Mengenang Sejarah Kejayaan Kesultanan Gunung Tabur di Museum Batiwakkal

Kerajaan tersebut bernama Berau yang sekarang menjadi sebuah kabupaten di Kalimantan Utara.

Jauh sebelum heboh kerajaan yang akhir-akhir ini viral di media, ternyata di Kalimantan pernah ada sebuah kerajaan yang menguasai hampir separuh pulau tersebut bahkan sampai ke batas Brunei dan Kutai. Kerajaan tersebut bernama Berau yang sekarang menjadi sebuah kabupaten di Kalimantan Utara.

Laiknya kisah-kisah kerajaan di Jawa seperti Mataram yang pecah menjadi kesultanan Jogjakarta dan kasunanan Surakarta, poligami membuat kerajaan Berau terpecah dua menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Raja Berau Aji Dilayas memiliki dua istri yang masing-masing memiliki putra mahkota. Menurut aturan, pengganti Aji Dilayas adalah putra mahkota dari istri pertama. Lalu setelah yang bersangkutan mangkat baru diganti oleh putra mahkota dari istri kedua.

Awalnya Pangeran Tua sebagai putra mahkota dari istri pertama diangkat menggantikan AJi Dilayas yang mangkat. Lalu ketika Pangeran Tua meninggal, Pangeran Dipati sebagai putra mahkota dari istri kedua naik tahta. Namun ternyata Pangeran Dipati melanggar aturan tersebut dengan mengangkat puteranya Aji Kuning menjadi raja. Baru setelah Aji Kuning mangkat, Sultan Hasanuddin yang merupakan putra dari Pangeran Tua naik tahta.

Seringnya aturan tersebut dilanggar akhirnya membuat kerajaan tersebut pecah jadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Jejaknya masih ada di Tanjung Redeb yang merupakan ibukota kabupaten Berau, berupa keraton sekaligus tempat tinggal sultan Gunung Tabur dan keraton sultan Sambaliung. Letaknya berdekatan hanya dipisahkan oleh sungai Segah sebagai pembatas kedua kerajaan.

Saat ini keraton kesultanan Gunung Tabur dijadikan museum bernama Battiwakal, yang berarti usaha masyarakat yang tak kenal henti dalam melaksanakan tugas. Musium tersebut menyimpan benda-benda koleksi yang pernah digunakan oleh keluarga kerajaan pada masa itu. Singgasananya masih lengkap, dan uniknya ada dispenser dari keramik serta timbangan bayi sebagai salah satu koleksinya.

Ada koleksi meriam kuno, senapan, pakaian kebesaran raja, meja dan kursi rapat, kamar ganti wanita, serta pernak pernik lain yang terbuat dari keramik dan kayu. Semua tersimpan rapi dalam beberapa ruangan di dalam bangunan utama. Biasanya ada pemandu yang membantu menjelaskan barang-barang yang menjadi koleksi beserta sejarahnya.

Bangunan utamanya sendiri sempat hancur pada tahun 1945, dan direnovasi kembali sekitar tahun 1990 dan dibuka resmi menjadi museum tahun 1992. Di halaman depan terdapat dua pos yang menyimpan meriam yang digunakan untuk berperang melawan Belanda. Bangunannya sendiri tidak terlalu besar, sehingga cukup sekitar 1-2 jam saja untuk melihat-lihat koleksi di dalam museum. Hanya warnanya cukup unik, kuning setengah tua seperti warna istana kerajaan lain di Kalimantan dan Sumatera.

Dari pusat kota Berau atau Tanjung Redeb, anda bisa menyeberangi sungai dengan ketinting. Kalau takut dengan arus ombak sungai, bisa menyeberang jembatan untuk menuju ke museum. Namun untuk menghemat waktu, sebaiknya menyeberangi sungai karena hanya memakan waktu 3 menit saja, sementara untuk melalui jembatan harus memutar dulu sekitar 10-15 menit untuk sampai di museum. Ongkosnya hanya 5000 Rupiah saja untuk sekali menyeberang dengan ketinting.

Bagi pecinta sejarah, apalagi yang sedang berkunjung ke Derawan, jangan lewatkan obyek wisata yang satu ini. Selain wisata, juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah perkembangan kerajaan di wilayah Kalimantan Timur dan Utara pada masa penjajahan Belanda. Selain museum ini, kunjungi juga keraton Sambaliung yang terletak di seberang sungai Kelay. Keraton ini merupakan pecahan dari kerajaan Berau seperti telah diceritakan di atas.(Diaz/Kuniel)