Masih Ada Pulau “Surga” di Jakarta

 

Pulau Bira dan Pulau Kayu Angin Bira , ibarat surga kecil yang jatuh di bumi. Keindahannya yang menakjubkan memang sungguh menggoda siapapun yang datang.Lautnya yang jernih dengan ribuan ikan di terumbu karang dapat dengan mudah dinikmati dari atas kapal, menjadi impian banyak orang untuk datang di salah satu kepulauan seribu di Utara Jakarta. 

 Akhirnya sampai juga setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari dermaga Pulau Harapan, kaki dapat langsung merasakan hangatnya hamparan pasir putih di Pulau Bira. Dermaga dengan air laut jernih, kolam ikan hiu dan bandeng yang dangkal, sejenak memanjakan mata kami. Tidak ada kapal dari Pelabuhan Muara Angke yang langsung ke Pulau Bira. Beberapa tahun lalu, ada kapal cepat yang bisa mengantarkan langsung ke Pulau Bira karena dahulunya pulau ini merupakan pulau resort yang dikelola dengan baik, sebelum akhirnya ditutup oleh pengelolanya. “Resort ini tapi masih dapat disewa koq mas..,”ujar Munawar pemandu kami.

Pulau Bira. Pulau yang mempunyai luas 14 ha ini dahulu adalah sebuah resort yang mempunyai lapangan golf 9 holes. Kini lapangan golf tersebut telah tertutup ilalang dan tidak terlihat lagi, begitu pula dengan kolam renangnya, terlihat sama sekali tidak terawat.
Ada sekitar 20 cottage di sana. Namun semenjak tahun 2005, resort ini ditutup. Penjaga pulau memanfaatkan 8 cottage untuk disewakan kepada umum, karena kondisi bangunan dan furniture masih layak untuk disewakan.

Panorama yang disajikan Pantai Bira juga sangat mengagumkan. Pantai pasir putihnya yang bersih terlihat cantik, kontras dengan warna biru air laut. Menyegarkan setiap mata yang memandang.Saat ini, Pulau Bira mulai dipadati banyak pengunjung. Kebanyakan wisatawan yang datang menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai di pantai atau pun berenang. Setelah jepret sana jepret sini dan mengelilingi Pulau Bira, kami bersiap untuk bersnorkeling. Dan spot kami pertama adalah di pulau Macan. Meskipun banyak bulu babi, namun terumbu karang di pulau ini lebih beragam. Banyak sekali soft coral yang berwarna-warni. Hhhmmm…keindahan bawah laut yang begitu mengagumkan, mengingatkan saya sewaktu di Raja Ampat. Puas bersnokling-ria selama kurang lebih satu jam, akhirnya Munawar memberi isyarat untuk pindah spot snorkeling menuju Pulau Kayu Angin Bira.

Pulau Kayu Angin Bira adalah pulau tak berpenghuni yang luasnya hanya 500 meter persegi. Pantainya berpasir putih lembut dengan hutan di tengah pulau. Benar-benar terasa hanya kami yang berada di pulau ini.
Ketika sampai, kami harus berbasah-basahan untuk bisa ke daratan karena kapal tidak bisa bersandar terlalu dekat. Kami harus ekstra hati-hati karena banyak bulu babi di sela-sela karang. Dari atas kapal saja sudah jelas terlihat duri-duri hitam beracun mencuat.
Setelah berkeliling pulau saya kembali ke kapal untuk menikmati laut, snorkeling. Kami ke Pulau Bira Kecil yang masih dalam gugusan Pulau Bira. Memakai peralatan yang telah disediakan, kami satu-persatu berenang menikmati laut.
Arus laut sore itu cukup tenang membuat kami bisa dengan santai menikmati karang. Karang di pulau ini cukup bagus meskipun tidak terlalu jauh dari Jakarta. Saya berenang mengikuti Pak Rusli menuju sisi pulau lain. Ia menjelaskan sedikit tentang jenis karang dan bintang laut.
Sesekali ia menyelam dan mengambil contohnya. Saya pun penasaran dan ikut menyelam hanya menggunakan alat sederhana. Pengalaman pertama saya snorkeling di laut cukup menarik dan mengasyikan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Herman fotografer kami sibuk mempersiapkan peralatan untuk pemotretan sunset dari pulau ini. Karena menurut Munawar, hampir semua fotografer selalu mengabadikan saat sunset dari pulau ini. Benar saja perlahan menjelang maghrib warna langit berubah kekuningan dan merah seiring tenggelamnya matahari. Saya pun turut menikmati prosesi ini sambil duduk dihamparan pasir putih yang begitu lembut.

Hati selalu rindu menikmati indahnya alam ini. Pikiran terus terbayang pemandangan indah di Utara Jakarta. Dari perjalanan ini pula saya berkenalan dengan orang-orang ‘gila jalan’ yang sulit untuk disembuhkan. Rela untuk tidak sembuh lebih tepatnya.