Semangat Memajukan Banyuwangi

Dubes RI Untuk Singapura, Ir. Suryopratomo

Dubes RI Suryopratomo
Hidup itu Menglir....

Redaksi Indonesiatraveler.id, beberapa hari lalu berkesempatan mewawancarai Ir. Suryopratomo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura periode 2020-2024 yang baru saja dilantik oleh Presiden RI, Joko Widodo.  Wawancara ekslusive untuk media online PVK Group ini terdiri dari Umi Kalsum sebagai CEO dari PVK Group, Kusmanto (Pemred Pariwisataindonesia.id), Wawan (Pemimpin Umum Trippers.id) sebagai moderator, Nilia Andrini (Pemred IndonesiaTraveler.id), Dian Puspita Sari (Pemred Trippers.id) serta dalam kesempatan ini hadir pula Ratna dan Gayatri dari kantor Dubes RI di Singapura.

Optimis, penuh perhitungan, kerja keras itulah sosok Suryopratomo atau lebih populer dengan nama panggilan Tommy.  Setelah sekian tahun dedikasinya banyak dituangkan pada dunia jurnalistik, Tommy mendapat amanah baru untuk menjadi perwakilan Indonesia di Singapura.  Yah, pria alumni IPB ini resmi sudah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura periode 2020 – 2024.  Tommy bersama ke 19 orang lainnya di lantik Presiden RI, Jokowi untuk menjabat sebagai duta besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) di Istana Merdeka pada pertengahan September 2020 lalu.

Sederet pekerjaan baru, siap dilakoninya.  Sebagai duta besar, beberapa pekerjaan utama memang sudah ditetapkan dari Presiden.

Dubes RI Suryopratomo
Amanah, Fokus dan Maksimal dalam Bekerja

“Tugas utamanya adalah melindungi warga RI di Singapura, melindungi semua kepentingan mereka, juga meningkatkan kerjasama di bidang kesehatan seperti covit 19 ini yang saling memberikan bantuan, juga kerjasama di bidang ekonomi dan juga menjaga perdamaian,”urai Tommy menjelaskan.

Begitu juga di bidang pariwisata, yang memang juga jadi PR besar bagi Tommy.  Menurut Tommy, bekerja untuk Indonesia, terutama pariwisata merupakan andalan untuk masa yg akan datang.  Karena sektor pariwisata ini merupakan yang paling cepat bergeraknya dengan investasi yang tidak terlalu besar. Pariwisata bisa menjadi devisa yang sangat besar, namun yang paling penting adalah bagaimana melibatkan banyak warga dalam proses pengembangan pariwisata itu sendiri.

“Saya kira menjadi suatu yang sangat penting, berharap ada kerja sama dalam wisatawannya.  Misalnya, siapa tahu nanti wisatawan asing yang datang ke Singapura diharapkan tidak hanya berwisata ke Singapura saja  tapi disatukan paketnya dengan wisata ke Indonesia,” harap Tommy antusias.

Untuk mewujudkan itu, Tommy juga berharap, agar pelaku-pelaku wisata Indonesia dan juga para bupati mempersiapkan daerah wisatanya dengan sebaik-baiknya.  Sehingga saat mempromosikan destinasi wisatanya, sdm-nya telah siap, acara-acara wisata pun di create se-indah dan sekeren mungkin.  Menyontek cara create orang-orang Singapura dalam menciptakan destinasi wisatanya, Indonesia pasti juga bisa.  Apalagi Indonesia memiliki banyak kelebihan tentang wisatanya, terutama wisata alam yang tidak dimiliki banyak oleh Singapura.  Pariwisata Indonesia itu kaya, menarik dan indah.  Tiga poin penting ini sudah bisa menggerakkan agar banyak orang datang ke Indonesia.  Hanya, bagaimana cara mengemasnya untuk tampil lebih beda, lebih keren, lebih asyik itu yang jadi PR besar bagi pelaku wisata dan pemerintah daerah.

“Tidak bisa di pungkiri, Singapura well organize, pinter meng create event.  Taman-taman yang dijual untuk wisata pun banyak yang artificial, buatan. Sementara di Indonesia ada gunung, laut, goa, serta kebudayaan-kebudayaan lainnya, semuanya orisinil, asli,” ungkap Tommy yang sangat mengagumi daerah Banyuwangi ini.

