Fenomena Laut Mati di Nias Utara

Hamparan karang di perairan Tureloto muncul ke permukaan, sehingga membentuk semacam benteng beberapa ratus meter dari bibir pantai.

photo by pesona travel
photo by pesona travel

Pantai Tureloto menawarkan sensasi yang tak akan dilupakan. Di bawah cuaca tropis khas Samudera Hindia, traveler bisa berenang dan terapung di tengah laut, tidak takut akan tenggelam. Hamparan karang di perairan Tureloto muncul ke permukaan, sehingga membentuk semacam benteng beberapa ratus meter dari bibir pantai. Benteng karang tadi akhirnya menghalau gelombang laut dan menciptakan semacam laguna dengan air biru yang jernih dan tenang.

Pantai Tureloto terletak di pesisir barat Sumatera, membuat posisi terbenamnya matahari makin menawan. Jelang sore, sempatkan diri untuk berjemur di atas hamparan pasir putih yang menghadap ke barat ini. Secara perlahan, warna jingga di langit berubah menjadi kalbu saat matahari mulai meninggalkan ufuknya. Tidak heran, begitu banyak wisatawan mancanegara rela datang ke sini berburu sunset-nya.

photo by bedah nusantara

Tentu saja, wisatawan yang main ke sini ingin berburu pengalaman terapung di laut mati. Pertanyaannya muncul, kenapa sih benda yang berada di permukaan bisa terapung? Well, jawabannya adalah laut tersebut kandungan garamnya sangat tinggi. Seperti versi Yordania, laut mati ala Pantai Tureloto hadir dengan kandungan garam hingga 33,7 persen atau sembilan kali lebih banyak daripada kandungan garam di laut pada umumnya yang berkisar 3,5%.

Kadar garam yang tinggi membuat air lautnya terasa lebih padat. Sesuai dengan teorinya, ketika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis airnya, maka benda tersebut bakal mengapung. Dengan massa tubuh manusia yang 0,985 gr/cm3, sedangkan massa jenis air laut mati adalah 1,24gr/cm3. Jadi, jangan heran kalau traveler bisa mengapung.

Karena kadar air garam yang tinggi pula, tidak ada kehidupan bawah laut seperti pada umumnya.
Laut mati, baik di Pantai Tureloto maupun Yordania biasanya dipengaruhi oleh kondisi iklim yang kering. Sehingga, evaporasi atau penguapan yang tinggi menyebabkan mineral yang terdapat di dalam air tersebut berubah, ditambah kandungan garam, gipsum dan kapur yang terdapat di sekitar retakan membentuk danau dengan konsentrasi garam yang sangat tinggi.(DT)