Candi Muara Takus, Situs Candi Buddha Tertua di Sumatera

Memiliki 4 bangunan, keempat candi tersebut berada di kawasan yang sama.

foto by gnfi

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera yang bersifat Buddhis dan arsitektur candi yang dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Bangunan ini mempunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar.  Tempat bersejarah ini merupakan penginggalan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke VII-XI masehi. Selama ini, tak banyak yang tahu ada candi di Riau, apalagi Bumi Lancang Kuning dikenal sebagai pusat kebudayaan Melayu.  Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan  XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Lokasinya berjarak sekitar 135 kilometer dari Pekanbaru, Riau. Candi ini terletak di dekat sungai Kampar Kanan atau pada garis khatulistiwa koordinat 0°21 LU dan 100°39 BT.

foto by asosiasigurusejarahriau

Candi Muara Takus memiliki 4 bangunan. Keempat candi tersebut berada di kawasan yang sama, sehingga mempermudah Traveler untuk mengunjunginya.

Pertama Candi Tuo, candi terbesar dengan ukuran kurang lebih 32 x 21 meter. Terbuat dari pasir, batu bata yang dicetak, dan campuran batu lainnya.  Candi ini dikenal dengan sebutan Candi Sulung yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki Candi Tuo masing-masing memiliki tinggi 2,37 m dan 1,98 m. Pada bagian atapnya menyerupai bentuk stupa yang terpotong. Candi Tuo juga tidak menunjukkan ciri yang mirip dengan candi-candi Jawa, yaitu ruang kosong di bagian tengah untuk meletakkan arca.

foto by riosaputra

Bangunan kedua yaitu Candi Mahligai, yang memiliki kondisi fisik paling utuh dibandingkan candi lainnya di kompleks Candi Muara Takus. Bentuk candi ini menyerupai lingga atau alat kelamin laki-laki dan serupa dengan bentuk candi yang ada di India dan Thailand.  Candi Mahligai dibangun dalam dua tahap. Proses pembangunan tersebut dapat dilihat dari bagian dasar candi yang tampak berbeda dengan bangunan candi secara keseluruhan. Konon, dahulu ada empat patung singa pada empat sudut fondasi candi ini. Namun, kini keberadaan patung singa tersebut sudah tidak terlihat lagi.

Selain kedua candi besar tersebut, ada dua candi lagi yang bernama Candi Bungsu dan Candi Palangka. Candi Bungsu hanya berjarak 3,85 m dari sebelah timur Candi Mahligai. Bagian Candi Muara Takus yang satu ini terdiri dari bangunan dengan panjang 13,2 meter dan lebar 16,2 meter. Bentuk Candi Bungsu sangat mirip dengan Candi Tuo tetapi bagian atasnya sedikit berbeda karena berbentuk persegi.

foto by finaputri_nuramin

Seorang peneliti bernama Yzerman pernah menemukan abu, tanah, dan tiga keping emas di dalam lubang pada tepi padmasana stupa. Selain itu, satu keping emas bergambar trisula dengan tiga huruf nagari juga berhasil ditemukan pada dasar lubang tersebut.

Kemudian yang terakhir Candi Palangka. Candi ini terletak di sebelah timur Candi Mahligai. Ukurannya tidak terlalu besar dengan lebar 5,7 meter, panjang 5,1 meter, dan tinggi 2 meter.  Berbeda dengan candi lainnya, candi terkecil di Muara Takus ini hanya tersusun dari bata merah. Sebelum dipugar pada tahun 1987, bagian kaki Candi Palangka sempat terbenam sedalam satu meter.  Dilihat dari bentuknya yang sangat datar dan lebar, Candi Palangka diyakini digunakan sebagai altar pada zaman Kerajaan Sriwijaya.

Menurut beberapa sumber terdapat dua versi cerita penemuan candi ini. Pertama candi ini ditemukan oleh J.W. Yzerman pada tahun 1889 yang tidak sengaja menemukan saat berkelana di hutan Sumatera.

Kemudian versi kedua dan paling terkenal, candi ini ditemukan pada tahun 1860 oleh seorang arkeolog bernama Cornet de Groot.  Dia merupakan seorang insinyur pertambangan Belanda yang sedang menjelajah ke pedalaman Sumatera, dan pada tahun 1858 mendapati reruntuhan negeri tua.  Mulanya dia mengira itu bekas benteng Inggris.  Setelah mencermatinya baik-baik, Groot beranggapan itu sisa-sisa peradaban Hindu.  Dari rakyat setempat, dia beroleh kabar negeri itu bernama Koto Candi.  Groot lantas menulis naskah bertajuk Kota Tjandi. Dimuat dalam Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, edisi 1860.

Banyak akses menuju Candi Muara Takus, salah satunya dari Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Dari bandara, traveler naik Trans Metro Pekanbaru 1 Pandau – Pelita Pantai turun di pertigaan Sudirman-Tuanku Tambusai. Kemudian ganti mobil Trans Metro Pekanbaru 2 Kulim – Terminal BRPS dan turun di pemberhentian akhir. Dari Terminal BRPS naik bus jurusan Pekanbaru – Payakumbuh/Bukittinggi/Padang atau naik travel Pekanbaru – Bangkinang. setelah itu turun di simpangan Jalan Batu Bersurat. Dari situ traveler kemudian naik angkot atau ojek menuju Candi Muara Takus.

Harga tiket masuk Candi Muara Takus yaitu Rp15 ribu, namun sebelum traveler berkunjung ada baiknya hubungi terlebih dahulu pengelola destinasi wisata ini untuk memastikannya. Sementara itu, Candi Muara Takus buka pukul 08.00 WIB dan tutup jam 18.00 WIB. (IPG)