Mengintip Sukses Usaha Butik De Chantique, di Tengah Pandemik

Desainer Nining Santoso

Nining bersama suami
Nining bersama suami, Photo: IndonesiaTraveler.id

Ketika Pandemi Covid-19 ini muncul, perekonomian pun terkena imbas drastis. Sejumlah pengusaha banyak yang memangkas karyawannya agar usahanya tetap bisa bertahan. Namun, yang gulung tikar pun tak tanggung-tanggung jumlahnya. Bagaimana tidak, tiga bulan stop aktifitas dan menahan diri tidak beroperasional, berarti tidak ada pemasukkan sama sekali, membuat kas kosong melompong.

Menyerah dan pasrah kepada keadaan, jadi hal umum yang dilakukan sejumlah pengusaha, terutama para pengusaha yang bergelut di bidang fashion. Karena penjualan yang masih  berjalan bagus saat ini mayoritas produk kesehatan dan makanan. Namun, diantara para pengusaha fashion yang terkapar, Nining, pemilik brand De Chantique ini, pantang menyerah menghadapi situasi kritis ini. Ketika banyak yang menghentikan produksinya, wanita lulusan sarjana ekonomi Universitas Borobudur ini tetap semangat dan percaya diri. Nining mempertahankan karyawannya untuk tetap menjalankan produksi busana muslimnya. Padahal, rutinitas yang biasa dilakukan, yaitu toko-toko dan butiknya serta sederet pameran yang biasanya rutin diikuti, tutup dan terhenti.

Nining, Desainer yang selalu penuh semangat
Nining, Desainer yang selalu penuh semangat, Photo: IndonesiaTraveler.id

Berjalannya waktu, ternyata pandemik masih terus berlangsung. Sejumlah produksi Nining pun mulai menumpuk.  Beberapa karyawan Nining mulai pesimis. Berbagai ketakutan mulai menggerayangi mereka dan Nining pun keimbas memikirkan keresahan karyawan-karyawannya.

“Sedih begitu melihat produksi saya menumpuk banyak sekali. Tidak seperti biasanya, ketika kelar produksi 200 baju dalam waktu sesaat  langsung habis. Namun kali ini, baju-baju saya keluarnya satu satu, sangat perlahan. Padahal ini moment bulan puasa dimana kami menyebutnya saatnya panen. Namun yang paling membuat saya sedih adalah, dengan seretnya penjualan, saya takut tidak bisa membayar THR karyawan-karyawan saya seperti biasanya,” ujar Nining yang terus menyemangati ke-16 karyawannya untuk tetap optimis dan berdoa.

Nining, Desainer tangguh
Nining, Desainer tangguh, Photo: IndonesiaTraveler.id

Yah, kekuatan doa memang sungguh dahsyat. Keajaiban pun terjadi. Jelang beberapa hari sebelum lebaran, beberapa reseler dari makasar tiba-tiba mengajukan order sejumlah baju dengan nilai fantastis, ratusan juta rupiah. Dengan mengucap rasa syukur yang tak terhingga, Nining merasa lega karena bisa membayar thr dan gaji karyawan-karyawannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Untungnya stock barang ada, jadi kami menyiapkannya tidak makan waktu lama. Klien pun senang karena baju-baju yang diminta diterima tepat waktu. Rasa syukur yang tak terhingga. Ini benar-benar satu mukjizat yang luar biasa, saat pandemik  dimana usaha seperti ini banyak yang mati suri, Alhamdulillah De Chantique masih bisa bertahan, bisa memberikan hak-hak karyawan seperti biasanya,” ujar ibu dari Annisa, Naufal dan Rifqi ini bangga.

