4 Spot Instagramable yang Wajib Anda Dikunjungi di Sembalun

Berada tepat di kaki Gunung Rinjani, Sembalun merupakan desa yang sejuk dengan pemandangan hijau khas daerah dataran tinggi.

Liburan ke Lombok tak melulu harus ke pantai yang ada di Lombok Barat. Anda juga tak harus mendaki Rinjani di Lombok Timur. Jika waktu liburan anda terbatas, anda bisa plesiran ke Sembalun, desa tertinggi yang ada di Lombok. Berada tepat di kaki Gunung Rinjani, Sembalun merupakan desa yang sejuk dengan pemandangan hijau khas daerah dataran tinggi.

Di sini ada beragam destinasi menarik yang layak dikunjungi dan tentu saja sangat Instagramable. Mau tahu destinasi menarik mana saja yang wajib dikunjungi saat ke Sembalun?

Berikut empat rangkuman destinasi instagramable yang ada di pintu gerbang Rinjani. Simak ya!

Taman Wisata Pusuk Sembalun

Sembalun merupakan sebuah kecamatan yang ada di Lombok Timur. Dari pusat Kota Mataram, anda membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam berkendara untuk mencapai Sembalun. Selama perjalanan, anda akan melewati pemukiman penduduk, jalanan berkelok hingga hutan belantara teduh dengan segerombolan monyet yang bercengkrama di sepanjang jalan.

Akhir perjalananmu menuju Sembalun akan ditandai dengan sampainya anda di Taman Wisata Pusuk Sembalun. Sejatinya taman wisata ini mirip gardu pandang. Dari titik ini, anda bisa melihat panorama indah, perpaduan dari pemukiman penduduk yang terlihat di kejauhan, hamparan kebun yang hijau, hutan yang luas hingga bukit-bukit cantik dan tentunya Gunung Rinjani yang megah.

Untuk masuk ke Taman Wisata Pusuk Sembalun ini anda diwajibkan membayar biaya kebersihan sebesar Rp 5.000 per orang. Di sini anda bisa puas berfoto dengan latar belakang panorama Sembalun dan birunya langit Lombok. Di titik ini, anda juga mulai bisa merasakan perpaduan suhu antara panas dari terik matahari dengan dinginnya angin yang berembus khas daerah pegunungan.

Puas berfoto di taman wisata, anda bisa beristirahat sejenak di warung-warung semipermanen yang ada di area ini. Sekadar untuk menikmati secangkir kopi, jajan camilan atau mengganjal perut dengan cilok khas Sembalun.

Agro Wisata Kebun Stroberi

Setelah beranjak dari Taman Wisata Pusuk Sembalun, perjalanan mengarah turun menuju ke daerah pemukiman penduduk dan area perkebunan. Dikaruniai tanah vulkanik yang subur, bercocok tanam merupakan mata pencaharian utama bagi warga Sembalun. Namun, seiring berkembangnya pariwisata di Sembalun, sektor perkebunan juga turut andil dengan munculnya beragam agrowisata. Salah satu yang paling populer adalah wisata petik stroberi.

Di sepanjang jalan utama Sembalun, ada banyak wisata petik stroberi yang dikelola langsung oleh warga. Mereka memanfaatkan beberapa petak kebun stroberinya untuk dijadikan agrowisata. Di sini anda bisa merasakan sensasi memetik buah stroberi langsung dari pohonnya sembari berswafoto.

Setiap wisatawan yang ingin menjajal langsung petik stroberi, akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000. anda bisa bebas memanen stroberi yang sudah matang bahkan bisa mencicipi langsung buah stroberi segar yang baru saja anda petik. Selebihnya, anda bisa membawa pulang stroberi hasil panenanmu sebagai buah tangan.

Harganya pun cukup terjangkau. Satu kilogram stroberi segar yang anda petik sendiri dibandrol seharga Rp 50.000 saja. Namun, jika anda merasa hasil panenmu kurang banyak, anda bisa membeli stroberi di kedai yang ada di area kebun. Stroberi tersebut dijual seharga Rp 25.000 untuk mika ukuran besar dan Rp 5.000 untuk mika ukuran kecil.

Rumah Adat Suku Sasak

Perjalanan bisa anda lanjutkan dengan mengunjungi Rumah Adat Suku Sasak yang ada di daerah Sembalun Bumbung. Lokasinya tak jauh dari sentra kebun stroberi. Rumah adat ini menjadi bukti bahwa Sembalun tak melulu soal wisata alam saja, namun ada juga wisata budaya yang menarik untuk anda ketahui.

