Wisata di Kota Tua Jakarta

Aura Jakarta tempo doeloe masih sangat membayang.

Museum Bank Indonesia

Tidak pernah bosan rasanya menikmati keindahan Kota Tua Jakarta. Sisa-sisa situs sejarahnya pun masih sangat kental disana. Aura Jakarta tempo doeloe masih sangat membayang, begitu sudut-sudut klasiknya dijamah. Spot-spot yang instagramable begitu banyak, surganya para selfiyer.

Ada apa saja di Kota Tua ini? Yuk intip objek wisata kota tua berikut!

Stasiun Kereta

Stasiun Jakarta Kota atau akrab disebut Beos ini merupakan peninggalan sejarah saat Belanda masih menduduki Indonesia. Dilihat dari sisi arsitekturnya sangat unik, bergaya art deco. Stasiun Jakarta Kota pernah jadi stasiun terbesar di ASEAN dengan 12 jalur kereta dan 13 peron di sisinya.

Stasiun Jakarta Kota telah beroperasi sejak 1873. Saat itu, Stasiun Beos menjadi jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor). Jalur lain yang menjadi tujuan juga, seperti Bekassie (Bekasi), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang). Saat ini sudah beberapa kali direnovasi, tapi keaslian bangunannya tetap dipertahankan. Termasuk jam tua yang sangat kental dengan gaya tempo doeloenya, nuansa kolonial. Lantai dua stasiun tersebut diperuntukan untuk menikmati suasana kereta api dengan arsitektur Stasiun Beos yang unik dan eksotik. Bangunan klasik untuk bagian kantor dan lantai bawah tanah yang diperuntukkan tempat perbelanjaan, gerai makanan dan minuman serta pos penjagaan.

Nah, karena menjadi sebuah peninggalan sejarah, maka stasiun inipun termasuk dalam cagar budaya yang wajib dilindungi.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pada masanya pelabuhan ini memiliki fungsi penting dalam menunjang system perdagangan Indonesia, khususnya Jakarta di zaman dahulu. Hingga sekarang pelabuhan masih aktif digunakan, namun tidak sesibuk pada masanya dulu.

Pelabuhan Sunda Kelapa sudah ada sejak abad ke-5, merupakan pelabuhan yang berada dibawah kepemilikan Kerajaan Tarumanegara. Namun pada abad ke-12 berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Sunda. Aktifitasnya sangat tinggi.

Menara Syahbandar Pelabuhan Sunda Kelapa

Kini, pelabuhan Sunda Kelapa tidak sesibuk saat masa jaya nya. Saat ini hanya melayani jasa untuk kapal antar pulau di Indonesia. Namun mengingat memiliki nilai sejarah yang tinggi, kini pelabuhan ini dialihfungsikan menjadi situs sejarah. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di sekitar wilayah pelabuhan kini dijadikan Museum. Ada beberapa museum di sekitar pelabuhan, seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan lain sebagainya.

Musium Fatahillah

Museum Fatahillah

Di sebut Museum Sejarah Jakarta namun lebih dikenal dengan nama Museum Fatahailah. Museum Fatahillah termasuk salah satu icon kota tua yang tidak boleh terlewatkan.  Museum ini memiliki tiga lantai dengan banyak ruangan yang menyimpan sejarah detil tentang Jakarta. Selain itu, ribuan koleksi benda bersejarah mengenai perkembangan kota Jakarta sejak masih jadi Batavia dan Jayakarta dahulu, ada disini. Di museum ini pengunjung dapat berkunjung ke salah satu ruangan yang merupakan replika dari kamar Pangeran Diponegoro. Untuk ke sana, pengunjung diwajibkan untuk mengganti alas kaki dengan sandal khusus yang telah disediakan. Museum ini buka sejak pukul 08.00 – 17.00 setiap harinya, kecuali libur nasional dan hari Senin. Harga tiket masuk ke sini adalah Rp 5.000 untuk dewasa, Rp 3.000 untuk mahasiswa dan Rp 2.000 untuk pelajar dan anak-anak.

Museum Wayang

Museum Wayang

Museum Wayang terletak tak jauh dari Museum Fatahillah. Dahulu bernama De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda yang dibangun pada tahun 1640. Pada tahun 1732 museum diperbaiki dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk atau Gereja Baru Belanda, dan hancur pada 1808 akibat gempa bumi.

Museum ini menyimpan banyak koleksi wayang dan segala hal yang berhubungan dengan dunia perwayangan. Tak hanya dari Indonesia saja, koleksi wayang di museum ini ada yang berasal dari luar negeri. Koleksi di museum Wayang berjumlah antara 4000 – 6000an buah wayang dan 217 jenis boneka dari seluruh dunia. Koleksi wayang tertua di museum ini berupa Wayang Intan yang dibuat oleh Ki Guna Kerti Wanda pada 1870.

Koleksi museum Wayang mengajak para pengunjungnya untuk mengetahui berbagai karakter dalam budaya Indonesia lewat sejumlah simpanan wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng, wayang beber, wayang kaca, gamelan dan lukisan – lukisan. Berbagai koleksi di museum Wayang yang berasal dari negara luar antara lain dari Thailand, Malaysia, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India dan Kamboja yang bisa dilihat di lantai pertama.

Museum Bahari

Museum Bahari merupakan museum yang menyimpan koleksi yang berkaitan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Lokasi Museum Bahari di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.

Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia serta aneka perlengkapan, cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.

Museum Seni Rupa & Keramik

Bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik ini lebih condong pada arsitektur ala bangunan Romawi. Rancangannya bergaya Neo Klasik dengan delapan tiang besar sebagai penopang. Sedangkan untuk koleksi yang ada pada bangunan ini seputar barang seni rupa dan keramik. Beberapa koleksi tersebut antara lain patung, lukisan, dan barang keramik. Ada sekitar 500 koleksi seni rupa yang di simpan dan di pamerkan di sini. Bahkan beberapa karya seni tersebut juga ada yang berupa karya seni tekstil seperti batik dengan beragam corak dan khas daerah masing masing.

Yah, berbagai koleksi di museum ini sangat beragam. Beberapa yang menarik perhatian adalah lukisan-lulisan karya Hendra Gunawan, Raden Saleh, dan Affandi. Tak hanya itu saja, ada juga beberapa lukisan yang dibuat di atas media kaca yang unik dan menarik untuk dilihat serta beragam keramik. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta ini, memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Kurang lebih sejumlah 1.350 jenis produk keramik ada disini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di Jakarta, terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota). Dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota, yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal yang dipadu pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa, dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia.

Pengunjung yang baru masuk Museum Bank Indonesia harus melalui pintu masuk utama. Di sini, Traveler akan menikmati interior dari sebuah gedung kuno era Belanda. Lalu bisa menitipkan barang di locker room. Di sekitar sini juga ada ruang manajer dan lobi. Di lobi bisa menikmati kaca jendela kuno buatan tahun 1935. Lalu di visitor centre bisa mengakses informasi dan peta museum. (Nil/Berbagai Sumber)