Merekam Jejak “Rupiah” di Indonesia

Jangan Lupakan Sejarah

Kehadiran Oeang Republik Indonesia (ORI) sangat dramatis dan patut dihargai setinggi-tingginya. Ini karena pada masa prakemerdekaan banyak percetakan ditutup atau dihancurkan, banyak peralatan cetak disita, dan uang hasil cetakan dimusnahkan oleh pihak kolonialis. Bahkan banyak pegawai percetakan ditembak mati karena berusaha menyelamatkan mesin cetak dan hasil-hasil cetakannya.

 Sesungguhnya uang sebagai alat tukar sudah dikenal luas masyarakat Indonesia sejak zaman purba. Pada awalnya, orang hanya menerapkan sistem barter dalam transaksi. Namun kemudian dirasakan sistem itu kurang efisien sehingga orang menggunakan alat tukar yang lebih pantas. Objek yang dipilih adalah benda-benda yang tahan lama dan dikenal banyak orang. Yang paling umum adalah kulit kerang, manik-manik, dan batu. Jenis uang ini dikenal sebagai uang primitif dan dipergunakan pada masa prasejarah.

Tahukah anda Museum Reksa Artha? Memang tak banyak orang yang tahu dengan museum ini atau seterkenal seperti Monumen Nasional maupun Museum Fatahillah. Namun, museum ini memiliki peranan penting bagi sejarah bangsa Indonesia. Museum Reksa Artha yang berarti tempat menyimpan benda-benda sebagai sarana membuat uang dibangun oleh Bapak H. Wahyu Hagono. Ia adalah Direktur Utama Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) pada 15 Desember 1987. Lalu diresmikan pada 30 Januari 1989.

Usai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya menggunakan mata uang seperti sekarang ini. Waktu itu ada tiga mata uang yang berlaku, salah satunya adalah ringgit. Dan baru pada 30 Oktober 1946, Oeang Republik Indonesia (ORI) mulai berlaku dan beredar sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah.

Tidak hanya itu saja lho, ternyata peran para perintis Percetakan ORI mengalami masa yang panjang sebelum uang tersebut disahkan. Dari beragam peristiwa yang membumi hanguskan percetakan-percetakan ORI di daerah seperti Serang, Surabaya, Semarang, dan Malang. Hingga perjuangan idealisme perintis ORI bagi bangsa Indonesia, dengan cara mengeluarkan mata uang sendiri, bukan mata uang milik bangsa lainnya.

Anda juga akan takjub karena mesin-mesin tersebut masih terawat dengan bagus dan tidak berdebu. Dari depan pintu masuk terdapat patung Bapak Widjoyo Soetjipto Di sepanjang dinding museum, anda akan melihat lukisan imajinasi para pejuang percetakan ORI. Di tengah ruangan museum, di sanalah letak mesin-mesin tersebut. Dengan suasana ruangan yang nyaman dijamin Anda tak akan lelah berjalan kaki, karena museum ini hanya terdiri dari satu ruangan besar saja. Kira-kira hanya membutuhkan waktu 30 menit, untuk anda menikmati Museum Reksa Artha.

Museum Reksa Artha ini wajib didatangi, karena museum ini menyimpan berbagai macam mesin cetak, mesin potong, alat foto repro, dan kelengkapan alat lainnya pada masa percetakan ORI sampai dengan Pertjetakan Kebajoran, dan Artha Yasa. Serta hasil produksi percetakan ORI, PN, Perkeba dan Artha Yasa serta Perum Peruri.

Nah…saatnya anda mengenal sejarah mata uang negara kita, karena dengan MELUHURKAN MUSEUM, MEMULIAKAN KEBUDAYAAN.