Uniknya Jembatan Khusus Pejalan Kaki Gentala Arasy

Untuk menghubungkan kedua sisi sungai diperlukan jembatan sehingga mempermudah interaksi warga dengan dunia luar.

Sumatera memiliki banyak sungai besar dan lebar seperti halnya Kalimantan, salah satunya adalah Sungai Batanghari yang melintasi kota Jambi. Sungai tersebut merupakan urat nadi kehidupan sekaligus perekonomian bagi masyarakat yang tinggal di pesisirnya. Untuk menghubungkan kedua sisi sungai diperlukan jembatan sehingga mempermudah interaksi warga dengan dunia luar.

Sebelum ada jembatan, kedua sisi sungai dihubungkan dengan perahu atau speed boat untuk mengangkut orang dan barang kecil, atau kapal ferry untuk menyeberangkan kendaraan seperti di Kapuas atau Ambon. Demikian pula dengan Kota Jambi yang kedua sisinya dipisahkan oleh Sungai Batanghari.

Di seberang sungai dekat Pasar Angso Duo terdapat perkampungan tradisional yang menjadi salah satu obyek wisata andalan Kota Jambi. Namun selama ini untuk menuju ke perkampungan tersebut harus menggunakan perahu menyeberangi sungai. Seiring dengan semakin banyaknya wisatawan akhirnya dibangunlah sebuah jembatan untuk memudahkan pengunjung maupun warga setempat melintasi sungai yang kadang tidak bisa dilewati karena angin yang cukup besar.

Jembatan tersebut dinamai Gentala Arasy yang berarti bunyi (Genta) yang selaras (Tala) menembus langit (Arasy). Sebenarnya nama asli jembatan ini adalah Titian Arasy atau jembatan surga, dan nama Gentala Arasy sendiri merupakan nama sebuah menara merangkap musium yang dibangun di perkampungan tersebut. Musium itu sendiri bercerita tentang sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi.

Sementara menaranya sendiri merupakan petunjuk sholat karena terdapat jam di keempat sisinya disambungkan dengan suara azan dari masjid agung Jambi. Tersedia lift bagi yang ingin naik ke atas menara untuk menikmati pemandangan kota Jambi dan indahnya sungai Batanghari.

Jembatan ini memiliki panjang 530 meter dengan lebar 4,5 meter. Modelnya jembatan gantung dengan dua tiang penyangga setinggi 60 meter di kedua sisinya. Jembatan ini dibangun dengan biaya 80 Milyar Rupiah selama tiga tahun anggaran mulai 2012-2014 dan diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla pada tanggal 28 Maret 2015.

Jembatan ini unik, karena dibangun hanya untuk pejalan kaki dan merupakan jembatan khusus pejalan kaki terbesar di Indonesia. Kadang-kadang ada juga sepeda motor yang lewat, namun sangat jarang karena dapat mengganggu aktivitas pejalan kaki yang ingin menikmati keindahan Sungai Batanghari. Keunikan lainnya adalah bentuk jembatannya yang tidak lurus serta tak lazim namun meliuk-liuk seperti menggambarkan huruf S.

Waktu yang tepat untuk berkunjung ke sini adalah pagi hari atau sore hari saat matahari mulai terbit atau terbenam. Kalau malam hari terdapat wisata kuliner di sisi selatan jembatan, serta lampu warna warni beserta kelap kelipnya yang menghiasi jembatan. Di beberapa titik juga terdapat spot untuk berfoto membuat tempat ini sangat instagrammable.

Pengunjung bebas menikmati jembatan ini tanpa dipungut biaya apapun. Hanya harus hati-hati apalagi ketika suasana sedang ramai. Untuk menuju ke sini bisa naik kendaraan umum tujuan pasar Angso Duo, lalu jalan sedikit melewati pusat perbelanjaan terbesar di Jambi. Sementara bagi yang membawa kendaraan pribadi bisa parkir di pusat perbelanjaan atau di tepi jalan arah ke timur dari jembatan tersebut.(Diaz/Kuniel)