Sasak merupakan suku yang dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat Sembalun. Awalnya, suku ini diketahui berasal dari Desa Beleq, lokasinya tak jauh dari Sembalun Bumbung. Awalnya ada tujuh kepala keluarga Suku Sasak yang tinggal di Desa Beleq. Konon berdasarkan cerita para leluhur, sempat terjadi permasalahan di desa tesebut sehingga menyebabkan tiga dari tujuh keluarga tersebut eksodus dari Desa Beleq dan akhirnya menetap di Sembalun Bumbung. Ketiga keluarga tersebut kemudian beranak cucu di Sembalun Bumbung dan meneruskan adat istiadat hingga hari ini.

Namun seiring waktu, rumah adat yang asli akhirnya dipugar oleh masing-masing empunya dan berubah menjadi rumah permanen. Tak ingin peninggalan leluhurnya hilang begitu saja tertelan zaman, Permadisah akhirnya memutuskan untuk membangun replika Rumah Adat Suku Sasak di Desa Sembalun Bumbung.

Ada tiga rumah yang dibangun untuk mewakili tiga kepala keluarga yang dulu datang ke Sembalun Bumbung. Meski bukan rumah adat asli, namun bangunan ini dibuat sama persis, mulai dari bentuk hingga luasnya. Bahkan atapnya juga dibuat dari jerami dan dindingnya berasal dari anyaman bambu.

Semua bentuk dan bagian dari rumah adat tersebut punya makna tersendiri. Misalnya, pintu rumah yang dibuat cukup rendah melambangkan bahwa tamu yang masuk harus menundukkan badan sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah.

Selain berfoto di depan rumah adat, anda juga diperbolehkan masuk untuk melihat bagian dalam rumah. Isinya cukup sederhana dan bisa menggambarkan kondisi awal mula peradaban di Sembalun saat ratusan tahun yang lalu.
Selesai berfoto, jangan lupa untuk memberikan uang seikhlasnya di kotak yang disediakan ya!

Bukit Pergasingan

Setelah merasakan wisata budaya di Sembalun Bumbung, anda bisa melanjutkan perjalanan ke Sembalun Lawang. Desa ini terkenal sebagai titik awal pendakian ke Gunung Rinjani. Namun, sejatinya desa ini juga punya destinasi menarik lainnya. Di sini anda bisa mendaki ke bukit yang tengah hits seantaro jagad sosial media yaitu Bukit Pergasingan.

Namun sebelum melakukan pendakian, ada baiknya anda menginap satu hari dulu di geohomestay yang ada di Sembalun Lawang. Sebab untuk mendaki ke Bukit Pergasingan anda membutuhkan kondisi tubuh yang fit dan sehat. Tiket masuk untuk mendaki ke bukit Pergasingan dibandrol seharga Rp 10.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 50.000 untuk wisatawan asing. Agar pendakianmu aman dan lancar, disarankan anda mengajak guide atau porter sebagai penunjuk jalan. Biaya jasa porter atau guide dipatok mulai dari Rp 200 ribu, tergantung dari berapa banyak barang yang ingin anda bawa.

Bagi anda pecinta sunrise, anda bisa memulai pendakian sejak pukul 03.00 dini hari sebab pendakian membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Nah, Bukit Pergasingan ini jadi booming karena treknya yang cukup menantang. Untuk ukuran bukit, Pergasingan punya beberapa titik trek ekstrem, meskipun tak seekstrem jalur pendakian di Rinjani.

anda harus ekstra hati-hati agar tak tergelincir dan tidak kepayahan sebelum mencapai puncak. Setelah melewati lebih dari setengah perjalanan, anda akan menjumpai bonus trek, alias trek landai sehingga anda tak perlu lagi mendaki, hanya berjalan biasa di punggung bukit. Seperempat trek terakhir, anda akan menemui kembali trek yang cukup terjal, berbatu dan penuh tanah berdebu.

Namun, semua lelah karena pendakian tersebut akan terbayar saat anda mencapai puncak tepat sesaat sebelum matahari menyingsing. Dari ketinggian 1.700 meter dpl ini anda bisa melihat dengan jelas dan melepas rindu kepada Gunung Rinjani yang megah.

anda juga bisa melihat luasnya Sembalun dan bukit-bukit lain yang mengelilinginya. Ditambah momen matahari terbit yang syahdu berpadu dengan udara dataran tinggi yang cukup dingin akan semakin membuat liburanmu berkesan.
Jangan lupa, siapkan kamera dan abadikan momen ini dalam jepretan foto dan unggah di media sosialmu ya!