Di wilayah Pegunungan Arfak, ada rumah adat yang dikenal dengan sebutan Rumah Kaki Seribu. Sebutan Kaki Seribu ini karena rumah dibangun di atas jejeran tiang penyangga berukuran sangat kecil yang dibuat sedemikian rapat, sehingga tidak ada cela sedikitpun. Sehingga jika dilihat, rumah tersebut memiliki banyak kaki seperti hewan kaki seribu.

Rumah kaki seribu dindingnya terbuat dari kulit pohon butska, atapnya dari tumpukan daun pandan, dan lantainya terbuat dari pohon batang bambu yang ditata rapi. Bentuknya rumah Arfak ini merupakan rumah panggung, tetapi berbeda dengan rumah panggung di daerah lain. Rumah panggung orang Arfak ini tidak memiliki jendela. Alasannya karena ingin menyatu dengan alam, maka dari itu mereka membuat semua pondasinya dari bagian pepohonan.
Rumah tersebut memiliki dua pintu, yaitu pintu depan dan pintu belakang. Selain untuk melindungi diri dari binatang liar, rumah panggung tanpa jendela membuat penghuninya nyaman dan dipercaya aman dari roh jahat. Pada bagian dalamnya, rumah ini hanya memiliki dua bagian saja. Itu berarti tidak ada kamar di dalamnya. Pria dan wanita dipisah, bagian kiri untuk perempuan (ngimsi) dan bagian kanan untuk laki-laki (ngimdi).

Lokasi suku Arfak berada di kaki pegunungan Arfak Papua, tepatnya di kabupaten Manokwari, yang secara geografis terletak di Papua Barat. Rumah Kaki Seribu di Pegunungan Arfak sendiri dikenal dengan ‘Iqkojei’ atau ‘Mod Aki Aksa’.
Rumah Kaki Seribu bisa menggambarkan salah satu warisan budaya nenek moyang suku arfak di Papua yang bernilai sejarah. Keistimewaan Rumah Kaki Seribu, selain sebagai tempat tinggal, juga menggambarkan budaya masyarakat yang memiliki rasa kebersamaan cukup tinggi. Makna yang terkandung dalam Rumah Kaki Seribu bisa menjadi sebuah cermin bagi bangsa Indonesia dalam membangun kebersamaan bermasyarakat. (DT)