Napak Tilas ke Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad

Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad selalu viral jelang HUT RI

Napak Tilas Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad
Monumen Kebulatan Tekad, bukti tekad kuat kemerdekaan Indonesia

Setiap tanggal 17 Agustus, kita selalu diingatkan akan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah tentang proklamasi.  Seperti Rumah Rengasdengklok, tempat yang menjadi saksi sejarah besar bagaimana perjuangan proklamasi bisa terwujud, karena Rumah Rengasdengklok merupakan tempat Soekarno dan Bung Hatta disembunyikan.  Dua proklamator ini sengaja diinapkan di rumah ini oleh kaum muda yang mendesak agar Soekarno-Hatta segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia.  Tak jauh dari Rumah Rengasdengklok, terdapat Monumen Kebulatan Tekad, yang melambangkan tekad para pejuang untuk mengusung Indonesia merdeka.

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok merupakan rumah milik Djiaw Kie Siong seorang petani keturunan Tionghoa, karena kawasan ini masih dianggap area yang cukup aman yang masih dalam lindungan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dan jauh dari kekuasaan Jepang. Rumah Rengasdengklok menjadi saksi sejarah bangsa Indonesia, tempat dimana Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda Indonesia.  Para pemuda ini sengaja menyembunyikan kedua proklamator ini dari pengaruh Jepang.  Para pemuda yang tergabung dalam kelompok Menteng 31 ini mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, namun ditolak.  Baru ke esokan harinya Indonesia mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan-nya, itu pun di Jakarta.

Napak Tilas Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad
Rumah Sejarah jelang Proklamasi, Rumah Rengasdengklok

Meskipun proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak jadi dilaksanakan di Rumah Rengasdengklok, namun tempat ini tetap menjadi moment penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Rumah Rengasdengklok berada di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.  Menuju ke lokasi ini Traveler akan melewati jalan yang cukup panjang yang dimanjakan dengan panorama hamparan sawah di kedua sisi jalan, juga akan melewati gang-gang yang cukup sempit.

Dulu, rumah yang ditinggali oleh keluarga Djiaw Kie Song ini berada di sisi tanggul Sungai Citarum.  Lokasinya cukup tersembunyi, sehingga saat itu rumah ini sangat tepat dijadikan tempat persembunyian dua pemimpin bangsa Indonesia ini.  Namun, akibat banjir akhirnya Rumah Rengasdengklok yang asli bergeser dari posisi semula.  Pada tahun 1957, bangunan rumah dipindahkan sekitar 20 meter dari tempat asalnya, sementara saat ini, rumah yang asli sudah terendam air.

Napak Tilas Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad
Salah satu sudut di Rumah Rengasdengklok

Sisa sejarah di rumah bercat hijau masih menyimpan berbagai atribut yang berhubungan dengan kejadian masa lalu ini.  Photo-photo para tokoh yang saat itu terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok juga terpajang rapi, seperti Soekarno, Hattam Wikana, Achmad Soebarjo dan Chaerul Saleh.  Di ruangan lain juga terpajang rapi sejumlah perabotan yang pernah digunakan Soekarno dan Hatta, seperti dipan asli, temepat tidur yang digunakan Bung Hatta, sementara tempat tidur Bung Karno sudah dibawa ke Bandung.  Juga seperangkat meja dan kursi.

Monumen Kebulatan Tekad

Berdirinya Monumen Kebulatan Tekad untuk memperingati peristiwa Rengasdengklok, sekaligus untuk mengenang bekas lokasi markas Pembela Tanah Air (PETA) menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia.  Karena kawasan ini merupakan bangunan yang pernah dijadikan markas tentara PETA (Pembela Tanah Air). Pada monumen ini terdapat bentuk kepalan tangan yang mengartikan sebagai tekad yang kuat, dari pembela tanah air untuk mengusir penjajah serta perjuangan yang solid demi terwujudnya Indonesia merdeka.

Napak Tilas Rumah Rengasdengklok dan Monumen Kebulatan Tekad
Monumen Kebulatan Tekad yang ketaknya di pinggir sungai

Kepalan tangan ini diapit oleh empat bulatan yang melambangkan empat penjuru mata angin.  Pada bagian depan penyangga tangan mengepal, terdapat tulisan Naskah Proklamasi.  Lalu pada sisi bagian belakang monumen, dihiasi oleh relief yang menggambarkan perjuangan proklamasi. Gambar ini menceritakan kisah Soekarno-Hatta saat di Rengasdengklok hingga dikumandangkannya Naskah Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Monumen Kebulatan Tekad yang juga disebut sebagai Tugu Proklamasi Rengasdengklok dibangun pada tahun 1950, yang saat itu menghabiskan biaya sekitar Rp 17.500, yang dikumpulkan dari sumbangan masyarakat dan bantuan pemerintah.  Monumen Kebulatan Tekad terletak di Jalan Raya Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.  Dari pusat Kota Kerawang, berjarak sekitar 20 kilometer. Letak monumen ini tidak begitu jauh dari Rumah Rengasdengklok.(Simple Destination)