Seberkas Asa di Pulau Harapan

Tak banyak yang tahu bahwa, Pulau Harapan memiliki potensi alam yang sangat melimpah. Kekayaan laut dan panoramanya layak dijadikan sandaran hidup masyarakat yang sebagian besar nelayan ini. Sebut saja sektor wisata yang menjadi potensi utama untuk terus dikembangkan. Disisi lain, melimpahnya sumber daya laut dijadikan usaha sampingan masyarakat untuk mengembangkan usaha kerupuk ikan, manisan rumput laut, dan produk ikan asin.  Dengan segala potensi yang ada, sudah selayaknya jika pulau ini disebut sebagai pulau yang penuh warna.

 Pulau Harapan terletak di gugus utara Kepulauan Seribu. Masing-masing terbagi menjadi Kelurahan Pulau Kelapa dan Kelurahan Pulau Harapan, yang masih menjadi satu wilayah dalam Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kedua pulau terhubung oleh jalan ber-paving block, yang dibangun di atas karang yang direklamasi.
Meski bernama Pulau Kelapa, hampir tidak saya temukan pohon kelapa yang tumbuh di pulau ini. Di kedua pulau, vegetasi yang mudah ditemukan di darat adalah pohon ketapang, belimbing, cemara, selain pohon budidaya mangrove. Rumah-rumah berdiri berhimpitan namun tetap tak mengesankan sempit.

Tepat pukul Lima pagi moda transportasi yang saya tumpangi meluncur ke pelabuhan Muara Angke, di sana telah menunggu rekan fotografer dan Munawar dari pihak www.pulauseribu.info sebagai guide saya dan rekan fotografer untuk mengelilingi beberapa pulau yang berada di kepulauan seribu.

Pagi sunyi ‘gak ada burung bernyanyi
Putih embunpun kini telah terkontaminasi
Aku seperti terbang nggak menginjak bumi
Diantara merahnya emosi Jakarta yang s’makin ternodai
Aku disini walau apa yang terjadi sampai aku mati
Tempatku bukan di sini
Jakarta, jakarta pagi ini

Suara lagu dari penyanyi group Slank ini terdengar lirih ditelinga yang berasal dari tape moda yang saya tumpangi, ya Jakarta pagi ini begitu terasa berbeda ketika sampai di Pelabuhan Muara Angke. Hiruk pikuk kegiatan nelayan bercampur dengan para wisatawan yang akan naik kapal Ksatria menuju Pulau Harapan.

Akhirnya kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, angin laut terasa lembut menabrak kulitku, dan jantung inipun mulai terpompa oleh adrenalin saking kegirangannya menghadapi petualangan baru, ya petualangan mengarungi pulau-pulau di Utara Jakarta. Perjalanan dipenuhi pemandangan indah sampah2 yang bersnorkeling ria di permukaan air laut yang untungnya berangsur2 lenyap dari pandangan seiring semakin jauhnya Jakarta. Cuaca saat itupun semakin tidak bersahabat dan benar saja di tengah perjalanan gelombang permukaan laut semakin ganas disertai gerimis.Diatas kapal Ksatria saya sempat berbincang-bincang dengan wisatawan asal Australia yang akan menuju pulau Tidung, “Kenapa kalian berdua memilih kepulauan Seribu untuk berlibur?,”Tanya saya kepada Carl dan Demi, “kami rasa kepulauan Seribu memiliki beberapa pulau yang memang lebih bagus dari pantai di Bali,” ujar kedua gadis ini.

Begitu turun dari dermaga, kami disambut puluhan tukang becak yang menawarkan jasanya. Becak-becak ini saya duga berasal dari Jakarta, yang dilarang digunakan sebagai alat transportasi pada tahun 1994 – meski becak masih bisa ditemukan di sekitar Pasar Muara Angke.
Secara umum  penduduk Pulau Kelapa dan Pulau Harapan lebih ramah, Listrik yang hanya menyala mulai pukul 4 sore hingga 7 pagi, yang dibangkitkan menggunakan generator diesel untuk melayani kedua pulau, tak mengurangi kesan ramai.
Pada sore hari, masyarakat berkumpul di lapangan olah raga yang terletak di pinggir pantai, sekedar bermain bola atau duduk-duduk menikmati senja. Anak-anak pun berlarian ke sana-kemari dan menyapa dengan ceria bahkan minta difoto dan berpose ketika dipotret.

Ya itulah motret kehidupan di pulau Harapan dengan masyarakatnya yang ramah dan kesederhanaan, masyarakat disini pun tetap terus berharap semoga geliat pariwisata dikepulauan Seribu tetap ramai. Semoga…