Melongok Garuda Pancasila di Musium Keraton Kadriyah

Di ruang utama terdapat berbagai foto dan gambar mengenai proses terciptanya burung Garuda lambang negara Republik Indonesia.

Banyak orang mungkin tidak tahu bahwa lambang negara Indonesia Garuda Pancasila diciptakan di Pontianak, tepatnya oleh Sultan Hamid II di Keraton Kadriyah. Lokasinya juga agak terpencil, berada di kota lama yang jauh dari hiruk pikuk pusat kota Pontianak. Untuk menuju ke istana harus menyeberangi sungai Kapuas menggunakan ketinting atau melalui jembatan Kapuas I, setelah itu ada perempatan belok ke kiri ke arah Kampung Dalam.

Sultan Hamid II sendiri adalah Sultan Pontianak ke-7 yang menjabat sejak tahun 1945 hingga wafatnya tahun 1978, menggantikan ayahnya Sultan Syarif Muhammad Alkadrie yang meninggal akibat dibunuh oleh tentara Jepang, dalam peristiwa Mandor bulan Juni tahun 1944. Sultan Hamid II memprakarsai Kesultanan Pontianak dan kerajaan lainnya di Kalimantan Barat untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Sebagai penghargaan Sultan Hamid II ditunjuk menjadi Gubernur Kalimantan Barat yang pertama tahun 1947. Pada tanggal 17 Desember 1949, beliau dilantik menjadi menteri negara tanpa portofolio, dan ditugaskan untuk menyusun rancangan gambar lambang negara pada tanggal 10 Januari 1950. Dari sayembara yang diadakan oleh Menteri Priyono, masuk dua gambar terbaik rancangan Sultan Hamid II dan Muhamad Yamin, namun rancangan Muhamad Yamin ditolak karena ada unsur matahari yang menunjukkan adanya pengaruh Jepang.

Kesultanan Pontianak sendiri termasuk unik karena didirikan oleh seorang keturunan Arab bernama Syarif Abdurrakhman Alkadrie, yang membuka hutan di sekitar persimpangan sungai Landak, Kapuas Kecil, dan Kapuas Besar pada tahun 1771. Beliau mendirikan istana Keraton Kadriyah sebagai pusat kekuasaan sekaligus tempat tinggal raja yang selesai dibangun tahun 1778 Masehi.

Sekarang keraton Kadriyah berubah menjadi musium yang menyimpan berbagai koleksi sejarah Kesultanan Pontianak. Seperti laiknya kerajaan, singgasana menjadi koleksi utama yang masih dipelihara dengan baik dan masih digunakan untuk kegiatan tertentu. Selain itu, di ruang utama terdapat berbagai foto dan gambar mengenai proses terciptanya burung Garuda lambang negara Republik Indonesia oleh Sultan Hamid II, serta silsilah kesultanan mulai dari Sultan pertama hingga terakhir.

Di bagian belakang tersimpan benda-benda seperti pakaian kerajaan, jam dinding, dan pernak pernik kerajaan lainnya. Namun ada satu keunikan yaitu terdapatnya gamelan khas Jawa, yang merupakan hadiah dari Sultan Solo kepada Sultan Pontianak. Selain itu terdapat dua meriam kecil berwarna kuning yang disimpan dekat singgasana.

Bangunan keraton sendiri berwarna kuning yang merupakan ciri khas keraton melayu baik di Kalimantan maupun Sumatera. Bentuknya semi rumah panggung dengan bagian tengah, terdapat singgasana, sebelah kiri dan kanan adalah kamar-kamar sultan dan anak-anaknya. Bagian belakang sepertinya dulu dipakai sebagai ruang rapat sekaligus ruang makan, namun sayangnya tak ada lagi meja di ruangan tersebut.

Di halaman depan dan samping terdapat meriam kuno peninggalan Portugis dan Perancis, yang digunakan saat berperang melawan Belanda. Lalu tak jauh dari keraton terdapat masjid jami Pontianak yang didirikan bersamaan dengan keraton sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak.

Bagi pecinta sejarah yang sedang berada di Pontianak, jangan lupa mampir ke Keraton Kadriyah. Disinilah saksi bisu terciptanya Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II yang menjadi Sultan Pontianak sekaligus menteri negara tanpa portofolio. Tidak ada tarif khusus namun disarankan untuk menyumbang seikhlasnya demi perawatan keraton yang sudah semakin tua.(Diaz/Kuniel)