Yuk, Wisata Sejarah ke Benteng Amsterdam Hila!

Letak Benteng di Samping Pantai Negeri Hila dan Negeri Kaitetu

Benteng Amsterdam
Pemandangan Laut Lepas yang menakjubkan

Yah, peninggalan bersejarah selalu menjadi pusat perhatian banyak orang, apalagi jika peninggalan tersebut memiliki jutaan pesan yang tersirat. Seperti di Maluku ini, terdapat Benteng Amsterdam yang menyimpan beragam cerita historik yang dijamin akan membuat siapa pun yang mengunjungi akan terpukau takjub.

Benteng Amsterdam adalah benteng peninggalan Belanda yang letaknya di perbatasan antara Negeri Hila dan Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.  Jaraknya  sekitar 42 kilometer dari kota Ambon, bisa dicapai dengan mobil memakan waktu sekitar satu jam.

Letak benteng ini tepat berada di samping pantai Negeri Hila dan Negeri Kaitetu.  Secara keseluruhan, Benteng Amsterdam ini sudah memiliki daya tarik tersendiri. Bangunannya sangat kokoh, letaknya pun cukup strategis serta memiliki pemandangan yang indah, membuat destinasi satu ini menjadi spot yang sangat instagramable.

Benteng Amsterdam
Suasana Asri Menyelimuti Lingkungan Benteng

Bangunan utama dari Benteng Amsterdam ini, pertama kali dibangun oleh Portugis yang dipimpin oleh Fransisco Serrao pada tahun 1512 dan dijadikan sebagai Loji perdagangan. Setelah Belanda menguasai pulau Ambon pada tahun 1605, mereka pun mengambil alih bangunan Loji ini dan mengubahnya menjadi kubu pertahanan.

Pada abad ke -17, begitu VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) terbentuk, tempat ini diambil alih, begitu juga seluruh kontrol di Indonesia khususnya Maluku.  Belanda pun mengubah Loji menjadi kubu pertahanan, akibat pertempuran antara Belanda dengan Kerajaan Hitu yang saat itu dipimpin oleh Kapitan Kakialy (1633-1654).  Karena itulah, pada tahun 1963 melalui Gubernur Jenderal Belanda Jaan Ottens, mengubahnya menjadi kubu pertahanan, lalu diperbesar oleh Gerrad Demmer pada tahun 1642, dan dilanjutkan kembali pembangunannya oleh Gubernur Jenderal Anthony Caan tahun 1649.  Pembangunan benteng ini diselesaikan pada tahun 1656 oleh Arnold De Vlaming Van Ouds Hoorn, seorang  tokoh antagonis dimata orang  Ambon, dan dinamakan Benteng Amsterdam.

Benteng Amsterdam
Setelah direnovasi Menjadi Cagar Budaya

Kontruksi bangunan benteng ini seperti sebuah bangunan rumah, Belanda menyebutnya Blok Huis. Atapnya yang berwarna merah merupakan hasil renovasi, bukan seperti aslinya.  Bangunan ini terdiri dari 3 lantai, pada lantai satu lantainya berbata merah dan berfungsi sebagai tempat tidur para serdadu.  Lalu lantai dua dan lantai tiga dengan lantai berkayu besi, lantai dua berfungsi untuk tempat pertemuan para perwira dan lantai tiga berfungsi sebagai pos pemantau . Bagian paling atas merupakan menara pengintai. Setiap dinding memiliki jendela dengan bentuk lengkung di atasnya, dan memiliki daun jendela yang terbuka lebar, agar udara mengalir bebas dan cahaya matahari memberikan penerangan di siang hari.

Di benteng ini pernah tinggal seorang naturalis dan ahli sejarah Jerman bernama George Everhard Rumphius (1627-1702).  Dia menulis buku-buku tentang flora dan fauna yang terdapat di pulau Ambon (Ambonsche Rarietitenkamer, Herbairium Amboinensche dan Ambonsche Landbeschrieving). Rumphius orang yang pertama kali menemukan Anggrek khas pulau Ambon yang diambil dari nama Istrinya, Floss Susana.  Rumphius juga menulis tentang gempa dan tsunami yang melanda Maluku dalam bukunya yang berjudul “Waerachtigh Verhael Van de Schrickelijck Aerdbevinge”. Gempa dan tsunami itu mengakibatkan kerusakan parah desa-desa dipesisir utara pulau Ambon dan bagian selatan pulau Seram.

Benteng Amsterdam Hila
Bentuknya Kotak dengan Atap Genteng Warna Merah

Benteng ini ditinggalkan oleh bangsa Belanda pada awal 1900 dalam keadaan rusak dan telah ditumbuhi sebatang pohon beringin besar.  Sayangnya pohon beringin besar ini sudah ditebang, ketika departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kantor Wilayah Propinsi Maluku, memugar benteng ini sekitar bulan Juli Tahun 1991 hingga bulan Maret tahun 1994.  Pemugaran kembali benteng ini berdasarkan gambar dalam buku Beschreiving van Amboinan (Uraian tentang pulau Ambon) karangan Francois Valantyn tahun 1772.

Saat ini, Benteng Amsterdam banyak didatangi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.  Jika Traveler berdiri di atas pembatas benteng tempat dahulunya diletakkan meriam-meriam pertahanan, pandangan langsung dimanjakan oleh indahnya lautan lepas yang menakjubkan. Ombak biru yang bergulung-gulung saling mengejar, hijaunya barisan pepohonan di pantai berpasir halus, menambah indah dan asri suasana Benteng Amsterdam ini.(Niel)