Sistem Franchise

Bisa dibilang, Nining merupakan salah satu desainer baju muslim pesta yang sukses karirnya.  Selain memiliki 3 toko di pertokoan ITC Kuningan Jakaarta, serta satu butik di Mal Ambasador Jakarta, Nining juga tidak absen untuk mengikuti pameran-pameran adibusana bergengsi di berbagai kota besar. Setiap kali ikut pameran, tidak sedikit modal yang harus dikucurkannya, paling tidak minimal 40 juta dia persiapkan untuk sewa booth dan lainnya, diluar biaya produksi baju-bajunya.

Dari pameran, selain omset ratusan juta yang diterima, sejumlah reseler pun biasanya berdatangan dan siap membantu memasarkan produknya. Bahkan saat ini Nining sudah mengembangkan usahanya dengan sistem franchise. Terhitung ada 3 pengusaha daerah yang sudah teken kontrak dengan nilai fantastis. Franchise dengan membawa brand De Chantique saat ini ada di daerah Ternate, Semarang dan Banjarmasin. Selain membayar paket franchise yang sudah ditetapkan, kewajiban franchiser setiap bulannya adalah harus membeli produk De Chantique minimal sejumlah 50 juta. Yah, nilai yang terbilang tidak sedikit. Terbayang kan, dari sistem penjualan seperti ini saja, Nining sudah memetik hasilnya.

Kepiawaian Nining dalam menghasilkan busana pesta muslim tidak diragukan lagi. Beragam model yang dia keluarkan selalu hits di hati para wanita. Sejumlah politikus, ibu-ibu pejabat, artis, sosialita dan lainnya menjadi langganan brand De Chantique ini. Di tangan Nining, keinginan para wanita ini untuk tampil anggun mempesona dapat terwujud.

Nining, Desainer
Nining, Desainer, Photo: IndonesiaTraveler.id

Fokus dan Mau Belajar

Memilih untuk menekuni suatu usaha, awalnya memang bukan tujuan utama Nining. Setelah memutuskan keluar dari ‘zona aman’ sebagai karyawan sebuah bank asing pada tahun 2014, Nining berniat fokus untuk mengurus anak-anaknya. Mengantar dan menjemput sekolah. Ternyata, waktu kosong antara mengantar dan menjemput sangat panjang, sehingga untuk mengisi kekosongan waktu tersebut, Nining pun memutuskan untuk membuka toko di bilangan ITC Kuningan Jakarta. Letak toko ini tidak jauh dari sekolah anak-anak dan rumahnya.

“Daripada saya ‘nongkrong’ nggak karuan di mal atau cafe, lebih baik saya buka toko dan nongkrong di toko saya saja,” ujar Nining yang saat itu baru berani menjual baju-baju import dengan model-model kekinian masa itu.

Dari sekedar mengisi kekosongan ini, Nining pun mulai tertarik di dunia fashion.  Sederet kursus ketrampilan seperti membuat pola, menjahit, mendesain baju, dan lainnya mulai diliriknya.  Wanita yang berulang tahun 27 Mei ini fokus dengan apa yang dikerjakannya. Tak heran apa yang dipelajarinya cepat dikuasainya. Dan, sejak itulah, ambisinya untuk bisa memproduksi baju sendiri tumbuh subur pada dirinya.

Nining bersama keluarga
Nining bersama keluarga, Photo: IndonesiaTraveler.id

Ada cerita unik saat Nining memilih usaha memproduksi baju pesta muslim, padahal awalnya dia menjual  aneka baju import. Cerita ini mengalir setiap kali Nining menjaga tokonya. Ada saja customer yang datang menanyakan baju muslim terutama baju pesta muslim. Padahal jelas-jelas yang dipajang disitu adalah model baju umum yang potongan cukup seksi. Anehnya, saat Nining tidak di toko, tidak ada seorang pun yang mencari baju muslim. Begitu Nining menjaga toko lagi, ada saja yang mencari baju muslim. Begitu terjadi sampai beberapa kali. Hingga akhirnya menjadi ide untuk memproduksi baju pesta muslim.

