Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Hoat Tamngil merupakan surga tersembunyi di Maluku Tenggara yang menawarkan pesona petualangan ramah lingkungan, ketenangan alam, serta menikmati keunikan pohon bakau berusia ratusan tahun. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi andalan bagi pemburu ketenangan yang ingin lepas sejenak dari rutinitas.

Menikmati keseruan di Mangrove Hoat Tamngil menjadi salah satu rekomendasi wisata di Maluku Tenggara. Kawasan ekowisata seluas 45 hektare yang terletak di Desa Rumadian, Maluku Tenggara ini, menawarkan petualangan yang sangat seru dan mengasyikkan. Ada susur sungai dengan menggunakan speedboat, menyusuri jalur treking kayu, menembus lebatnya hutan bakau serta bertegur sapa dengan beragam biota endemik seperti kepiting mangrove.
Hutan mangrove Hoat Tamngil memiliki keasrian alamnya yang masih alami, menyajikan pengalaman berpetualang di tengah keheningan alam dan rimbunnya pepohonan bakau yang masih sangat terjaga, dengan sambutan suara alam yang terasa begitu merdu, suara burung yang saling bersahutan, riak air berkilau diterpa sinar matahari, dan semilir angin laut yang membawa aroma khas hutan pesisir.

Sensasi yang selalu menyimpan kerinduan, menciptakan keindahan dan me-refresh pikiran untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan ibukota.
Hampir sebagian besar pohon bakau di Mangrove Hoat Tamngil telah berusia ratusan tahun. Warga setempat menjulukinya ‘pohon fosil’, karena pohon-pohon ini memiliki batang dan akar yang sangat kokoh dan rimbun. Panorama pohon-pohon bakau tua ini menambah sensasi tersendiri dalam kegiatan susur sungai. Terbukti, masyarakat setempat tetap menjaga lestarinya ekosistem mangrove di wilayah Hot Tamngil ini.

Hutan Mangrove Hoat Tamngil bukan sekadar pemanis lanskap, melainkan pilar penting bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Menjadi benteng abrasi pantai, karena akar mangrove yang kuat dapat mencengkeram tanah dan meredam hantaman ombak besar. Hal ini mencegah pengikisan garis pantai oleh air laut.
Keberadaan mangrove juga menjadi pariu-paru dunia, karena mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan menyimpan di dalam tanah (karbon biru), sehingga hal ini sangat efektif untuk melawan perubahan iklan.

Dan yang tak kalah menarik adalah, kawasan hutan bakau menjadi tempat memijah, mencari makan, dan berkembang biak bagi udang, kepiting, ikan, serta berbagai jenis burung. Sarang bagi habitat biota laut.
Inilah hutan Mangrove Hoat Tamngil, bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang untuk merasakan harmoni antara manusia dan alam dalam bentuk yang paling murni, merasakan ketenangan yang alami.(*)

