Melongok Desa Gantong Kampung Halaman Laskar Pelangi di Belitung

Keindahan Desa Gantong

Novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata merupakan novel populer yang mengisahkan masa kecil pengarangnya yang tinggal di sebuah kampung di Belitung Timur. Kisah nyata tersebut diabadikan menjadi obyek wisata di kampungnya sendiri di Desa Gantong sebagai ungkapan rasa terima kasih telah dibesarkan dengan segala suka dukanya.

Sebenarnya sekolah tempat belajar Ikal sang tokoh utama beserta teman-temannya sudah lama roboh. Namun demi mengenang romantika novel Laskar Pelangi dibangunlah kembali replika sekolah Muhammadiyah di desa Lenggang tak jauh dari kampung Gantong. Replika yang kemudian digunakan dalam film Laskar Pelangi sekarang menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Belitung Timur, walau letak yang sekarang jauh dari lokasi asalnya.

Fasilitas yang tersedia antara lain perpustakaan, warung makan, toilet, dan parkiran yang cukup luas. Di sini wisatawan bisa mengabadikan gaya selfie dengan latar belakang replika bangunan sekolah sang pengarangnya yang legendaris tersebut. Namun sebaiknya datang di pagi hari untuk menghindari cuaca panas terik.

Tak jauh dari sekolah tersebut terdapat bendungan Pice Besar yang mengairi sawah sekaligus mengendalikan banjir di wilayah Gantong dan sekitarnya, yang dulu kerap kali tergenang saat sungai meluap akibat hujan. Bendungan ini juga berfungsi untuk mengairi sawah-sawah yang terdapat di Kabupaten Belitung Timur. Jadi para wisatawan dapat sekaligus berkunjung ke bendungan ini setelah menyambangi sekolah tersebut.

Selain itu di tengah kampung tempat kelahiran Andrea Hirata, terdapat Musium Kata sebagai tempat untuk mengenang perjuangannya melawan keterbelakangan dengan membaca buku yang membuka gerbang ilmu pengetahuan. Di sini pengunjung dapat merasakan aura novel Laskar Pelangi yang dipajang di dinding musium, serta lukisan penuh kata-kata bijak yang memenuhi dinding musium kata.

Beranjak ke seberang musium juga terdapat Kampung Fifi yang merupakan tempat kelahiran tokoh keturunan Tionghoa, yang dikenal pernah memimpin sebuah Ibukota negara. Disinilah beliau dibesarkan dan rupanya bertetangga dengan laskar pelangi. Bentuknya berupa rumah panggung tradisional Belitung, yang terbuat dari kayu dimana beliau dibesarkan sejak kelahirannya.

Kampung Gantong sendiri terletak sekitar 70 kilometer dari Tanjungpandan, dengan waktu tempuh sekitar satu jam karena jalannya relatif sepi. Sementara dari bandara HAS Hanandjoeddin berjarak sekitar 61 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 50 menit saja. DIsarankan untuk membawa kendaraan sendiri atau menyewa, karena sulitnya angkutan umum di wilayah tersebut, sekaligus mengunjungi obyek wisata lain yang berada di Pulau Belitung.

Bagi yang penasaran dengan bentuk nyata dari kisah dalam novel Laskar Pelangi, jangan lupa mampir ke Kampung Gantong. Suasana kampungnya sendiri masih tradisional kayu ditandai dengan masih banyaknya rumah-rumah lama, walau sebagian sudah diperbarui dengan tembok. Alam sekitarnya juga masih relatif hijau, perpaduan kebun di perbukitan dengan hamparan sawah di dataran rendahnya. Cocok untuk yang sedang bosan dengan suasana kota yang sumpek dan semrawut.(Diaz)