang bersinar cerah tentu rugi untuk dilewatkan begitu saja meski hanya sekedar bersnorkeling ria.

Tujuan pertama adalah Pulau Saonek Monde (Kecil) sebagai pemanasan. Pulau yang berada tepat di depan dermaga Waisai ini sangat cocok bagi para pemula yang ingin bersnorkeling, karena ombaknya tidak terlalu besar. Meski taman lautnya kalah jauh dibandingkan pulau-pulau lain di Raja Ampat, namun tetap memiliki keunikan yakni keberadaan mandarin fish.

Disebut mandarin fish, karena ikan ini memiliki warna biru, merah dan orange sehingga mirip dengan corak motif China. Keunikan lainnya, ikan ini hanya muncul pada jam-jam tertentu yakni antara 17.00-18.00 secara bergerombol.

Setelah pemanasan dirasakan cukup, kami pun berpindah tempat ke perairan di sekitar Pulau Mansuar. Namun baru saja mesin speedboat dimatikan, perlahan cuaca yang semula cerah mulai berubah mendung. Laut yang semula tenang, mulai bergolak. Kalau sudah begini snorkeling tidak lagi nyaman untuk dilakukan. Bila tidak terlalu mahir, bisa-bisa air laut bakal tertelan. Nah kalau sudah begini kondisinya, janganlah panik. Sebab kepanikan justru akan membuat Anda semakin kembung karena menelan begitu banyak air laut.

Setidaknya begitulah kondisi yang dialami oleh rekan perjalanan kami. Bermaksud untuk memotret keindahan alam bawah air Raja Ampat, dengan perlengkapan snorkeling dan kamera, dirinya langsung menceburkan diri ke dalam birunya air laut. Awalnya berjalan normal, namun kondisi berubah mencekam ketika laut yang tenang mulai bergelombang tinggi. Tubuhnya sempat terombang-ambing, usahanya untuk kembali ke kapal terasa sia-sia saat ombak justru membawanya menjauh. Melihat kondisi tersebut, satu-satunya jalan adalah speedboat yang bergerak mendekati dan menariknya kembali ke dalam kapal. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Melihat gelombang laut kian tak bersahabat dan kondisi teman yang shock, diputuskan untuk kembali pulang ke Waisai. Sebagai informasi, cuaca di Raja Ampat dapat berubah dengan cepat. Itu terjadi saat ketika kami menuju Teluk Kabui. Teluk yang berada di Pulau Waigeo dan berhadapan dengan Pulau Gam, ini dari kejauhan tampak gumpalan kabut yang teramat pekat mulai dari tanah hingga menembus awan. Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Namun itu bukanlah kabut, melainkan hujan yang tercurah dengan derasnya. Saat speedboat melewatinya, meski hanya berjarak beberapa meter saja ternyata tidak membasahi.

Setidaknya begitulah gambaran yang kami dapat selama sepekan berada di Raja Ampat. Kepulauan ini merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Ke empat gugusan pulau besar tersebut yakni Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati
dan Pulau Batanta.

Dunia mengakui bahwa Raja Ampat memiliki terumbu karang terlengkap di dunia. Dari 537 jenis karang dunia, 75 persen diantaranya berada di kawasan ini. Hal yang tak kalah mengagumkannya, terdapat hamparan terumbu karang yang dapat bertahan hidup meski air laut tengah surut, berada di udara terbuka dan terpanggang langsung sinar matahari. Pemandangan yang indah ini dapat ditemukan di Kampung Saondarek saat air laut surut, sehingga para wisatawan tak berlu bersusah payah untuk menyelam.

Itu baru terumbu karang, belum biota lautnya, tercatat diperairan ini memiliki 1.104 jenis ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak) dan 537 jenis hewan karang. Beberapa diantaranya yakni  kuda laut katai, wobbegong (hiu karpet), ikan pari Manta, ikan tuna darin jenis giant trevallies dan snappers, ikan barakuda dan Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie yang merupakan ikan endemik Raja Ampat serta Dugong (ikan duyung).

Kehidupan mahluk didaratannya pun tak kalah indah.  Pulau Raja Ampat juga memiliki hewan-hewan unik seperti Cendrawasih Merah, Cendrawasih Wilson, Maleo Waigeo, Kuskus Waigeo, beraneka Burung Nuri dan Kakatua. Untuk tumbuhan, beragam jenis anggrek menjadi daya tarik bagi para pecintanya.

Dengan semua keindahan yang dimiliki, tak hanya wisatawan atau para penggila dunia bawah laut saja yang datang berbondong-bondong datang dan rela menunggu selama satu minggu untuk bisa menginap di cottage-cottage di beberapa pulau di Raja Ampat. Para pemimpin dan kesohor dunia pun rela terbang bermil-mil jauhnya untuk datang ke Raja Ampat. Terakhir, sekitar bulan Agustus lalu, Keluarga Kerajaan Monako datang berkunjung dengan menggunakan pesawat terbang pribadi dan tinggal selama seminggu lebih di perairan Raja Ampat.  Keindahan Raja Ampat telah membius dunia. Adakah yang mampu menolak godaannya.