Desa Takpala : Unik dan Instagramable Walaupun Tradisional

Setelah memutuskan meninggalkan Kupang dan memilih explore Pulau Alor, saya merasa perjalanan saya kali ini semakin menarik. Dari Kupang ke Alor saya naik pesawat Trans Nusa sebab saat itu cuaca sedang buruk jadi tak ada kapal yang berlayar ke Alor. Meski dihari pertama tiba sempat seharian disambut hujan namun akhirnya dihari kedua saya bisa bernafas lega setelah matahari kian bersinar dengan terangnya

Saya melakukan perjalanan dari Alor Kecil menuju Alor Besar. Kurang lebih 30 menit lamanya waktu yang ditempuh dari pusat kota Kalabahi hingga Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara. Selama perjalanan, pemandangan pesisir pantai yang lautnya sangat birIMG_20191213_212229u menyapa dari luar jendela. Perjalanan makin lengkap karena saya naik Oto nama kendaraan umum di Alor, dimana bentuknya mirip seperti truk yang terbuka sehingga angin sepoy-sepoy berhasil bikin kebanyakan dari penumpang tidur selama perjalanan. Setelah melewati pantai, kendaraan akan perlu sedikit menanjak kaki gunung menuju Desa Lembur Barat.

Sesampainya di kaki desa, saya melanjutkan perjalanan ke desa dengan berjalan kaki. Sambutan hangat oleh penduduk sekitar menyapa saya di Takpala. Tanpa segan, saya dipersilahkan untuk duduk di area tamu salah satu rumah adatnya. Seorang pemandu lokal yang tinggal di Desa Takpala mulai bercerita tentang latar belakang Desa Takpala, yang dipandu langsung.

Dulunya area Desa Takpala adalah hutan. Suku yang mendiami daerah sini dikenal sebagai Suku Abui, yang artinya orang gunung. Jika Anda sudah merencanakan kunjungan dari jauh-jauh hari, Anda dapat di sambut dengan tarian Lego-lego oleh warga lokal.

Selain itu kita bisa merasakan langsung suasana salah satu rumah tradisionalnya yang menurutku canggih“, kenapa canggih? Walaupun rumah berlantai empat tersebut hanya dibuat dari jalinan bambu, ia bisa menampung hingga 13 kepala keluarga yang didalamnya juga sudah termasuk dapur, tempat tidur dan tempat bertamu!

Lantai 1 digunakan sebagai tempat menerima tamu, lantai 2 untuk ruang tidur dan masak, lantai 3 tempat penyimpanan banyak hal seperti cadangan makanan, dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang adat seperti moko, senjata ataupun barang antik lainnya. Pokoknya lantai paling atas itu menjadi tempat yang paling suci bagi leluhur. Canggihnya, semua itu ditampung dalam satu rumah yang hanya terbuat dari bambu. Kebayang kan gimana mahirnya orang jaman dulu dalam membuat bangunan?

Sebagai tamu, kita diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Suku Abui di Desa Takpala. Baju adatnya membuat kami merasa seperti suku pegunungan yang sesungguhnya! Bagaimana tidak, atribut pria saja dilengkapi oleh panah yang fungsinya biasa dipakai untuk berperang ataupun berburu. Sementara wanita mengenakan atribut berupa balutan tenun Alor yang terlihat premium dan gelang kaki yang menyuarakan gemerincing di tiap hentakkan.

Pemandu kami pun menjelaskan bagaimana caranya memperagakan seorang pria Suku Abui menggunakan panah dalam kesehariannya. Singkat ceIMG_20191213_213346rita, para laki-laki diajarkan cara berpose dengan gaya memanah. Ada juga topi unik yang terbuat dari bulu ayam.

Seperti yang sudah diinfokan diatas jika kita juga bisa menyewa baju adat khas mereka. Lengkap dengan pakaian Adat, senjata dan aksesorinya. Biasanya kalo dalam rombongan kita hanya perlu membayar Rp 50.000 saja per orang yang memakai. Kebetulan saat itu saya sendirian jadi saya berikan saja Rp 100.000.

Tak hanya itu, jika ingin melihat kesenian lengkap dengan tarianya, upacaranya dan detailnya wajib merogoh kocek sekitar Rp 1.500.000 / rombongan. Namun agar semuanya tersusun rapi dan acaranya bisa berjalan lancar maka kita harus menginfokan jauh-jauh hari sebelum kedatangan kita. Intinya buat Anda yang sedang ada di Alor Wajib singgahi dan kunjungi desa adat Takpala, Desa khas Pulau Alor yang masih bertahan lama hingga sekarang.