Pesona Batu Warna Warni di Pantai Kolbano NTT

Pantainya bertabur batu-batuan berwarna-warni.

Membicarakan kekayaan Indonesia memang tidak ada habisnya. Apalagi pemadangan alamnya yang seringkali menyihir kita untuk terkagum-kagum memandangnya. Yah, aneka ragam bentuk pemandangan tersedia mulai dari pantai, lautnya, daratannya hingga pegunungan, dan masing-masing memiliki keunikan sendiri yang belum tentu ada di tempat lain. Salah satunya adalah pantai Kolbano yang bertabur batu-batuan berwarna-warni.
Pantai ini cukup unik karena nyaris tak terlihat pasir di tepian namun tertutup oleh jutaan batuan dalam berbagai bentuk dan warna. Kita dapat dengan mudah menemukan batu berbentuk hati dengan warna putih atau merah muda untuk diberikan pada pujaan hati. Bagi yang sedang jatuh cinta, jangan lupa mampir ke Kolbano untuk berburu tanda kasih sayang ini.


Dari kota Kupang jaraknya sekitar 135 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam ke arah Soe. Setiba di pertigaan Batu Putih dekat perbatasan Kabupaten TTS dengan Kupang setelah jembatan Noelmina yang cantik itu, pilih jalan yang belok kanan ke arah timur. Setelah pertigaan perjalanan akan melalui medan yang berliku serta disuguhi pemandangan sawah nan hijau dan perbukitan yang masih tampak alami.
Jalannya sendiri sudah relatif mulus walau di beberapa tempat masih ada perbaikan termasuk jembatan yang belum semua diperbaiki. Jalan ini menjadi bagian dari jalan lintas selatan Timor yang tembus sampai Kabupaten Malaka hingga perbatasan Timor Leste di Motamasin. Sebagian memang tampak gersang, hal ini karena Pulau Timor merupakan pulau karang terbesar di dunia.


Selain sebagai obyek wisata yang cukup popular di kalangan turis lokal, di pantai ini juga banyak penambang batu yang berburu warna warninya untuk dijual sebagai souvenir, sebagian lagi memang digunakan sebagai bahan untuk kegiatan konstruksi. Konon batu-batu ini berasal dari muntahan gunung Mutis yang terbawa arus sungai hingga ke tepian pantai. Rasanya tak akan habis batu-batu berjumlah jutaan tersebut walau ditambang oleh puluhan orang setiap harinya.

Keunikan lain adalah adanya batu besar yang cukup tinggi di sudut pantai, lebih dari 20 meter membentuk seperti kepala singa. Beberapa orang tampak mencoba mendaki batu tersebut, namun tak sampai ke puncaknya karena tak ada pijakan yang kuat sehingga berbahaya bagi yang masih nekat mencobanya. Untunglah belum ada berita korban jatuh karena kenekatannya memanjat tebing batu tersebut.


Sebenarnya pantai Kolbano lebih cocok dikunjungi pagi hari untuk menanti sunrise. Namun karena belum tersedia fasilitas penginapan yang representatif dan jauhnya jarak dari Kupang membuat orang lebih banyak berkunjung di sore hari. Fasilitas lain juga masih minim, hanya terdapat beberapa warung kecil saja dan saung untuk berteduh.
Untuk menuju pantai Kolbano sebaiknya membawa kendaraan sendiri atau menyewa dari Kupang, karena sulitnya angkutan umum yang melalui jalan tersebut. Apalagi kalau sudah terlalu sore, dijamin terpaksa harus menginap bila memaksakan diri naik angkutan umum karena tidak ada lagi kendaraan umum yang melintas di malam hari.

Kalau ingin berburu sunrise, berangkatlah sekitar jam 2 dinihari dari Kupang. Namun perjalanan dari pertigaan Batu Putih sangat kurang penerangan sehingga harus berhati-hati melaluinya. Paling enak memang berangkat pagi hari, tiba di sana saat makan siang lalu kembali sore hari agar tidak terlalu malam tiba di Kupang. Toh pemandangan di siang hari tak kalah indahnya walau tanpa sunrise sekalipun.

Walau di tepian pantai, sebaiknya jangan berenang karena ombaknya cukup besar. Maklum posisinya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia yang terkenal ganas. Sudah banyak korban karena masih memaksakan diri berenang lalu hilang ditelan ombak. Kalaupun masih ingin berenang, lihat situasi ombak dan hembusan angin serta gunakan ban pelampung. Duduk manis melihat pemandangan diiringi semilir angin sepoi-sepoi merupakan cara terbaik untuk menikmati indahnya pantai Kolbano.(Diaz/Kuniel)