Yuk, Bergaya dengan Tenun Cual, Kainnya Bangsawan Tempo Dulu

Pembuatannya Makan Waktu Lama dan Butuh Ketelitian Tinggi

Yuk, Bergaya dengan Tenun Cual, Kainnya Bangsawan Tempo Dulu
Melati Erzaldi, Istri Gubernur Babel yang kerap mempopulerkan Tenun Cual

Namanya memang tidak sepopuler Songket Palembang, Songket Padang, Ulos Batak atau Tenun NTT, namun keindahan kain ini tak diragukan lagi.  Kain yang dibuat dengan membutuhkan waktu cukup lama sekaligus menggunakan ketelitian tinggi ini, belakangan mulai dipopulerkan kembali.  Inilah Kain Cual atau disebut juga Kain Tenun Cual, yang merupakan salah satu kekayaan budaya yang berasal dari Melayu Bangka Barat.  Kain Tenun Cual adalah kain tenun seperti songket, yang memiliki warna-warna cerah dan menyala khas kain tradisional Melayu. Motifnya lebih luwes dibanding kain songket daerah lainnya, serta memiliki lebih banyak lengkungan dan selalu dihiasi motif flora dan fauna.

Yuk, Bergaya dengan Tenun Cual, Kainnya Bangsawan Tempo Dulu
Keberadaan Kain cantik ini sempat Menghilang, photo by @kyagoesabuyazid_

Dahulu, Tenun Cual sering dikenakan oleh kaum bangsawan di Mentok, ibukota Kabupaten Bangka Barat, yang bergelar Abang dan Yang, keturunan Ence’ Wan Abdul Haiyat di Kampung Petenon, pada abad ke-18.  Dilihat dari fungsi sosialnya, Tenun Cual merupakan pakaian kebesaran di lingkungan bangsawan Kota Muntok, pakaian pengantin, serta pakaian yang dikenakan pada hari-hari kebesaran Islam.  Tenun Cual juga menjadi persembahan untuk hantaran pengantin ataupun mahar.  Hantaran dan mahar ini menjadi gambaran dari status sosial keluarga pengantin.  Selain itu, Tenun Cual juga digunakan sebagai bahan pajangan di dinding untuk memperindah tampilan rumah serta menunjukkan status sosial penghuni rumah.

Sayangnya, keberadaan Tenun Cual sempet menghilang ketika terjadi perang yang melanda Eropa sekitar tahun 1914, akibat terhentinya pemasok bahan baku untuk membuat tenun.  Juga bersamaan dengan masuknya tekstil China yang lebih diminati.  Akhirnya pada tahun 1990-an, Kain Tenun Cual pun mulai digandrung lagi dan terus dipopulerkan untuk menjaga kelestariannya.

Yuk, Bergaya dengan Tenun Cual, Kainnya Bangsawan Tempo Dulu
Waktu pengerjaannya lama dan butuh ketelitian tinggi, Photo by @looprensbabel

Tenun cual sarat akan nilai dan filosofi yang sangat mendalam.  Tenun Cual memiliki makna celupan awal pada benang yang akan diwarnai. Terciptanya Tenun Cual merupakan perpaduan antara teknik songket dan tenun ikat.  Ciri khasnya terletak  pada susunan motif dengan menggunakan teknik tenun ikat.  Hal inilah yang menjadikan tenun cual sebagai kriya etnik Melayu Bangka dan juga yang  membedakan dengan jenis tenunan dan songket lainnya di Nusantara ini.

Motifnya pun beragam seperti susunan motif Bercorak Penuh atau yang disebut Penganten Bekecak atau sebutan lainnya Pengantin Bersolek, serta motif Ruang Kosong yang disebut Jande Bekecak atau Janda Bersolek.  Motif-motif yang tercipta ini merupakan inspirasi alam sekitar seperti flora fauna dan lainnya dengan detail motif seperti burung hong, naga bertarung, kupu-kupu, kembang gajah, bebek setaman, teratai, seroja atau lotus, kembang kecubung dan kembang china.  Mengingat masyarakat Bangka juga ada yang beragama Islam, untuk motif fauna biasanya bentuknya disamarkan.

Banyak keistimewaan dari Tenun Cual, yaitu memiliki tekstur yang halus, warna benang celupnya tidak berubah, dan jika dipandang dari jauh motif kain tenun ini terlihat timbul. Warna-warna dari Tenun Cual biasanya didominasi warna emas dan merah yang memberi kesan elegan dan menarik. Namun warna-warna lain juga ada seperti warna hijau, ungu, biru dan kuning.

Yuk, Bergaya dengan Tenun Cual, Kainnya Bangsawan Tempo Dulu
Sarat akan nilai dan filosofi yang mendalam, Photo by @tenuncuallestari

Tenun Cual mengandung makna filosofi dan simbolik yang mendalam bagi pemakai dan orang yang memandangnya, hal itu dapat dilihat dari kehalusan hasil tenunan, tingkat kerumitan motif, ide garapan yang dipakai serta warna yang diterapkan pada selembar kain.

Untuk menghasilkan selembar kain Cual, dibutuhkan tingkat kemahiran secara tradisional yang harus dimiliki oleh seorang pengrajin.  Dahulu, para gadis di Muntok sangat mahir dalam menghasilkan Kain Cual ini.  Mereka menghasilkan sebuah kerajinan tradisional berupa pakaian dengan memiliki corak yang sangat khas, yang berbeda dengan daerah lain.  Mereka adalah gadis-gadis tua yang disebut juga sebagai pingitan.  Biasanya, mereka menghasilkan Tenun Cual dengan menggunakan bahan benang emas 18 karat dengan warna dasar kain merah maron, yang juga disebut warna gula mutung alias gula hangus.  Warna ini melambangkan kepedihan hati mereka yang belum mendapatkan jodoh.  Motif-motif yang sering digunakan yaitu motif bunga tabur, limar, pucuk rebung serta naga betarung.

Saat ini, Kain Tenun Cual banyak menggunakan bahan dasar antara lain polyster, sutra, katun, serat kayu, dan benang emas. Proses produksinya ada yang dikerjakan secara masal dan secara manual. Beberapa motif yang diterapkan dalam kain tenun ini yang telah dipatenkan yakni kembang kenanga, bebek, kembang sumping, ubur-ubur, merak, gajah mada, kembang setangkai, kembang rukem, bebek setaman, kembang rukem berantai, dan kembang setaman. Proses tenun dan pembuatan Kain Cual sangat rumit, bahkan bahan-bahan dasar lainnya juga terbilang mahal,  karena ada corak benang emas seberat 18 karat yang diikatkan di Kain Tenun Cual ini.

Dahulu, hanya Kaum bangsawan yang dapat Mengenakan Tenun Cual, Photo by @melatierzaldi

Saat ini, keberadaan Kain Tenun Cual dapat dipakai kapan saja, dan pada acara apa saja. Bahkan di kawasan Bangka, seragam untuk anak-anak sekolah dan pegawai juga mulai memakai kain ini sebagai identitas Kepulauan Bangka.  Tidak saja dalam wilayah BaBel, peminat Tenun Cual juga sampai ke Palembang, Pontianak, bahkan Singapura dan Tanah Melayu lainnya.

Tenun Cual memang menjadi identitas dan kekayaan Nusantara terutama Bangka, dan keberadaan kain ini harus tetap dilestarikan bahkan dikembangkan lebih luas lagi. Warisan budaya bangsa ini tidak boleh hilang lagi serta jangan sampai punah!(Niel/Berbagai Sumber)