Mengenal Masjid-Masjid di Negara Minoritas

(Part 1)

Mesjid Seoul Central, Korea Selatan
Mesjid Seoul Central,

Meskipun Islam bukan agama mayoritas di negara berikut ini, namun rumah ibadahnya tetap dibangun dan dijaga keberadaannya. Malah bangunan masjid disana sangat megah dan indah. Tak heran, selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid-masjid di negara minoritas ini juga berfungsi sebagai tempat wisata. Tapi, tetap ada aturan bagi wisatawan non muslim yang ingin berkunjung kesini. Toleransi umat beragamanya sangat baik.

Seoul Central Mosque, Itaewon – Korea Selatan

Seoul Central Mosque merupakan masjid pertama yang berada di kota Seoul yang dibangun oleh pemerintah Koreal Selatan pada tahun 1976. Masjid mewah pertama yang ada di Korea Selatan ini juga menjadi salah satu pusat muslim. Bangunannya seluas 427 meter persegi dan mampu menampung hingga 800 orang jemaah. Masjid Pusat Seoul ini berada di distrik Yongsan-gu, Itaewon, tepatnya di 39 Usadan-ro 10-gil, Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul, South Korea

Pembangunan masjid pertama ini juga dibantu oleh negara Islam lainnya terutama Arab Saudi. Masijid berlantai ini memiliki beberapa fungsi, selain sebagai tempat ibadah, Seoul Central Mosque juga menjadi kantor Federasi Muslim Korea. Disini juga ada madrasah sebagai sarana pendidikan Islam bagi anak-anak, juga Pusat Penelitian Kebudyaan Islam dan Organisasi Islam lainnya.

Hal lainnya, Seoul Central Mosque juga dimanfaatkan sebagai lokasi wisata oleh warga setempat. Masjid ini memiliki keindahan arsitektur bangunannya, tak heran menjadikan masjid tersebut menarik dan unik untuk dikunjungi. Saat-saat ramai terutama pada akhir pekan. Banyak pengunjung yang datang untuk pengajian, memperdalam tentang Islam dan berdiskusi tentang Islam, atau sekedar untuk berlibur.

Masjid ini disertai dengan ruangan lain yang difungsikan bukan untuk beribadah. Ada beberapa ruangan untuk kantor, rapat, belajar, pengajian dan juga untuk konferensi. Tak hanya itu saja, ada pula ruangan yang dibangun khusus untuk menginap bagi pekerja asing.

Masjid Al Rashid, Canada
Masjid Al Rashid, Canada

Canadian Islamic Center, Masjid Al-Rashid, Kanada

Masjid Al-Rashid Edmunton atau Canadian Islamic Center (Al-Rashid) terletak di 13070-113 Street, Edmunton, Alberta T5E 5A8, Kanada. Merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Negara Kanada.

Masjid ini juga merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Negara Kanada, sedangkan Islamic Center nya menjadi organisasi komunitas Islam terbesar di Edmunton.

Bangunan Masjid Al-Rashid pertama kali diresmikan penggunaannya pada tahun 1938 oleh John Wesley Fry, Orang Keturunan Arab Kristen yang saat itu menjabat sebagai walikota. Pada tahun 1982, Renovasi Masjid Al-Rashid dilakukan, karena pada saat itu ukuran masjid masih terlampau kecil, sedangkan jamaahnya semakin bertambah. Tahun 1991, bangunan Masjid Al-Rashid dipindahkan ke lokasi saat ini di Fort Edmunton Historical Park. Bangunan masjid tersebut memang dengan sengaja dipindahkan ke wilayah Historical Park / Taman Sejarah, bersama dengan bangunan yang memiliki sejarah lainnya.

Sebuah kubah besar dan menara tinggi terpisah dari bangunannya juga turut dibangun untuk melengkapi keindahan dan ciri khas masjid. Sebelumnya, bangunan asli Masjid Al-Rashid menggunakan arsitektur bangunan yang lebih mirip dengan gereja, karena memang pada saat itu arsitektur bangunan ibadah di Kanada hampir semuanya mengadopsi bentuk gereja.

Bangunan Masjid Al-Rashid kemudian dibangun dengan denah persegi panjang dengan satu pintu utama. Bangunannya pun secara keseluruhan mirip dengan gereja yang memiliki ruang basement, ciri bahwa bangunan tersebut adalah masjid hanya dapat di ketahui dari 2 menara yang terletak di kedua sisinya saja.

Rusia, Blue Mosque St Petersburg
Rusia, Blue Mosque St Petersburg

Blue Mosque (Masjid Biru), St Peterburg – Rusia

Masjid Biru St Peterburg berada di pusat kota, tak jauh dari Sungai Neva dan Benteng Pete & Paul yang ikonik di Rusia. Didominasi warna biru, masjid ini sesungguhnya bernama Jamul Muslimin, tapi lebih sering dijuluki sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Awal mula masjid ini dibangun pada tahun 1910, bertujuan untuk menghormati Emir Bukhara dan sekaligus menandai bergabungnya Asia Tengah dan Rusia. Peristiwa ini terjadi di era pemerintahan Tsar Aleksandr III. Kekaisaran Rusia sangat menghormati kepentingan komunitas muslim yang saat itu berjumlah lebih dari delapan ribu orang.