Dubes RI Suryopratomo
Kuliner Ujung Tombak Pariwisata

Nah, bicara soal Banyuwangi, Tommy memang berobsesi untuk mempopulerkan daerah yang terkenal dengan keindahan Pantai Plengkung dan Pantai Pulau Merahnya ini.  Menurut Tommy, Banyuwangi sangat luar biasa, satu tahun ada 99 even dibuatnya.  Tantangan kedepannya adalah, bagaimana mengemas even tersebut secara kreatif, dalam bentuk beda.

“Tinggal kemasannya yang harus dibuat se-kreatif mungkin, dan ini challenge bagi pelaku wisata. Bagaimana kita bisa mengemasnya menjadi sebuah tujuan wisata yang sangat menarik, bagaimana mencreate mitos-mitos yang ada.  Karena  mitos juga jadi  daya tarik plus mendatangkan orang, lho!” ujarnya lagi.

Namun sayangnya, lagi-lagi karena kepentok pandemik, program-program go pariwisata itu masih belum bisa dijalankan.  Baru sebuah wacana, harapan dan semoga akhirnya bisa terwujud juga.  Karena selain Banyuwangi, pria penggemar main sepak bola ini juga siap mempopulerkan terus wisata Indonesia lainnya seperti Bali, Danau Toba, Labuan Bajo, Raja Ampat dan lainnya.

“Tapi, sebelum mempopulerkan tempat wisatanya, awalnya akan saya genjot dulu dengan kulinernya.  Saya pamerkan betapa banyak sajian kuliner khas Indonesia yang lezat dengan racikan rempah-rempahnya yang menggiurkan.  Ini dulu yang akan saya promosikan begitu urusan pandemik ini melunak di Singapura,” ujar penggemar Gudeg Mba Lindu dan Nasi Padang ini semangat.

Sekilas Tentang Tommy

Pria kelahiran Bandung Jawa Barat, 12 Mei 1961 ini, merupakan salah satu tokoh persuratkabaran Indonesia.  Tommy dikenal melalui kiprahnya sebagai pewarta di beberapa surat kabar dan stasiun televisi di Indonesia.  Langkah awalnya menerjuni dunia jurnalistik, saat Tommy menyelesaikan studi pasca sarjananya di IPB. Saat itu Tommy hanya dihadapkan dengan dua pilihan, menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi, atau bekerja. Dan pada akhirnya Tommy memilih bekerja, meskipun pilihannya ini ditentang ayahnya, H.R. Soeharno Tjokroprawiro, yang menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3. Tommy kemudian mengirimkan empat lamaran pekerjaan, dan hanya Kompas yang memanggilnya.

Di harian Kompas inilah, kiprah Tommy sebagai jurnalis makin melejit. Disiplin, penuh tanggung jawab dan fokus, inilah yang mendongkrak karir pria lulusan IPB ini melesat bak roket. Setelah empat tahun bergabung dengan Kompas, Tommy mendapat amanah untuk jabatan wakil kepala desk olahraga. Setahun kemudian Tommy dipindahkan ke desk ekonomi. Setelah dipromosikan menjadi redaktur pelaksana, pada 1 Februari 2000 Tommy akhirnya menerima tongkat estafet dari Jakob Oetama sebagai pemimpin redaksi Kompas, setelah Jakob Oetama menjabat pemimpin redaksi Kompas selama 35 tahun.  Sungguh merupakan kesempatan yang tak terduga.

Kiprahnya di industri media nasional juga makin berkibar setelah Tommy mengemban tugas sebagai ketua Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) untuk masa kerja 2015 -2017.  Yah, dedikasi Tommy dalam mengemban suatu amanah, tak terpungkiri.  Tak heran, posisi penting seringkali mampir dalam karirnya.  Tommy pernah menjadi Direktur Pemberitaan dan Direktur Utama Metro TV, bahkan sebelum diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Tommy termasuk dalam salah satu orang yang lulus seleksi untuk jabatan Dirut TVRI.

Dubes RI Suryopratomo
PVK Group mendapat kesempatan interview exklusiv

Dengan memiliki moto hidup, Tommy berprinsip : hidup ini mengalir, sesuatu yang datang pada kita kerjakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh kesenangan dan antusias, setelah itu biarkan orang lain yang melihat dan menilainya.

Seperti yang selama ini dijalaninya, tak pernah neko-neko, fokus dan maksimal dalam menjalankan apa yang diamanahkan.

Selamat bertugas Pak Tommy, selamat mengemban amanah baru di Singapura!(Niel)