Menjaga Kebudayaan Kampung Adat Sumba

Sungguh sangat unik dan mempesona.

Kemajuan zaman yang semakin canggih, tidak membuat Sumba menghilangkan budayanya. Bahkan, Sumba masih sangat menjaga budayanya yang khas dan kental, terutama rumah adat di kampung Kodi dan Prai Ijing yang sungguh sangat mempesona.

Kampung adat yang terletak di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Nusa Tenggara Timur ini menyimpan banyak cerita, terutama tentang rumah adatnya. Bentuk rumah adatnya sangat unik dan memiliki makna tersendiri. Rumah adat di kampung Kodi ini terbagi menjadi tiga bagian. Di bagian bawah adalah Lei Bangun yang digunakan untuk hewan ternak, bagian tengah adalah Rongu Uma yang digunakan masyarakat Sumba untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bagian atas rumah adat merupakan menara, atau Uma Daluku yang digunakan untuk tempat menyimpan bahan makan dan alat pusaka.

Di depan rumah-rumah unik ini, tidak sedikit yang membuat makam keluarga, yang sudah ada sejak zaman dahulu. Selain makam keluarga, juga terkadang tempat ini dijadikan area bermain oleh anak-anak. Di dalam rumah adat ini, ditopang oleh empat tiang yang diyakini oleh penduduk setempat bahwa Marapu menyaksikan dan bersemayam di dalamnya.

Marapu adalah arwah-arwah leluhur yang memiliki arti ‘yang dipertuan’ atau ‘yang dimuliakan’. Menara yang ada di dalam rumah ini menjadi hal yang krusial dan mendapat perlakuan khusus.

Begitu juga dengan kampung adat Prai Ijing. Ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan di kampung adat Prai Ijing ini. Mulai dari rumah adat yang biasa mereka sebut dengan Uma Bokulu yang berarti rumah besar, dan Uma Mbatangu berarti rumah menara. Seperti di kampung Kodi, bentuk dan fungsi rumah adat di kampung Prai Ijing ini sama dan serupa. Yuk ah berbagi cerita keseruannya ini di sosial media seperti di instagram atau facebook. Gunakan XL atau Axis yang jaringan internetnya stabil. Click disini untuk memastikan jaringan daerahmu sudah terjangkau XL Axiata 4.5G.

Meskipun keduanya sering didatangi para wisatawan, namun aktivitas masyarakat setempat tetap berjalan apa adanya. Dari bertani, berkebun, dan anak-anak yang masih bebas bermain sesuka hati, hingga perempuan yang menenun kain Sumba yang cantik.  Tak heran, ketika ada wisatawan yang datang ke kampung mereka disaat mereka sedang berkebun, tanpa merasa terusik dengan kehadiran para wisatawan ini, mereka tetap bekerja di kebun.

Kain tenun khas Sumba yang sudah dibuat, biasa dipakai sehari-hari terutama untuk upacara adat. Namun tak jarang pula dibeli oleh para wisatawan sebagai cinderamata dengan harga Rp300.000 – Rp6.000.000 tergantung dengan bahan, motif, dan tingkat kesulitannya.

Kampung adat Prai Ijing ini berjarak 3km dari kota Waikabubak dan aksesnya mudah dijangkau. Kampung yang terkenal dengan kampung terpanjang di Kabupaten Sumba Barat memiliki 20 rumah adat dengan 6 rumah adat inti. #JaringanInternetStabil #Fiberisasi