Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust merupakan pulau-pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Seribu, yang letaknya sangat dekat dengan Jakarta. Berbeda dari pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu yang merupakan pulau penduduk, ketiga pulau ini tidak berpenghuni alias tidak berpenduduk.
Namun, kecantikan alamnya sungguh sangat menawan. Uniknya lagi, ketiga pulau ini masih meninggalkan jejak-jejak sejarah era kolonial Belanda.
Berikut ketiga pulau di Kepulauan Seribu dengan nilai sejarah yang kental.
Pulau Kelor
Pulau Kelor merupakan sebuah pulau kecil yang masuk dalam bagian Kepulauan Seribu yang terletak di perairan utara Jakarta. Meskipun pulau kecil, namun pulau ini menyimpan sejuta pesona dengan segudang sejarah.
Berbagai jejak masa lalu dari zaman kolonial masih dapat dilihat dengan jelas, Benteng Martello dan galangan kapal.

Benteng Martello merupakan benteng pertahanan yang berbentuk bundar, terbuat dari bata merah dan dibangun sekitar tahun 1850 oleh VOC. Pembangunan benteng ini dahulu diperuntukkan untuk mengawasi jalur laut Batavia. Sayangnya, saat ini Benteng Martello sebagian besar rusak akibat letusan Krakatau 1883, namun sisa-sisa strukturnya tetap menjadi daya tarik cagar budaya yang kini bisa dinikmati wisatawan sebagai saksi sejarah era kolonial.
Pulau Kelor merupakan perpaduan unik antara sejarah kolonial Belanda dan keindahan alam tropisnya yang cantik. Dengan pasir putih dan laut yang jernih, menjadikannya spot foto yang unik dan instagramable, sekaligus tempat asyik buat melepaskan segala kepenatan. Pengunjung dapat santai sambil piknik dengan suasana tenang dan pemandangan matahari terbenam yang memukau.
Pulau Onrust
Pulau Onrust letaknya berdekatan dengan dengan pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Bidadari. Selain panorama alam pantainya yang mempesona, Pulau Onrust juga dikenal dengan jejak sejarahnya. Bangunan peninggalan zaman Belanda yang masih ada hingga saat ini yaitu rumah sakit dan penjara yang pernah digunakan pada masa lampau.
Dengan luas sekitar 8,22 hektare, Pulau Onrust juga dikenal sebagai Museum Arkeologi Onrust, karena menyimpan cerita kelam dan peninggalan sejarah sejak abad ke-17 hingga abad ke-20, mulai dari masa kejayaan kerajaan Banten hingga peran pentingnya dalam sejarah kolonial Belanda.

Saat zaman kolonial Belanda, Pulau Onrust memiliki galangan kapal terbaik yang pernah ada saat itu. Pernyataan itu diakui juga oleh seorang penjelajah asal Inggris, James Cock. Hal ini lantaran Pulau Onrust menjadi tempat pembuatan dan perbaikan kapal-kapal yang digunakan untuk memperkuat kekuatan kolonial Belanda.
Belanda menjadikan Pulau Onrust sebagai basis pertahanan laut yang strategis, dengan membangun benteng-benteng yang mengelilingi pulau. Benteng Belanda ini dilengkapi dengan tiga bastion di setiap sudutnya.
Ketika terjadi wabah penyakit menyerang Batavia, Pulau Onrust dijadikan tempat karantina dan menampung para korban yang terkena penyakit tersebut. Pulau ini juga menjadi tempat karantina bagi jemaah haji yang baru kembali dari Makkah, Arab Saudi. Di masa penjajahan Jepang, Onrust bahkan sempat dijadikan penjara bagi tawanan perang.
Total barak yang dibangun sejumlah 350 barak yang dihgunakan untuk menampung ribuan peserta haji. Satu barak dapat menampung 100 orang. Sayangnya, saat ini barak-barak tersebut sudah hancur dan hanya tersisa balok fondasi barak. Begitu pula dengan benteng yang sudah runtuh.
Pulau Onrust sempetn tak tersentuh, setelah lama terbengkalai, tahun 1972 pemerintah menetapkan Pulau Onrust sebagai Taman Arkeologi Onrust. Kemudian tahun 2024 status Pulau Onrust resmi menjadi Museum Arkeologi Tipe A.
Saat ini, artefak yang masih ada di Pulau Onrust yaitu fondasi bastion benteng, fondasi kincir angin, dermaga, bangunan penjara, meriam, makam Belanda dan sisa-sisa bangunan haji.
Pulau Cipir
Pulau Cipir dikenal juga dengan sebutan Pulau Kahyangan. Sama seperti Pulau Onrust, Pulau Cipir pada era kolonial Belanda dijadikan sebagai rumah sakit karantina bagi jemaah haji yang hendak atau baru kembali dari Tanah Suci.

Bersama Pulau Kelor dan Pulau Onrust, Pulau Cipir juga menjadi bagian system pertahanan militer Belanda, membentuk benteng strategis yang melindungi jalur perdagangan dan Pelabuhan Batavia terhadap serangan musuh.
Wisata ke Pulau Cipir, pengunjung akan menemukan reruntuhan bangunan rumah sakit karantina serta benteng pertahanan peninggalan zaman kolonial. Bangunan rumah sakit dengan struktur arsitektur kuno, memberikan nuansa misteri sekaligus unik nan klasik, berada di pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih.
Pantainya yang nyaman menciptakan suasana santai sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Sambil bermain pasir atau berfoto dengan latar belakang laut biru yang memikat, dijamin akan membuat pengunjung ketagihan untuk datang lagi kesini. Apalagi pemandangan matahari terbenamnya, menciptakan panorama alam begitu mempesona.
Satu hal lagi yang membuat Pulau Cipir menarik adalah jembatan yang menghubungkannya dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Sayangnya jembatan ini telah rusak dan tidak digunakan, namun sisa sisa yang masih terlihat mejadi simbol kedekatan sejarah antara ketiga pulau tersebut.(*)

