Danau Toba dan Kampung Tua Tomok, Ikon 10 Bali Baru di Sumut

Danau Toba bisa dikunjungi dari dua sisi, sisi timur melalui pelabuhan Ajibata di dekat Parapat menyeberangi danau dengan ferry menuju pelabuhan Tomok di Samosir.

Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia dengan luas 1145 kilometer persegi dan berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Danau Toba terjadi akibat letusan gunung vulkanik puluhan ribu tahun lalu membentuk kaldera yang luas. Keunikan danau ini adalah terdapat pulau bernama Samosir di tengahnya dan terdapat beberapa perkampungan Batak Toba yang menyimpan sejarah panjang.

Danau Toba bisa dikunjungi dari dua sisi, sisi timur melalui pelabuhan Ajibata di dekat Parapat menyeberangi danau dengan ferry menuju pelabuhan Tomok di Samosir. Dari sisi barat bisa dilalui jalan darat melalui Pangururan yang hanya dihubungkan oleh jembatan dengan daratan Sumatera. Bila berangkat dari Medan jaraknya lebih dekat melalui Ajibata (175 km) daripada Pangururan (240 km).

Selain dari Medan, sekarang juga ada penerbangan langsung ke Silangit yang jaraknya lebih dekat ke Pulau Samosir, sekitar 75 kilometer dari Parapat. Jadi bagi wisatawan yang ingin langsung menuju Danau Toba tanpa melalui Medan bisa mendarat di Silangit yang statusnya sudah menjadi bandara internasional.

Namun pemandangan indah danau justru dapat terlihat jelas dari Tele, sebuah puncak bukit yang berada tak jauh dari Sidikalang. Dari sini tampak jelas birunya Danau Toba dan hijaunya pulau Samosir dari menara pandang yang dibangun khusus untuk melihat danau dari ketinggian. Oleh karena itu untuk melihat kedua sisi bisa berangkat dari Medan ke Parapat, lalu menyeberang ke Samosir dan pulangnya lewat Pangururan atau sebaliknya.

Setiba di Tomok, wisatawan bisa langsung mengunjungi perkampungan tua Tomok dengan jajaran rumah adat Batak yang mirip dengan Toraja. Konon mereka masih satu suku ketika merantau dari tanah Tiongkok, lalu berpisah di Laut Cina Selatan, satu perahu ke arah Sumatera lainnya ke arah Sulawesi. Rumah yang ada di Tomok masih terpelihara dengan baik, bahkan salah satunya menjadi musium yang menyimpan aneka benda peninggalan nenek moyang mereka.
Kampung tersebut dinamai Tomok karena daerahnya terkenal akan kesuburannya. Karena bekas letusan gunung vulkanik, Pulau Samosir termasuk subur dan masih banyak terdapat lahan pertanian yang digarap penduduk setempat. Kampung Tomok sekarang menjadi salah satu ikon Danau Toba sebagai bagian dari rencana Presiden Jokowi mengembangkan 10 Bali baru.
Ada atraksi unik di Kampung Tomok yaitu kegiatan manortor atau menari bersama boneka Sigale-gale. Boneka tersebut dimainkan oleh seorang dalang dari balik layar, mengikuti tarian adat dan irama musik pengiringnya. Konon dulunya Boneka ini dibuat untuk mengurangi kesedihan Raja Rahat atas meninggalnya putra kesayangannya Manggalae di medan perang. Boneka mirip Manggalae tersebut kemudian dimasuki arwah Manggalae dan ikut manortor menghibur sang raja agar kembali sehat.

Selain itu terdapat makam tua Raja Sidabutar yang telah berusia lebih dari 450 tahun. Untuk berkunjung ke makam kita harus menggunakan ulos yang tersedia di depan pintu makam, karena dipercayai akan terbawa mimpi bertemu Raja Sidabutar bila lupa memakainya. Makam disini, juga di seluruh Pulau Samosir termasuk unik karena jenazah tidak dikuburkan tapi ditaruh dalam suatu tempat dan dibuatkan prasasti penutupnya.

Di jalan masuk menuju Kampung Tomok dari pelabuhan terdapat pasar tradisional yang menjual aneka souvenir khas Batak seperti ulos dan hiasan dari kayu seperti miniatur rumah adat, tameng, alat dapur, dan sebagainya. Para pedagang tampak berusaha merebut hati wisatawan untuk membeli cinderamata dari tokonya. Sebaiknya harganya ditawar terlebih dahulu sembelum membeli karena pedagang biasanya menawarkan harga tertinggi kepada wisatawan.

Kalau membawa kendaraan sendiri kita bisa memutar setengah pulau ke arah utara dan barat menuju Pangururan. Di perjalanan banyak ditemukan rumah-rumah adat sejenis dan makam para leluhur yang ditaruh dalam bangunan, bahkan ada yang bertingkat. Bangunannya sendiri tampak lebih mewah daripada rumah bagi penduduk yang masih hidup. Persis seperti di Toraja yang jenazahnya ditaruh begitu saja di sela-sela gua.

Bicara akomodasi, tak perlu khawatir karena banyak terdapat penginapan di Parapat maupun Tomok. Selain itu kita juga bisa berlayar keliling danau Toba dengan menyewa kapal dari pelabuhan Ajibata, namun tidak bisa memutari danau karena penyempitan dengan ukuran sebesar sungai kecil di Pangururan.(Diaz/Kuniel)