Pesona Danau Tondano, Monas Mini, dan Masjid Kyai Mojo

Danau yang melegenda.

Manado atau Sulawesi Utara tak hanya identik dengan Bunaken saja, tapi juga ada Danau Tondano yang merupakan danau terluas di Sulawesi Utara dengan luas area 42,78 km2. Danau ini terletak sekitar 5 kilometer dari pusat kota Tondano atau 40 kilometer dari kota Manado. Walau terletak di kaki gunung berapi, danau Tondano bukanlah kawah seperti Kelimutu atau Bromo melainkan air tawar seperti Danau Toba atau Maninjau.

Menurut legenda konon Danau Tondano terbentuk karena letusan Gunung Kaweng akibat kemurkaannya pada sepasang pemuda pemudi yang kabur masuk hutan. Sepasang kekasih tersebut melarikan diri karena hubungan mereka tidak direstui kedua orang tua. Muntahan letusan gunung tersebut membuat kubangan besar menjadi sebuah danau.

Danau Tondano sendiri merupakan penghasil ikan tawar, terbukti dengan banyaknya keramba di tepi danau. Di tepi danau juga terdapat beberapa tempat wisata, restoran, dan penginapan bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam pegunungan yang masih alami. Suhu di sekitar Danau Tondano cukup dingin karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.

Tak jauh dari danau terletak kota Tondano yang merupakan ibukota Kabupaten Minahasa sebagai salah satu kabupaten tertua di Sulawesi Utara. Kotanya sendiri tidak terlalu besar, mungkin masih lebih besar Sumedang atau Garut, namun hawanya sejuk karena berada di kaki Gunung Tondano.

Di antara kota dan Danau Tondano terdapat reruntuhan Benteng Moraya yang merupakan simbol perlawanan kerajaan Minahasa terhadap penjajah Belanda. Sekarang benteng tersebut menjadi salah satu tempat selfie yang instagrammable dengan latar belakang pemandangan gunung Kaweng. Sementara di sisi lain terdapat beberapa rumah peristirahatan di tengah rawa sekitar danau.

Tondano dulu dikenal sebagai tempat peristirahatan orang Belanda yang bekerja di Manado, seperti puncaknya Jakarta. Di sini juga merupakan tempat pembuangan Kyai Mojo dan pengikutnya usai perang Diponegoro tahun 1830. Mereka menikah dengan wanita asal Tondano karena hanya laki-laki saja yang diasingkan. Setelah beranak pinak akhirnya terbentuk klan tersendiri yang dikenal dengan istilah Jaton atau singkatan dari Jawa Tondano.

Uniknya kota ini justru dibangun oleh Inggris yang memenangkan perang atas Perancis di Eropa, sehingga Belanda yang merupakan sekutu Perancis harus menyerahkan jajahannya pada Inggris termasuk Tondano. Gubernur Jenderal Raffles yang berkuasa mengutus Letnan Thomas Nelson untuk membangun kota di tepi sungai Tondano. Bentuk tata ruangnya terasa sekali gaya Inggris yaitu berupa grid petak-petak yang teratur.

Landmark kota ini adalah tugu Monas mini di perempatan alun-alun. Tugu tersebut merupakan titik nol pusat kota Tondano karena di depan alun-alun terdapat kantor bupati dan di seberangnya merupakan pasar lama yang menjadi pusat perdagangan. Selain itu tugu tersebut merupakan penanda masuk kota Tondano dari arah Tomohon. Tingginya sekitar 15 meter dan usianya sudah cukup tua karena diresmikan oleh Gubernur Sulut saat itu HV Worang pada tanggal 17 Agustus 1975.

Tak jauh dari pusat kota terdapat masjid Al Falah Kyai Mojo yang dibangun sekitar tahun 1856 sebagai tempat shalat para pengikut Kyai Mojo. Awalnya hanya berbentuk musola dari kayu hingga empat kali renovasi menjadi bangunan seperti bentuk yang ada sekarang ini. Letaknya berada di tengah-tengah perkampungan Jawa Tondano dan masih digunakan hingga saat ini.

Masjid ini merupakan saksi sejarah keberadaan orang Jawa yang berasimilasi dengan penduduk setempat. Tak ada lagi bahasa Jawa yang digunakan di kampung tersebut karena sudah benar-benar menyatu dengan tanah Tondano. Logatnyapun sudah seperti orang Sulawesi pada umumnya, hanya raut wajahnya saja yang masih menampakkan sebagian darahnya berasal dari Jawa.

Walau tidak termasuk dalam pengembangan 10 Bali baru Indonesia, wisata di Tondano cukup lengkap seperti telah diuraikan di atas. Ada wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah dan budaya, serta tempat beristirahat untuk kontemplasi sejenak menjauh dari kepenatan kota Manado. Bagi yang sedang bertugas di Manado, jangan lupa mampir ke Tondano.

Untuk menuju Tondano terdapat angkutan umum bis kecil dari Manado. Namun disarankan untuk menyewa kendaraan karena agak sulit mencari angkutan umum dari kota Tondano menuju Danau Tondano. Lagipula angkutan umum hanya beroperasi sampai sore hari sehingga sulit untuk kembali ke Manado pada malam hari selain menginap di Tondano.(Diaz/Kuniel)