Martabak HAR: Rasa Itu Tak Berubah

Yah, martabak HAR adalah martabak India dari kota Palembang. Martabak telor dengan kuah kari yang diberi potongan kentang atau yang spesial dengan daging. Serta saus dengan potongan cabe hijau. Kentalnya kari disebabkan oleh kentang yang menjadi salah satu bahan pembuat kuah. Potongan-potongan daging pun menambah gurih kuah berbumbu ini. Tampak sederhana, namun rasanya benar-benar istimewa.

Sebutan HAR sendiri mengacu pada pemiliknya, yaitu Haji Abdul Razak. Dan beliau adalah merupakan warga negara India yang merantau ke daerah Palembang, Ia merupakan saudagar kaya raya nomor satu di Palembang. Martabak HAR Palembang berdiri pada tanggal 7 Agustus 1947, Cita rasa dari masakan tersebut tetap sama dari awal mula ia berdiri dan sudah memiliki 8 cabang di wilayah Palembang dan beberapa kota besar termasuk Jakarta.

“Kami selaIMG-20191219-WA0054lu menjaga rasa martabak tidak berubah, karena resep ini sudah turun temurun,”ujar Sabir, pemilik Martabak HAR yang beralamat di Jl. Radio Dalam Raya No.20D, Jakarta Selatan. Anda pecinta martabak ini juga dapat pesan melalui delivery, Telp. 021- 7251 409 atau 0822 1111 5916

Awal perkenalan saya dengan masakan ala India ini ketika saya selepas meeting dengan kawan bernama Erwin Herlambang dan Umi Kalsum, “Yuk..ikut kita mampir ke Martabak HAR sebentar,”teriak Erwin kepada kawan-kawan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari coffe shop akhirnya kami sampai disebuah ruko berlantai dua dibilangan Radio Dalam. Ruko itu tipikal ruko-ruko makanan lain sepanjang Radio Dalam. Ruangannya luas dan penerangannya agak redup. Mejanya besar-besar dan dikelilingi kursi berbantalan tipis. Para pelanggan tersebar di meja-meja itu. Ada yang bersama-sama karib kerabat, ada pula yang sendiri saja dan menyibukkan diri membaca majalah atau gagdetnya.

Tak lama menunggu, pesanan saya pun tiba. Bersama martabak telur itu, penyaji juga menyertakan semangkuk kecil kuah kari (berisi potongan kentang dan daging kambing) dan sedikit cuka ala pempek plus potongan cabe rawit. Air selera saya terbit di rongga mulut, pertanda sudah tak sabar lagi untuk mencicipi martabak telur ala Martabak Har.

Ketika asap martabak masih mengepul, saya tuangkan kuah kari ke pinggIMG-20191219-WA0051an martabak. Bunyi “Kresss…” keluar dari kulit martabak ketika saya mulai menyendok. Mencurigakan; pasti lezat, batin saya. Benar saja. Yang masuk ke mulut saya sore itu adalah kombinasi rasa gurih kulit martabak dan asin, pedas, rempah yang kaya dari kuah kari.

Walaupun isinya bersahaja telur, cita rasa martabak telur sesungguhnya adalah warisan dari kebudayaan rempah nusantara. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa dalam martabak ada juga pengaruh kebudayaan India, pada zamannya India juga pernah jadi sentra perdagangan lada dan rempah lain.

Tak terasa satu porsi martabak telur itu tandas. Semuanya, kecuali alat makan, masuk ke dalam perut saya tanpa sisa. Perut saya sudah tak keroncongan lagi. Harga satu porsi martabak itu sebenarnya tidak terlalu mahal, hanya sekitar 33 ribu sampai 110 ribu. Kalau mau nambah bisa saja, lagiaIMG_20191219_181813n rasa karinya juga enak sekali.

Setelah membayar, saya keluar dari Restauran Martabak HAR yang legendaris itu dengan masih dibayang-bayangi kelezatan martabak telur dan kari daging kambing. Makanan lezat memang begitu, membuat kita ingin mencicipinya terus-menerus. Saya geleng-gelengkan kepala menghalau godaan untuk kembali ke Martabak HAR.