Indahnya Pemandangan Jembatan Soekarno Manado

Manado terkenal dengan istilah 3B nya, Bubur, Bibir, dan Bunaken, belakangan ditambah satu B lagi yaitu Boulevard. Bubur Manado terkenal karena buburnya terdiri dari sayuran dan jagung dengan kuah bening kental, bukan dari beras atau kacang seperti di tempat lain. Bibir Manado menandakan gadis-gadis di kota ini cantik-cantik, namun jangan berpikir negatif dulu, karena bibir di sini juga bisa berarti bibir ikan yang lezat untuk disantap.

Bunaken semua orang pasti sudah tahu bahwa nama tersebut adalah sebuah pulau kecil tempat snorkling karena terumbu karangnya cantik dan masih terawat dengan baik. Nah, B yang terakhir ini juga jadi perbincangan karena merupakan jalan protokol di sepanjang pantai Manado. Dengan selesainya pembangunan Jembatan Soekarno, Boulevard I dan II menjadi tersambung seluruhnya.

Jembatan Soekarno sebagai penghubung jalan Boulevard memiliki cerita tersendiri. Pembangunannya dimulai pada era Megawati dan baru selesai diresmikan oleh Presiden Jokowi 12 tahun kemudian. Jembatan tersebut sempat mangkrak pembangunannya karena kondisi tanah yang tidak stabil sehingga harus dilakukan perhitungan ulang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jembatan yang memiliki panjang 1.127 meter dengan lebar 17 meter ini pertama kali dibangun tahun 2003 namun sempat berhenti hingga dilanjutkan kembali tahun 2015 lalu. Jembatan ini melintasi pelabuhan Manado dan Sungai Tondano untuk menghubungkan pusat kota Manado dengan bagian utara yang selama ini harus memutar ke arah timur terlebih dahulu. Dinamai Jembatan Soekarno sebagai penghormatan atas jasa-jasa presiden pertama Indonesia tersebut terutama bagi masyarakat Manado yang terkenal sebagai pendukung berat beliau.

Setelah selesai berwisata dari Bunaken, pemandangan jembatan tampak jelas dari kapal yang membawa kembali ke pelabuhan sehingga memudahkan para pecinta foto untuk berburu gambar jembatan yang futuristik tersebut. Bentuknya yang menggunakan kabel sebagai penyangga seperti di Suramadu atau Batam, turut memperindah pemandangan jembatan sehingga fungsinya tak hanya sekedar menjadi penghubung tapi juga sebagai obyek wisata.

Sayangnya, kendaraan tidak boleh berhenti di sepanjang jalan di atas jembatan tersebut sehingga bagi yang ingin berwisata harus memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu di kompleks pertokoan Marina Plaza atau di Pasar Bersehati. Selanjutnya wisatawan harus berjalan kaki menuju jembatan, untuk berselfie ria dan menikmati semilir angin laut yang menghembus ke arah jembatan.

Bagi wisatawan atau yang sedang berdinas di kota Manado, sempatkan untuk mampir ke Jembatan Soekarno barang sekejap saja. Pemandangannya tak kalah indah dari Jembatan Balerang di Batam, Barito di Kalsel, atau Jembatan Suramadu. Model jembatannya sama yaitu jembatan gantung dengan penyangga. Bedanya Jembatan Soekarno hanya memiliki satu penyangga seperti di Jembatan Pasopati Bandung.

Tak jauh dari jembatan Soekarno terdapat kampung warna warni ala Manado yang disebut Kampung Pelangi di bukit Tursina. Di sini terdapat tulisan ‘Welcome to Manado’ yang dapat dipotret dari jembatan Soekarno. Memang kampungnya belum semeriah yang di Malang, namun paling tidak bisa mengatasi kekumuhan di sekitar jembatan.(Diaz/Kuniel)