Setelah pembangunan masjid selesai, tepatnya tahun 1913, masjid ini pun menjadi tempat ibadah terbesar di Rusia. Dapat menampung lima ribu jemaah, masjid ini dibangun dengan dua menaranya yang menjulang setinggi 49 meter serta kubah yang megah dengan tinggi 39 meter. Kubah masjid St. Peterburg hampir merupakan tiruan tepat dari Mausoleum Guri Amir di Samarkand, Uzbekistan, yang dibangun pada abad ke-15.

Bagi Indonesia, masjid ini punya kenangan tersendiri. Kunjungan Presiden RI Soekarno ke Uni Soviet ternyata berdampak sangat besar bagi masjid ini pada 1956. Saat itu Soekarno menyempatkan diri mampir ke masjid tersebut.  Masjid itu yang awalnya sudah dialih fungsikan sebagai gudang, berkat Presiden Soekarno yang meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya dan permintaan ini disetujui pimpinan Uni Soviet saat itu.

Hingga kini, masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di St Petersburg. Bahkan, setiap Jumat masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengan tempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik.

Masjid Raya Brussels, Belgia
Masjid Raya Brussels, Belgia

Great Mosque of Brussel, Belgia

Great Mosque of Brussels atau Masjid Agung Brussels yang terletak di kawasan elit Komplek Cinquantenaire Park, Brussels, tidak jauh dari markas besar Uni Eropa, merupakan masjid tertua di Belgia. Tak hanya berarsitektur cantik, masjid ini memiliki sejarah yang menarik. Pada awalnya, bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid melainkan sebagai paviliun pameran kebudayaan negeri-negeri timur. Juga pernah difungsikan sebagai gedung eksibisi nasional Belgia, tepatnya di tahun 1879. Kala itu, eksistensi muslim di Belgia belum terlalu dikenal dan diakui.

Tahun 1967, Raja Belgia Baudouin menyewakan secara gratis selama 99 tahun bangunan ini kepada Raja Arab Saudi, Faisal bin Abd al-Aziz, agar menjadi tempat beribadah imigran Muslim yang tinggal di Brussel. Setelah melalui proses renovasi, Masjid Agung Brussel diresmikan pada 1978 di hadapan Raja Khalid bin Abdul Aziz selaku pengganti Raja Faisal dan Raja Baudouin.

Seiring keberadaan komunitas muslim yang makin diterima di Belgia, masjid ini kemudian digunakan sebagai basis Islamic and Cultural Centre Belgium, Organisasi Islam pertama di Belgia. Islam diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah Belgia sejak tahun 1974. Sejak itu pula ajaran-ajaran Islam kian berkembang di sana. Sekolah-sekolah Belgia mulai memasukkan materi pengenalan Islam ke dalam kurikulum resmi sekolah.

Namun, setelah serangkaian teror yang menyerang Brussel pada tahun 2016 lalu  yang menyebabkan 34 orang meninggal, Pemerintah Belgia mengambil alih pengawasan aktivitas masjid ini dari Kerajaan Arab Saudi pada tahun 2018. Kekhawatiran penyebaran paham takfiri menyebabkan Pemerintah Belgia perlu mengantisipasi agar tidak ada lagi serangan yang menewaskan warga sipil. Saat ini Masjid Agung Brussel dikelola Dewan Islam Belgia.

Masjid Hasanah Bolkiah, Filipina
Masjid Hasanal Bolkiah, Filipina

Masjid Sultan Haji Hassanal Bolkiah, Filipina

Masjid Sultan Haji Hassanal Bolkiah yang juga dikenal dengan nama Masjid Agung Cotabato, terletak di Kota Cotabato dan merupakan masjid terbesar di Filipina. Masjid ini terletak di Barangay Kalanganan II di Kota Cotabato dan merupakan masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal Indonesia. Masjid ini dapat menampung 1200 jamaah mencangkup 800 jamaah pria dan 400 jamaah wanita.

Kubah emas dari masjid Sultan Hassanal Bolkiah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang mengunjungi kota Cotabato. Tak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah bagi umat Muslim namun tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata religi untuk Muslim maupun non Muslim .

Ukurannya yang sangat besar dan kemewahannya yang sangat memukau. Kubahnya berlapis emas dengan menara setinggi 40 meter serta luas 5.000 meter persegi. Masjid yang berdiri di area seluas lima hektar ini, menghabiskan dana pembangunan senilai US$ 40 juta. Masjid ini selesai dibangun tahun 2011 lalu. Sebagian dana berasal dari pemerintah Brunei. Masyarakat Filipina sangat menjaga keberadaan masjid ini.  Yah, masjid ini bukan sekadar tempat beribadah umat muslim semata, tapi juga lambang toleransi dengan agama lain di Filipina.(Nil/Berbagai Sumber)