Nining pun mulai mempersiapkan dirinya untuk serius menekuni dunia fashion ini. Dia tidak mau asal, sederet strategi pun langsung dipersiapkannya. Mempersiapkan diri untuk naik kelas, atau meng-upgrade diri untuk layak disebut sebagai desainer, Nining pun banyak belajar. Dia harus menguasai dasar-dasar fashion dan mengembangkannya lebih bagus lagi. Selama setahun Nining ikut berbagai kursus dan pelatihan. Begitu merasa diri sudah mampu, wanita bernama lengkap Wahyuningsih ini pun memulai produksi. Dengan menjadikan garasi rumahnya sebagai bengkel jahitnya, inilah cikal bakal Nining tekun berproduksi baju-baju pesta muslim.

Berjibaku membesarkan produk sendiri memang tidak mudah. Banyak kendala, banyak tantangan, banyak kesedihan tapi exiting untuk tetap dijalani. Mulai dari mendesain dengan beragam pilihan yang menjadi selera banyak wanita (ini merupakan tantangan seru yang mengasyikkan bagi Nining), juga bagaimana menciptakan kerja sama yang baik dengan tukang jahit, sales, dan lainnya. Nining selalu menekankan kepada setiap karyawan yang ingin bergabung, bahwa kalau mau maju bersama yah harus semangat, optimis, kerja keras dan berani mengambil keputusan. Termasuk ketika Nining dengan berani membandrol harga bajunya dengan nilai tinggi, sementara disekeliling toko tempat dia berjualan menjual baju-baju dengan harga sangat murah.

“Kuncinya, saya harus menghasilkan produk dengan kwalitas yang lebih bagus dari baju-baju yang ada di sekeling toko saya. Baik dari modelnya yang tidak pasaran, jahitannya yang berkwalitas juga material bahannya yang tidak sembarang.  Sehingga harga yang ditawarkan pun juga sepadan dengan apa yang didapat,” ungkap wanita yang juga pernah menimba ilmu di Spark Fashion Academi optimis.

Sukses yang sekarang diraihnya, merupakan penghargaan yang didapatnya setelah beberapa kalli jatuh bangun dalam membesarkan usaha ini. Nining pernah merasakan terseok-seok di tipu orang puluhan juta rupiah, bahkan dia pernah mengalami kesulitan yang luar biasa ketika tidak ada uang untuk membayar gaji tukang jahit. Namun, lagi-lagi sikap optimis dan percaya dirinya mengalahkan ‘sikap pasrah’ nya. Nining tidak pernah memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk merasa down. Ketika sedang merangkak, bahkan saat sedang jatuh, Nining menepis mind set kata ‘down’ dalam hidupnya.

Terbukti memang, dengan sikap optimis serta didukung hasil yang berkwalitas, baju-baju pesta muslim berlabel De Chantique ini selalu diserbu banyak wanita, setiap kali Nining memamerkan karyanya dalam beragam pameran bergengsi.

“Yang terpenting, ketika satu keberhasilan ada di depan mata, jangan cepat merasa puas lalu terlena, tapi juga jangan cepat putus asa saat berhadapan dengan masalah. Tetap terus belajar untuk menjaga apa yang sudah tercapai dan banyak introspeksi serta jangan sungkan untuk belajar dari orang-orang yang sukses. Optimis dan doa. Selalu berdoa kepada Sang Khalik, karena kesuksesan itu terjadi juga atas izin Sang Kuasa,” urai Nining yang selalu mendapat support dari sang suami, Gilang Santoso yang kerap mendampinginya dalam membesarkan usahanya ini.

Sebagai penghargaan untuk diri sendiri atas kerja kerasnya ini, Nining selalu menyempatkan diri untuk menikmati keindahan pariwisata, baik luar maupun dalam negeri. Paling tidak, dalam setahun dia mewajibkan dua kali melakukan wisata. Sekali bersama suami dan sekali lagi bersama anak-anak dan suaminya.(Niel)